17

1116 Kata
Aku datang ke kantor dengan berbagai perasaan setelah permintaan Bima agar aku dekat dengan Rifat, Lila yang melihat kedatanganku dengan tidak semangat membuat tidak berani mendekat hanya melihat dari jarak yang aman karena Lila tahu jika aku sudah mulai begini tidak akan peduli siapa dia kecuali papa dan Devan. "Lil, Kak Devan udah datang?" tanyaku ketika berada di mejanya "mau ambil cuti" sebelum Lila menjawab "Tinggal libur aja pakai pengajuan cuti, kamu kan anak big bos jadi gampang lah" ucap Lila santai "Prosedur tetap prosedur itu yang diterapin papa, kaya gak tahu papa aja kamu" omelku "gue ke bagian hrd aja minta formnya" "Disini ada gak usah kesana tinggal tulis nanti aku serahin ke Pak Devan" sambil menyerahkan form cuti "lagian mau kemana sih? lo jangan aneh-aneh ya" aku hanya melirik Lila "Rifat mulai hari ini di training sama Pak Bima sebentar lagi pasti datang" "Jadi?" Lila mengangguk "training dimana?" "Ruangan kamu lah" aku seketika melotot "kagak disini kalau Pak Bima keluar kemana si Rifat ngikut tapi yang pekerjaannya berhubungan sama kamu" aku mengangguk "kemarin Pak Devan sama Pak Wijaya balik sendirian kemana Pak Bima?" menatapku namun aku hanya diam "Pak Devan bilang kalau kamu ketemuan sama Soni?" aku menatapnya kaget "gak usah kaget lah Pak Bima itu selalu terbuka sama Pak Devan, lupa?" "Kak Devan bilang apa aja?" tanyaku langsung "Pak Bima langsung ijin sama big bos untuk nemuin kamu awalnya big bos kaget tapi akhirnya bilang kalau Soni akan macam-macam sama kamu ya big bos ijinin" Lila menatapku "kata Pak Devan wajah Pak Bima seperti takut dan emosi bersamaan kaya orang takut kehilangan gitu dan lagian kamu sudah aku bilang berkali-kali tetap aja gak dengerin kalau sampai kejadian benar bisa mati berdiri tu big bos" Aku hanya diam mendengarkan cerita Lila mengenai apa yang terjadi kemarin, Lila hanya diam melihat reaksiku dan memasukkan formku kedalam berkas yang diserahkan ke Devan nantinya. Kami terdiam cukup lama dengan Lila mengerjakan tugasnya dan aku dengan pikiran sendiri yang harus bagaimana menghadapi papa dan Devan. "Pagi semua" sapa Bima diikuti Rifat "nanti ruangannya disini sama Lila ya tapi lebih banyak kerjaannya berhubungan sama Via tapi maaf belum ada mejanya jadi mungkin sementara bisa pakai ruangan Via" menatap Rifat “mengenai pekerjaanmu sudah di alihkan kan?” Rifat mengangguk “jadi sekarang sudah mulai full tapi tetap ada penilaian jika tidak memuaskan kamu akan kembali di tempat semula dan aku rasakan kamu tidak akan melakukan kesalahan” "Ruanganku?" tanyaku langsung menyela pembicaraan Bima Bima mengangguk "disana ada meja dan kursi kecil cukup buat orang kerja biasanya juga Lila disana nemenin kamu" Aku meninggalkan mereka menuju ruangan yang ternyata diikuti Bima dan Rifat dari belakang, Bima benar-benar meletakkan Rifat berada diruanganku ketika akan bekerja namun lebih banyak Rifat berhubungan dengan Lila sehingga tidak perlu terlalu sering berada di ruanganku melainkan ruangan Lila. Beberapa kali Rifat masuk kedalam meminta tanda tangan atau sekedar bertanya beberapa hal yang aku yakini jika Bima dan Lila tahu jawabannya namun aku berusaha profesional jika jam kerja. "Mau makan siang dimana?" tanya Rifat sebelum keluar dari ruanganku "Kayaknya sama Kak Devan deh tadi supir bawa makan siang" jawabku berusaha menolak Rifat Rifat hanya mengangguk lalu keluar dari ruangan, aku menatap punggung Rifat yang mulai menjauh. Tidak lama aku berjalan keruangan Devan untuk makan siang ketika akan membuka pintu dimana aku melihat Devan dan Bima berbicara dengan serius "Kamu yakin dengan keputusan ini?" Devan menatap Bima "lalu?" "Setelah selesai masalah ini aku akan nyelesaikan semua dan aku mencoba untuk ikhlas" ucap Bima "sesuai apa yang aku bicarakan depan kalian berdua" Aku menatap mereka dengan bingung apa yang sedang dibicarakan, ketika melihat