Lagi-lagi mangkuk yang sedang ku bawa hampir terjatuh dari tanganku. Jantungku jatuh menukik terlebih dahulu, meninggalkan tubuhku yang membeku. Aku berharap penglihatanku rusak. Aku berharap mataku salah. Dia… tidak lagi di atas ranjang, melainkan tersungkur di lantai, berantakan. Perban di bahunya terurai, cairan merah merembes keluar dari lukanya. Ada sesuatu bergerak di belakangnya. Bayangan yang tidak seharusnya ada di ruangan kecil itu. Saat siluet itu menjadi jelas, jantungku berhenti. Veyra. Tangannya yang pucat menekan dagu gadis itu, memaksa wajahnya terangkat. Wajah itu... kosong. Seperti boneka tak bernyawa, dipamerkan ke hadapanku. Aku tidak langsung bereaksi. Rasanya seluruh udara di ruangan tersedot keluar, tubuhku terjepit di antara dua detak jantung yang tidak kunjung

