Chapter 19 - Tears

2167 Kata

Air menyelimuti tubuhku perlahan. Dingin menelusup kulit, tapi tak lagi menyakitkan. Aku mengira paru-paruku akan pecah, tapi ternyata tidak. Dadaku yang biasanya sesak... kali ini tenang. Aku bisa bernapas di dalam sini, seakan tubuhku memang diciptakan untuk air. Aku tidak tahu kenapa, dan aku juga tidak peduli alasannya. Aku membiarkan diriku tenggelam. Perlahan, hingga dasar kolam menyambut tubuhku yang ringan, seakan semua berat di dunia diangkat dari pundakku. Rambutku melayang bebas, kain tipis di tubuhku menari bersama arus kecil. Rasanya aneh... Tidak ada teriakan. Tidak ada tangan yang menahan. Tidak ada rasa sakit yang dipaksa masuk. Hanya aku... sunyi. Mataku terpejam, dan di sana aku melihat Mama. Aku menatapnya seperti dalam mimpi yang rapuh. Ia berdiri di tepi tebing,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN