Chapter 21 - Defiance

2290 Kata

Aku membawanya keluar dari pinggiran kolam yang basah oleh embun pagi. Rumput liar yang menggesek kulitku terasa seperti bisikan sisa dosa yang menolak hilang dari tubuhku. Setiap langkah di taman musim semi ini seakan menggoreskan luka baru. Bunga-bunga kecil bermekaran, seolah dunia masih mampu bernafas dan tumbuh sementara aku menyeret bayanganku sendiri. Ruangan itu dulunya tempat tidur para pelayan, dengan ranjang-ranjang sederhana berderet di bawah jendela yang kini berdebu, dinding batu yang dingin dihiasi lukisan pudar tentang laut dan kapal. Para pelayan itu, semuanya, telah lenyap. Aku yang mengakhiri hidup mereka atas titahnya. Sisanya, dia sendiri yang menghapus, seolah nyawa itu tak pernah berarti. Menjadikan ruangan ini seperti makam, penuh bayang-bayang kenangan buruk. Ki

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN