Aku meletakkan mangkuk bubur di meja kecil sisi ranjang, bersama kotak kayu berisi ramuan dan perban yang kubawa dari ruang simpananku. Tapi jemariku… terlalu kaku. Suara sendok bergetar ringan saat kuturunkan, hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa kendaliku belum kembali sepenuhnya. Aroma hangat bubur bercampur dengan bau getir ramuan, memenuhi udara tipis malam itu. Sedikit menenangkan ku, mengingatkanku bahwa disini hanya ada aku dan gadis bisu ini. Gadis itu duduk di ranjang, membelakangi dinding, kedua lututnya tertekuk dekat d**a. Ia tidak menoleh saat aku masuk. Tidak ada kata. Tidak ada senyum. hanya mata itu, kosong. Aku mendekat perlahan. Bergeser naik keatas kasur. "Aku... harus mengobati lukamu," suaraku pelan, serak. Aku menunduk sedikit agar matany

