Aku segera menjatuhkan mangkuk sup ke atas meja, isinya tumpah berceceran tanpa kupedulikan. Lututku menghantam lantai saat aku mencoba meraih tubuh rapuh itu kedalam pelukanku. Gerakanku terhenti setengah jalan. Aku takut sentuhanku akan melukainya. "Tidak... tidak..." suaraku pecah di udara yang dingin. "Sialan... lihat apa yang dia lakukan padamu..." Sosoknya begitu rapuh. Terlalu kosong. Napasnya nyaris tak lihat. Darah masih merembes dari bahunya, menodai kulitnya yang pucat. Tanganku gemetar. Aku mencoba merapikan bajunya, menyibakkan helaian rambut yang kusut oleh jambakan Veyra tadi. Tapi jari-jariku bergetar terlalu keras, seolah tidak lagi milikku. "Aku terlambat..." bisikku di sela napas yang memburu. "Bahkan cuma sebentar aku meninggalkanmu, dan dia..." Kata-kataku mati d