Bima akan berdiri dengan segera aku masuk kedalam membuat mereka berdua menatapku dengan terkejut "Makan siang, kak" ucapku sambil duduk di sofa dan membuka rantang "Om Bima udah makan?" menatap wajah mereka berdua "Belum ya udah kita makan bareng tadi Tina bawain agak banyak katanya buat Lila juga, mana Lila daritadi belum datang" Devan sambil menghubungi Lila Bima hanya diam disebelahku sedangkan aku berusaha bersikap biasa dengan menata makanan untuk kita semua hal yang biasa aku lakukan jika makan siang bersama Devan "Makan" ucap Devan ketika menatap racikanku "udah pantes aja jadi istri kamu" membuat aku dan Bima langsung tersedak "Wah aku ketinggalan ini" ucap Lila yang tiba-tiba masuk kedalam "bu bos ada dirumah kah? pengen lihat Lucas" "Ada dong" jawabku "Lucas lucu banget pengen deh punya baby kaya Lucas" Bima dan Devan langsung tersedak mendengar perkataanku, aku menatap mereka dengan bingung selanjutnya kembali makan tanpa suara diantara kami berempat Kami kembali ke ruangan masing-masing setelah makan siang, Rifat menghadap Devan ada yang perlu dibicarakan bersama Bima juga. Lila keruanganku mengerjakan tugas yang tadi dikerjakan Rifat agar segera dilaporkan pada Devan "Permisi, Bu Lila" ucap seseorang ketika membuka pintu "ini tadi permintaan Pak Bima" sambil menyerahkan map "Makasih, Sas" ucap Lila menerima berkas itu "ada lagi?" tanya Lila ketika Sassy tidak segera pergi "Rifat dipanggil sama Pak Benu karena harus ada yang dikerjakan" ucap Sassy Lila mengangguk "nanti aku sampaikan tolong bilang Pak Benu jika Rifat masih rapat dengan Pak Devan dan Pak Bima" Sassy mengangguk meninggalkan ruanganku "Pak Benu itu gak bisa mengerjakan sendiri" omel Lila membuatku mengangkat alis "pasti lo gak sadar, waktu kalian di Bandung apa yang Rifat lakukan? mengerjakan pekerjaan Pak Benu" seketika aku menatap Lila tidak percaya "aku juga kaget setiap aku minta bahkan sampai pulang kantor jawabannya belum dikerjakan tiba-tiba pagi laporan sudah di meja diletakkan Sassy setelah menggali informasi dari Sassy ternyata yang mengerjakan Rifat" aku mengangguk paham ketika mengingat Rifat depan laptop seharian "hubungan kalian berdua gimana?" Lila menatapku dengan menggoda membuatku malas menatapnya "Apaan? kita gak ada apa-apa" jawabku langsung mencoba tidak membuka permasalahan ini di lingkungan kantor “kita masih jam kantor jadi jangan menggosip” Lila menatapku tidak suka namun tetap mengikutinya. Menjelang jam pulang kantor mereka bertiga baru selesai rapat dan aku melihat wajah mereka yang tampak kusut. Bima mencari beberapa berkas mondar-mandir keluar masuk ruanganku sedangkan Rifat langsung menghadap Pak Benu setelah Lila memberitahukan jika dicari. Sekembalinya Rifat membawa beberapa berkas seketika Bima menghentikan kegiatannya mendekati Rifat "Ini kan kerjaan Pak Benu? kenapa kamu yang bawa?" Bima menatap Rifat sambil membuka berkas "kamu kembalikan bilang jika tidak bisa mengerjakan karena ada kerjaan yang harus dikerjakan bersama saya" sambil menyerahkan berkas itu kembali "gak ada bantahan Rifat" Rifat segera pergi menemui Benu mengikuti instruksi Bima, tidak lama kembali dengan wajah yang ditekuk seketika aku paham apa yang dialami Rifat. Aku memberi kode pada Bima agar mendekati Rifat namun tidak dihiraukan sama sekali namun yang terjadi Bima berjalan mendekatiku ketika Rifat sibuk dengan pekerjaannya. "Cobalah mendekatinya dengan menghibur dirinya sama seperti yang kamu lakukan padaku" bisik Bima ketika mendekatiku Aku menatap punggung Bima yang menjauh dari ruangan dimana menyisakan kami berdua, aku menatap Rifat yang fokus dengan pekerjaan yang tadi tertinggal karena mengikuti rapat dengan Devan dan Bima. Aku meraba jantungku apakah merasakan suatu perasaan pada Rifat atau tidak dan maksud pembicaraan Bima serta Devan di ruangan Devan tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN