Dapur itu lebih terawat dari yang kuduga. Peralatan masih rapi tergantung di dinding, panci besar berkilau samar meski berdebu, dan tungku batu masih menyisakan batu bara. Sejenak aku bertanya-tanya siapa yang menjaga semua ini. Lalu teringat, beberapa hari lalu ada pelayan yang masih kulihat mondar-mandir. Kini, tak ada jejak mereka. Sunyi. Sudah dilenyapkan olehnya, pikirku, rahangku mengeras. Aku membuka lemari kayu di sudut ruangan. Engselnya berderit pelan. Di dalamnya tersusun karung kecil berisi biji-bijian kering, beberapa umbi kentang tua, dan sepotong daging asap yang mulai menghitam. Tak banyak, tapi cukup untuk dimasak malam ini. Aku mengumpulkan semuanya di meja kayu, lalu menelusuri rak atas. Botol-botol kaca kecil berjejer, sebagian berdebu, sebagian retak tapi masih ter

