Sudah dua minggu setelah kejadian di rumah Ray. Sekarang mereka bekerja seperti biasa, Moya lebih sering menetap di kantor, sedangkan Yuan mendampingi Ray kemanapun ia pergi.
"Sayang ,malam ini ada pesta bersama klien. Aku akan menjemputmu jam tujuh",
" Okay,Boss ", sambil menggoda Ray dengan mengedipkan mata
Moya menjadi penyemangat Ray semenjak mereka menjadi sepasang kekasih.
***
Malamnya, Ray sudah siap di depan Apartement Moya dengan setelan Jas hitam. Sedangkan Moya nampak cantik dengan dress sabrina berwarna pink dust. Ray nampak terpesona dengan penampilan Moya malam ini.
" Cantik ", bisik Ray di telinga Moya, membuat wajah Moya merona.
Mereka pergi ke pesta yang di adakan oleh salah satu Klien Ray. Tampatnya di sebuah Hotel Bintang, semua pengusaha datang termasuk Ayah Moya. Kali ini Moya nampak tenang bertemu ayahnya karena ia tau Ayahnya tak akan mengganggunya. Ray menyapa tuan rumah pesta tersebut, dan mengenalkan Moya sebagai kekasihnya. Mereka saling berbincang membahas tender yang akan datang dan beberapa bisnis yang mereka miliki.
" Sayang, aku menyapa Presdir Eliot dulu. Apa kau ingin ikut? ", ajak Ray
" Tidak sayang, aku akan menyapa temanku disana. Sepertinya ia datang dengan kekasihnya",
" Baiklah, aku akan menemuimu segera",
" Jangan khawatir, aku tak akan menghilang Ray!",
Moya menghampiri temannya (Airin) yang beberapa waktu lalu menangis karena sedang hamil entah anak siapa, dan sekarang ia menggandeng pengusaha muda.
"Hi girl, how are you!?", sapa Moya pada Airin
" Moya!!, senang bertemu denganmu!. Apa kau datang dengan Boss mu?",
"Tentunya, hmm sepertinya kamu sudah menemukan kebahagiaan ya?",
" Ah Moy ,kenalin ini Daniel tunanganku. Dan kami akan menikah minggu depan. Undangan menyusul ya Say! ",
" Congratulations Ai.... ", Moya memeluk Airin
Moya melihat Ray masih sibuk dengan beberapa rekan kerjanya di sisi lain. Airin sudah pergi bersama tunangannya, tinggal Moya sendiri didekat meja kudapan. Moya sangat suka camilan yang disediakan ,tanpa sadar ia sudah makan banyak disana.
Moya berjalan kearah kamar mandi, ia tak sadar kalau sedang di buntuti seseorang. Saat di kamar mandi seseorang menguncinya didalam toilet. Moya masih bersantai di toilet hendak membenahi make upnya. Namun disaat yg sama seseorang memukul kepalanya hingga ia tak sadarkan diri, lalu orang itu membawa Moya pergi.
Ray melihat kesetiap sudut di Ballroom ,ia mencari keberadaan Moya disana namun nihil. Ray mulai khawatir, ia menghampiri Presdir Eliot dan menanyakan padanya tentang Moya. Eliot pun tak tau dimana Moya, sekarang mereka menyuruh orangnya memeriksa disetiap sudut hotel. Seorang pengawal Ray membisikkan kepadanya untuk melihat CCTV. Ray pergi dengan Eliot ke ruang CCTV, mereka ditemani Klien yang mengadakan acara itu.
"Demi Tuhan dimana kamu ,sayang", gumam Ray khawatir
" Tenanglah Ray, Moya anak yg kuat dan cerdik. Kita lihat siapa yang berani menantang kita", ujar Eliot
CCTV melihat Moya didekat meja kudapan, lalu mengikuti Moya kearah toilet dan disana juga ada seorang perempuan dan laki-laki yang masuk kedalam toilet itu. Ray sangat geram karena yang masuk adalah Airin dan Tunangannya. Benar saja, CCTV itu juga melihat mereka membawa Moya dalam keadaan pingsan menuju lantai atas hotel, namun sayangnya setelah itu CCTV kehilangan mereka. Ray menyuruh petugas CCTV itu untuk mencari di setiap sudut CCTV, namun nihil. Sepertinya yang membawa Moya sangat mengerti situasi hotel itu, sehingga mereka bisa lolos.
