Ray menembak mati Daniel disana, ia sangat marah melihat tubuh Moya yang dikoyak seperti binatang. Ray membuang tubuh Daniel, dan melepaskan ikatan Moya. Wajah Ray memerah melihat wanitanya penuh luka cambukan dan memar di wajahnya. Ray memakaikan jasnya untuk menutupi tubuh Moya, dan menggendongnya pergi dari kamar terkutuk itu. Kini mereka dalam perjalanan kerumah sakit.
Sepanjang perjalanan Ray tak melepaskan Moya barang sedetikpun. Ia terus meciumi Moya berharap wanitanya itu sadar dan membuka matanya. Raut wajah Moya memperlihatkan ekspresi kesakitan yang membuat Ray menitihkan air mata. Ray sangat takut kehilangan Moya untuk kedua kalinya, ia tak ingin wanitanya itu pergi darinya.
Disisi lain, kini nasib Airin berada di tangan Eliot yang juga marah melihat kondisi terakhir anaknya yang tak sadarkan diri. Ia membawa Airin ketempatnya, dan meminta penjelasan atas sikapnya itu. Karena Eliot tau bahwa Airin salah satu teman baik Moya. Airin kini hanya menangis dan tidak menjelaskan apapun. Ia hanya pasrah jika Eliot harus membunuhnya, karena ia sudah tak ingin hidup dalam kesendirian. Eliot menjelaskan pada Airin bahwa selama ini anaknya selalu ada untuknya , namun Airin baru sadar bahwa memang benar adanya. Eliot menyuruh pengawalnya membawa Airin pergi, membalas setiap perbuatannya pada Moya. Kini Airin menjadi mangsa para lelaki hidung belang yang siap mengoyak tubuhnya, dan setelah itu Airin tiada, ia mengalami pendarahan hebat saat tubuhnya dibuat bergilir oleh 5 lelaki sekaligus.
***
Rayhan menunggu Moya yang sedang di periksa dokter di ruang tunggu UGD. Tubuh Moya di bersihkan dan di obati, namun Moya tak kunjung sadar. Dokter keluar dari ruang periksa, Rayhan berlari untuk memastikan wanitanya baik-baik saja.
"Bagaimana kondisinya? Momo tidak apa-apakan?", tanya Ray panik
"Luka luarnya sudah kami obati, termasuk luka pada kelaminnya. Hanya saja kemungkinan kondisi mentalnya akan sedikit mengalami trauma. Dan itu tidak bisa di pastikan sebelum ia sadar, kita akan lihat bagaimana perkembangannya, pasien akan dipindahkan ke ruang inap. Silahkan masuk untuk menemui pasien", jelas Dokter
Ray masuk kedalam ruang periksa, ia sangat terpukul dengan kondisi Moya saat ini. Tangan Miya terasa dingin dalam genggaman Ray. Tidak ada pergerakan sama sekali, hanya nafas Moya yang terdengar.
" Mo, bangun dong. Ini aku Ray teman masa kecilmu!, aku akan jelaskan semua padamu, Mo. Aku mohon, bangunlah Mo!!", ucap Ray sambil terisak
Tak ada balasan dari Moya, namun deteksi jantung Moya mulai rancau, Ray berlari memanggil dokter. Dokter datang dan memeriksa Moya, Ray panik dengan keadaan saat itu.
'Please Mo, jangan tinggalin aku lagi! ,aku janji akan jaga kamu ,Mo!', batin Ray
"Pindahkan pasien ke ruang ICU sekarang!", Dokter sibuk dengan alat-alat yang akan dipasang ketubuh Moya, Ray hanya terbelalak dengan semua yang dilakukan dokter.
" Moya kenapa? dia kenapa dok? kenapa masuk ICU?!",
" Pasien Koma ,ada bekas pukulan di tengkuk kepalanya. Kemungkinan itu yang membuat kondisi pasien drop!, permisi saya harus segera menangani pasien sebelum terlambat",
Ray terduduk lemas, ia tak menyangka kondisi Moya akan seburuk ini. Ayah Moya datang menghampiri Ray, melihat kondisi Ray yang kalut ia mengerti kondisi anaknya saat ini.
"Ray, sabar!. Moya anak yang kuat! Kau harus yakin padanya! Jaga dia Ray! ",
" Paman, maafkan aku lalai!, aku tak tau lagi sekarang harus bagaimana?!, aku sangat mencintai Momo ,paman!",
"Aku tau Ray, Moya tau itu!, semoga saat sadar ia bisa mengingatmu!, Aku takut amnesianya akan parah! apalagi Moya dapat pukulan yang sangat keras!",
" Aku sangat berharap ia membuka mata sebentar lagi, meski ia tak mengingatku, kalau ia bisa sadar saat ini juga aku akan sangat lega ",
" Kita tunggu putri tidur itu bangun, Ayo kita keruang ICU ",
Kini mereka hanya bisa melihat Moya dari luar ,tembok kaca membantu mereka untuk bisa melihat Moya yang sedang penuh dengan alat bantu. Ray duduk lemas diruang tunggu, bersama dengan Ayah Moya.
