Aku mengerjap, terbangun perlahan, menyadari tubuhku masih terbaring di lantai batu yang dingin. Di ruang gelap yang dipenuhi kelembaban dan bau lumut. Cahaya pagi merembes masuk dari celah dinding retak, memantulkan warna keemasan pucat di lantai yang kasar. Ada berat lembut di dadaku. Hangat, berbanding terbalik dengan dinginnya udara yang menusuk tulang. Sesuatu yang tak seharusnya ada di tempat seperti ini. Aku menunduk, dan mataku menangkap sosok itu. Siren. Meringkuk di atasku dengan nafas yang tenang, hampir tak terdengar. Seolah-olah dunia tak lagi bisa menjangkau mimpinya. Rambut abu-abu kusamnya menjuntai dan menutupi sebagian wajah pucatnya, sebagian menempel di kulitku yang dingin. menciptakan kontras yang aneh. Tidak wajar. Tidak nyaman. Namun anehnya tidak ingin kuhilang