" Aaaarrrggghhh! cepat geledah setiap kamar di Hotel ini!!! panggil semuanya untuk ikut membantu! Cepat !!! ", teriak Ray yang sudah sangat panas
" Ray, setelah kau mendapatkan kedua orang itu ,bawa mereka padaku! ",
" Baik ,paman!",
Diruangan lain. Moya tersadar dari pingsannya, ia merasa sangat pusing. Moya melihat kesekelilingnya, itu adalah kamar hotel eksklusif yang memang tidak akan ada CCTV disana. Moya melihat samar ada lelaki disana, ia ingin bergerak namun tangan dan kakinya diikat. Ia hanya bisa menggeliat di atas ranjang, Moya nampak takut saat itu seperti kembali ke masa lalunya.
"Kau siapa?, lepaskan aku! apa yang kalian inginkan?",
" Maaf Moya ,kau harus jadi tahananku karena kesalahan Ayahmu! ",
Suara yang sangat Moya kenal, itu adalah sahabatnya Airin. Mata Moya terbelalak kaget dan tak percaya, ia berharap itu hanya mimpi namun tidak. Airin mendekat dan membantu Moya duduk, Moya menitihkan air matanya.
" Kenapa Ai?, memang apa salah Ayahku? ", tanya Moya
" Kau tau kejadian saat kau masih kecil?, kau pernah di culik dan penculik itu mati ditembak oleh ayahmu!, kau tau betapa aku sangat berharap kedatangannya saat itu?!, itu Ayahku Moy!! Ayahku!!, dan aku baru saja tau kejadian itu beberapa minggu lalu!, dan sekarang aku akan membunuhmu, Moy!!. Agar ayahmu tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang ia cintai!, Kau tau berapa lama aku menderita karena Ayahmu ,Moy?! Kau tak akan tau itu!!",
"Tidak Ai, jangan begitu! ini bisa di selesaikan dengan kepala dingin Ai!, kumohon jangan seperti ini!!",
" Diam kamu Moy!!, aku tidak berencana membunuhmu sekarang, namun aku akan menyiksamu terlebih dahulu!! ",
" Daniel !!, perkosa dia!! koyak seluruh tubuhnya!! nikmati setiap sentuhanmu!! Aku ada di ruang tamu menikmati live nya dari kamera itu ",
Moya menggelengkan kepalanya, kali ini ia sangat takut. Moya mencoba berteriak meminta tolong, namun sayangnya kamar itu kedap suara. Daniel meluncurkan aksinya, ia mengunci pintu dan membuka ikatan tangan dan kaki Moya. Moya berusaha berontak namun badan Daniel lebih besar darinya. Daniel memegang tangan Moya, mengikat tangannya dan mengikatnya di setiap sudut ranjang. Moya menangis dan berteriak terus, ia tak ingin badannya di jamah lelaki lain selain Ray.
Dress Moya di koyak hingga Moya hanya memakai celana dalam saja. Daniel mencium Moya namun Moya terus melawan dan akhirnya Daniel menampar pipi moya. Daniel melepas sabuk di celananya, ia memukul tubuh Moya dengan sabuk itu. Moya berteriak kesakitan, ternyata Daniel memang suka bermain kasar. Daniel tak peduli dengan teriakan Moya, justru itu membuatnya bersemangat menjamah tubuh Moya. Sekarang Daniel berada di selakangan Moya, Ia mengeluarkan dildo (mainan Seks) dan mengoyak liang v****a Moya. Moya merasakan sakit dan nikmat yang tak ingin ia rasakan saat itu. Daniel berulang kali memainkan dildonya di v****a Moya, membuat Moya lemas dan tak bertenaga lagi. Kesempatan untuk Daniel yang siap menyerang v****a Moya dengan kejantanannya. Moya menggeleng lemas dan hanya bisa diam pasrah. Ia merasakan kejantanan milik Daniel masuk kedalam vaginanya yang masih sempit itu. Daniel mendesah keenakan disana, ia melakukan in out dengan kasar pada Moya ,hingga akhirnya seseorang menembak Daniel dari belakang. Tubuh Daniel jatuh di atas Moya yang sekarang tak sadarkan diri.
Ketakutan yang luar biasa kini menghampiri Airin, ia hanya bisa terdiam kaku melihat apa yang terjadi didepannya. Seluruh keamanan di kerahkan untuk menangani area itu dab mengamankan semuanya.