" Ray ,aku akan bawa Moya ke Singapura. Disana teknologinya bisa menyembuhkan Moya!, bagaimana menurutmu?",
" Aku ikut, Paman. Aku tidak ingin berpisah dengan Moya!",
"Baiklah, akan aku atur semuanya!, kau tenangkan diri dulu!, aku pergi dulu, jaga Moya ,Ray!",
" Baik Paman!",
***
Hari ini Moya akan dibawa ke Singapura untuk berobat, kondisinya masih koma tanpa kemajuan. Ray terlihat kacau dengan setelan baju yang sama selama dua hari. Sebelum Moya berangkat, Ray menyempatkan diri untuk membenahi diri.
Kini Ray bersama Moya di Singapura, para dokter ahli disana langsung menangani Moya. Berharap wanitanya itu cepat sadar, Ray selalu ada disampingnya.
"Bagaimana keadaannya dok?", tanya Ray lemas
"Kami akan berusaha sebisa mungkin, saat ini pasien mengalami trauma shock yang hebat. Jadi anda harus bersabar, ajak bicara pasien karena meski ia koma namun indera pendengarannya berfungsi. Siapa tau pasien akan merespon anda", jelas dokter pada Ray
" Baik Dok!",
Ray berada di kamar bersama Moya yang masih setia menutup matanya. Ia selalu mngajak bicara Moya ,dan bercerita tentang masa kecilnya. Ray menceritakan bagaimana mereka pertama kali bertemu dan bermain bersama. Hingga Ray tak bisa membendung lagi air matanya.
Saat sedang tertidur di samping Moya, Ray merasakan tangan Moya menggenggam tangan Ray, meski hanya gerakan reflek namun Ray sangat senang. Ray memanggil dokter untuk memeriksa Moya. Dokter memberikan kabar yang baik mengenai kondisi Moya. Kemungkinan untuk sadar semakin tinggi karena Moya merespon percakapan Ray.
Tiga hari setelah respon itu ,Moya kembali tenang tanpa pergerakan yang pasti. Setiap hari Ray selalu mengajak bicara Moya, entah Moya bisa mendengarnya atau tidak namun ia berharap Moya segera bangun. Malamnya, Ray meninggalkan Moya untuk beberapa menit. Saat kembali sudah banyak perawat dan dokter di kamar Moya. Ray menjatuhkan segelas kopi yang ia pegang dan berlari ke arah Moya. Betapa bahagianya Ray melihat wanitanya itu membuka mata.
Moya tersenyum melihat Ray, Ray menyambutnya dengan pelukan dan ciuman. Perawat melepaskan alat-alat yang terpasang pada Moya. Dokter mengatakan bahwa kondisi Moya sudah membaik, hanya perlu pemulihan saja.
"Sayang, akhirnya kamu bangun juga!. Aku sangat khawatir karena kamu tak bangun-bangun !", ujar Ray bahagia
"Ray, makasih sudah menemaniku!, maaf sudah membuatmu khawatir",
" Tidak sayang, aku yang minta maaf ,aku tidak becus menjagamu!",
"Ray, Rayhan Yasa Gavin... Aku sudah ingat siapa kamu!, Kamu Ray kecilku!, Yang dulu selalu ada untukku!",
"Finnaly sayang!!, aku senang mendengarnya!,Momoku!! kamu hanya milikku!!",
" I Love You Ray",
"I Love You too Momo",
Masa pemulihan Moya terbilang cukup cepat, namun tetap saja Moya harus melakukan terapi untuk traumanya. Seorang dokter memanggil Ray untuk membicarakan mengenai kondisi Moya. Ray berpamitan pada Moya untuk pergi sebentar.
"Ada apa dok? apa ada masalah serius dengan kekasih saya?",
"Begini, kami baru saja mengetahui bahwa kekasih anda sedang hamil, untuk usia kandungannya hampir satu bulan, kejadian kemarin sangat berbahaya, namun janin dalam kandungannya baik-baik saja...",
" Apa? Moya hamil? kondisinya tidak akan membuat dampak yang serius kan Dok?",
"Tidak, kondisi ibu dan janinnya sudah stabil. Beruntung anda mempunyai kekasih yang kuat",
"Syukurlah!, terima kasih Dok!",
Ray kembali ke kamar Moya dengan senyum sumringah. Ia tak menyangka benih yang ia tanam akan menjadi kebahagiaannya kedepan. Ray tak sabar memberitahukan hal ini ke Moya.