Masa cuti yang aku habiskan di Bali cukup membuatku tenang dan dapat berpikir mana yang hatiku inginkan, perasaan berdebar pada Rifat dan Bima sangat berbeda. Ketika aku melihat Rifat bersama wanita lain bahkan adikku sendiri di dalam hati mengakuinya jika aku tidak menyukainya namun rasa itu masih kurang besar dengan perasaanku pada Bima yang sangat tidak menyukai kedekatan Bima dengan wanita lain bahkan dengan istrinya sekalipun.
Setelah masa cuti selesai aku kembali dengan berbicara pada Tania dan Tina, mereka banyak memberikan masukan kepadaku dan sekarang aku tahu dimana hatiku berada. Ada hal yang membuatku terkejut dari cerita mereka berdua mengenai apa yang terjadi selama aku menghabiskan masa cuti di Bali.
"Om" panggilku ketika kami bertemu di parkiran.
Bima menghentikan langkahnya menatapku yang berjalan ke arahnya, kami berjalan bersama tanpa mengeluarkan sama sekali walaupun aku tahu dalam benak kami berdua banyak yang ingin dibicarakan.
"Om pulang?" pertanyaan bodoh yang aku ajukan pada Bima yang hanya dijawab dengan anggukan "om, bisakah bersama malam ini?" Bima menghentikan langkah menatapku "ehm ada yang ingin aku bicarakan" aku menatapnya dengan sedikit takut.
Bima hanya menggenggam tanganku menuju ke mobilnya, dalam mobil sekali lagi tidak ada yang memulai pembicaraan hanya suara lagu kesukaan kami berdua mengiringi perjalanan kami yang sunyi ini dan aku hanya bisa memandang jalan yang kami lalui saat ini
"Bisakah kita seperti ini?" tanyaku langsung memecah keheningan kami membuat Bima menatapku sekilas "aku hanya mau bersama om"
Bima hanya diam selama perjalanan setelah pengakuan yang aku berikan, mobil diarahkan ke apartemen tempat kami berdua menghabiskan waktu jika bersama. Ketika sampai security memberikan makanan yang ternyata sudah Bima pesan selama perjalanan kami dengan segera Bima menerima yang langsung menggenggam tanganku untuk masuk ke dalam.
"Makanlah dulu" ucap Bima ketika meletakkan bungkusan di meja makan
Aku menatap tempat ini yang masih sama seperti sebelumnya dan masih selalu bersih karena ada orang yang membersihkannya setiap hari walaupun kami tidak pernah datang kesini sekalipun. Aku menata makanan ini agar kami bisa segera makan, Bima duduk di sebelahku setelah dari kamar mandi membuat tampilannya menjadi lebih fresh dan aku merindukan selama mengambil cuti.
"Habiskan baru bicara" ucap Bima ketika aku ingin membuka mulut untuk bicara.
Keputusanku yang diambil ini apakah tepat atau tidak, tapi aku meyakini diri jika ini tepat karena Bima mempunyai perasaan denganku. Aku sudah tidak memikirkan bagaimana dengan orang lain saat ini. Bima membereskan bekas makan kami dan duduk di sofa setelah semuanya bersih, aku duduk sebelah Bima menatapnya yang fokus pada ponselnya
"Aku sudah melepaskanmu lalu kenapa kamu kembali?" tanya Bima langsung tanpa menatapku "aku gak mungkin meninggalkan istri dan anak"
"Apa om mencintainya? lebih besar mana denganku?" Bima diam tidak menjawab “jika om hanya diam maka aku simpulkan jika om tidak benar-benar mencintainya” aku menatap Bima yang masih diam membisu "om kita hadapin bersama termasuk dengan papa" aku menggenggam tangannya sebagai bentuk dukungan jika aku ada bersama dirinya
"Kami gak akan mungkin bercerai" ucap Bima menatapku "wanita sialan itu hamil lagi" aku menutup mulutku tidak menyangka perbuatan istri Bima "bahkan aku tidak menyentuhnya semenjak beberapa bulan ini dan dia mengakui jika ini bukan bayiku lagi" Bima menatapku "hal ini dia lakukan agar aku tetap bersamanya"
"Om bilang hanya untuk membohongi papa pasti ini sama kan?" tebakku langsung namun ekspresi Bima seakan menjawab semuanya.
