Part 9

1087 Kata
Setelah Ray memberitahu Moya mengenai kehamilannya , kini Ray lebih protektif pada Moya ,apalagi Moya sedang hamil keturunan Gavin generasi ketiga. Sudah dua minggu Moya di Singapura dalam proses pemulihan, dan mengikuti beberapa terapi. Dokter memberikan kabar baik ,kalau besok Moya sudah bisa kembali ke Indonesia. Selama Moya di rawat selama itu pula Ray menemaninya tanpa meninggalkannya jarak lebih dari 300meter. Ray melakukan semua pekerjaan hanya via telepon dan laptop yang dibawa. Moya sedang bersiap-siap untuk kepulangannya ke Indonesia, ia sangat heran kemana Ayahnya disaat ia sedang sekarat. Moya ingin bertanya pada Ray namun enggan. Sejenak ia melupakan tentang Ayahnya, akan tetapi saat Moya hendak keluar dari rumah sakit ,Presdir Eliot sedang berdiri didepan Moya dan memeluk anak semata wayangnya itu. Karena rasa rindu ,Moya pun meneteskan air matanya. " Bagaimana kondisimu, sayang?", tanya eliot " Baik!! ayah kemana saja? kenapa baru muncul hah? aku berfikir bahwa kau benar-benar membuangku kali ini!!", kesal dengan ayahnya dan memanyunkan bibirnya "Maaf sayang, banyak yang harus diselesaikan. Kau rindu pada Ayah? Ada Ray disini! kenapa harus mencari ayah ,hah??", " Hmmm jadi ini semua rencana kalian?", "Tentu tidak sayang, secara kebetulan saja kau melamar di perusahaan Ray, hahahha, Ray yang bilang pada Ayah, jadi ini murni sayang!", Moya memanyunkan bibirnya dengan tangan yang mencubit pinggang Ray karena berani mentertawakannya. Mereka terlihat bahagia hari ini, apalagi Moya sudah bisa kembali ke Indonesia. *** Di Mansion milik keluarga Eliot, Moya di sambut oleh mamanya yang senang karena anaknya sudah pulang. "Sayang, akhirnya kamu pulang... gimana kondisimu?", tanya mama Moya " Baik,ma. Moya ke kamar dulu. Ray makasih ya... aku istirahat dulu, okay?", "Okay Sayang", jawab Ray " Ray, Tante mau bicara sama kamu ,boleh?", "Tentu, silahkan!", " Terima kasih sudah menjaga Moya kemarin, tante merasa sedih karena tidak bisa menemaninya", "Saya mengerti, Paman sudah bilang kalau anda sedang sakit", " Moya tidak tau hal ini,Ray. keep silent okay?, kalau bisa pernikahan kalian secepatnya di laksanakan, karena waktu yang tante punya tidak banyak ", " Akan ku usahakan secepatnya ,semoga Moya mau dan mengerti . Kalau begitu aku pamit dulu", *** Di Apartement Ray, ia merasa lega karena wanitanya sudah kembali pulih. Namun disisi lain ia juga sedikit memikirkan pembicaraannya dengan mama Moya. Ray membersihkan diri ,setelah itu ia menghempaskan badannya ke ranjang. Baru saja ia memejamkan mata, ponselnya berdering. 'Yuan Calling...' "Ya, ada apa?", "Aku ada di depan ,buka pintunya bro! kemana saja kau! aku panggil tak dengar hah?!", " Maaf, aku baru saja selesai mandi ", Tut... Tut... Tut... Ray membuka pintu,dan benar ada Yuan disana. Yuan menyodorkan setumpuk File yang harus segera di tanda tangani Ray. Ray nampak malas saat itu, namun mau tidak mau itu adalah pekerjaan penting. " Hei, bagaimana kondisi Moya?", tanya Yuan "Baik, bahkan lebih baik sekarang karena mereka sehat semua", "Tunggu!!, mereka? kau bilang mereka? jangan-jangan.....", " Ya, Moya hamil anakku ", " Wweeeiiittss, congratulations broo. Lalu bagaimana sekarang?, kapan kalian menikah?", "Hmm Aku juga masih tak tau, karena Moya masih sensitif. Tunggu dia lebih baik, dan segera ku nikahi", jelas Ray nampak lemas " Tenang saja, sekarang Moya sudah jadi milikmu!, kau tak perlu khawatir lagi kan? ", " Ya ,namun tetap saja membuatku sedikit frustasi ", Mereka mengobrol hingga larut malam, dan Yuan berpamitan karena