Bima menggelengkan kepala "kamu pernah lihat aku berbohong?" aku diam menatap matanya yang tampak frustasi "aku baru tahu ketika kamu cuti dan pulang ke rumah karena merindukan Billy disitu dia bilang jika hamil" aku melihat terluka dimatanya "lalu apa yang kamu harapkan dariku?"
Aku menyentuh wajahnya "nikahin aku dan aku gak masalah jadi kedua diantara kalian"
Bima menatapku tajam "aku gak mungkin jadikan kamu yang kedua karena dari awal pertemuan kita kamu bukanlah kedua melainkan pertama dan terakhir" aku memeluknya "lepaskan aku" aku menggelengkan kepala "aku gak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh"
"Om mencintai istri?" tanyaku sekali lagi dan menatap wajahnya setelah melepaskan pelukan kami
Bima menggelengkan kepala "hanya kamu" sambil menunduk "awalnya aku mengira ini adalah nafsu ternyata aku memang sudah menyukaimu dari awal"
Aku menghapus air mata yang keluar menariknya kedalam pelukan, Bima melingkarkan tangannya pada perutku. Kami menikmati momen ini dalam diam tidak ada pembicaraan sama sekali, dapat kurasakan jantungku semakin berdetak kencang ketika kami berpelukan
"Kenapa kamu kembali?" tanya Bima ketika sudah cukup lama kami terdiam "bukannya aku menyuruhmu ke Rifat? dan ketika kamu bersama Rifat semuanya akan menjadi lebih muda"
Aku menggelengkan kepala "aku mencintaimu bukan Rifat" jawabku sambil menunduk "hatiku memilih kamu, om"
"Aku sudah melepaskanmu" ucap Bima dengan emosi
"Aku tahu bahkan di ruangan Devan om juga bilang begitu tapi aku tidak akan melepaskan om" ucapku menatap wajahnya "disaat aku menggoda om sebenarnya aku sudah cinta dan itu kenapa aku rela ketika om mengambil keperawananku"
"Kamu sengaja?" tanya Bima memastikan
Aku mengangguk yakin "apa om tidak menginginkan anak sendiri? seperti papa? jika dia memberikan anak dari pria lain maka aku akan memberikan anak dari om secara langsung" aku meletakkan tangan Bima diatas perutku "kita buat semuanya menjadi kenyataan dan hadapin bersama, om" Bima ingin membuka mulut "aku akan bicara sama papa dan Devan agar memudahkan jalan kita bahkan jika pernikahan ini menjadikan aku istri kedua aku tidak masalah"
Bima menghembuskan nafas "aku selalu kalah denganmu" menarikku dan mencium bibirku lembut
Aku membalas ciuman Bima dengan semangat, kami yang awalnya hanya ciuman berubah menjadi saling menikmati setiap tubuh kami dengan menjilat, menggigit dan memberikan tanda
"Ougghh om" desahku ketika lidah Bima berada di vaginaku memainkan klitorisnya "ahhh" aku meremas rambut Bima
Bima meninggalkan vaginaku dengan segera mengangkatku keranjang melakukan hal yang kami sukai bersama, penyatuan ini terasa istimewa setelah pernyataan dari masing-masing kami
"Akhhhh om" desahku "lebih keras ahhhh"
"v****a kamu selalu enak sayang" ucap Bima tanpa mengurangi gerakannya "sial ahhh"
Aku merasakan akan ada yang keluar dari dalam "ougghh om aku ahhh aku ahhh mau oughhhhhhh keluar"
"Akkhhhhh" Bima pun tidak lama kemudian mengeluarkan spermanya dalam rahimku
Aku menangkup wajahnya "besok kita temuin papa" Bima hanya diam "tenang ada Mbak Tania dan Mbak Tina yang akan membantu kita" Bima menatapku tidak percaya namun aku hanya menariknya dan mencium bibirnya untuk sedikit menenangkan dirinya.
“Aku berharap suatu saat kamu akan merubah keputusan ini” ucap Bima menarikku ke dalam pelukan “karena aku gak mau kamu menyesal atas keputusan bersamaku nantinya” mencium pucuk rambutku perlahan.