ia sendiri sudah sangat lelah. Ray kembali ke kamarnya dan tidur lelap malam ini. Berbanding terbalik dengan Ray, Moya tak bisa tidur. Matanya nampak segar dan tak ingin di pejamkan. Sesekali ia mengelus perutnya yang masih rata ,dan berbicara sendiri pada janin di dalam perutnya yang masih sebesar bola pimpong. Merasa bosan di kamar, Moya keluar kamar dan menuju dapur. Perutnya terasa lapar, ia menengok ada asiaten rumah disana. "Bi, ada makanan apa?",tanya Moya " Anda ingin makan apa Nona?, sepertinya masih ada banyak bahan disini untuk membuat makanan yang anda suka ", " Hmmm ,bagaimana kalau buatkan aku Omlet dengan topping sosis ,udang, dan scallop ?", "Tentu Nona, masih ada bahan untuk membuat Omlet yang anda mau, tunggu lah dengan tenang di ruang keluarga, akan ku panggil jika sudah siap!", " Terima kasih, Bi. Ehm untuk minumnya aku ingin Setrawberry smoothies ya,Bi?", " Baik ,nona", Moya menunggu makanannya sambil menonton televisi di ruang keluarga. Ia sangat jenuh karena ponselnya hilang saat kejadian kemarin. 'Ah, kenapa perutku terasa mual...', gumam Moya yang akhirnya berlari ke kamar mandi dan seperti muntah namun tak mengeluarkan apa-apa. " Nona ,anda tak apa? apa perlu saya panggil Nyonya?", "Jangan, tak perlu bangunkan mama. Ini hanya Jetlag ,sepertinya begitu ", " Makanan anda sudah siap,Nona. Sudah siap di meja makan, silahkan. jika membutuhkan sesuatu, saya ada di dapur", "Terima Kasih Bi", Moya menyantap makanannya dengan lahap, dan sampai habis. Kini perut Moya terasa penuh, dan ia merasa mengantuk sekarang. Moya berjalan kembali ke kamar dan memutuskan untuk tidur, karena ia ingin pergi bekerja esok. *** Ray sedang sibuk dengan pakaian yang ia kenakan untuk pergi ke kantor. Ia bingung bagaimana dengan keadaan wanitanya, karena tak bisa menghubunginya secara langsung. Ray sudah berada di lobby kantor, Ia melihat sosok ysng ia kenali. " Sayang!!!, ngapain kamu disini? ", tanya Ray panik " Tentu saja untuk bekerja,Boss! Aku bosan di rumah Ray!!! ", dengan nada manja " Dasar kau ini?!, kau ingin aku mati kena serangan jantung ya?", "Tentu tidak Ray sayang, tapi kenapa juga kau kena jantung?", " Aku memikirkanmu beberapa saat lalu, bertanya-tanya kondisimu! dan terkejut melihatmu ada di lobby kantor!", "Ayolah Ray, aku ingin bekerja!!.", " Ya sudah, duduk diam dimeja kerjamu!! Don't Move Honey ", kata-kata Ray seketika membuat Moya bergidik takut Moya di beri setumpuk pekerjaan untuk dikerjakan di meja kerjanya, Ray sengaja agar Moya tak berpindah tempat selama beberapa jam. Saat jam makan siang Ray membawa Moya makan bersamanya dan juga Yuan. Mereka bertiga makan siang di Resto dekat kantor. "Bagaimana kabarmu Moy?", tanya Yuan "Baik, pak. Hanya sedikit bosan jika harus duduk manis terus menerus di kantor!", jawab Moya menyindir " Hahahaha, Nikmati saja. Itu juga demi kebaikanmu!, sapa suruh masuk kerja disaat masa pemulihanmu, hah?", ujar Yuan " Sudahlah sayang!, apa perlu aku kirim kamu pulang sekarang juga?!", "Hah,, Okay. I'm silent!", Moya memanyunkan bibirnya karena kesal dengan keputusan Ray. Selesai makan siang, Ray mengantar Moya sampai Lobby kantor. Ia harus segera menemui klien untuk masalah tender baru yang beberapa waktu lalu di menangkan Yuan. Moya hanya pasrah hingga jam pulang kantor ia sendiri di meja kerjanya. Dan pulang dengan supir yang sudah disiapkan oleh Ray. "Aku bosan seperti ini!!", gumam Moya Ia memainkan ponselnya hingga sampai di rumah. Moya membanting tubuhnya keatas ranjangnya sembari mengumpat kesal. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN