19

1035 Kata
Setelah kejadian di apartemen hubungan kami sedikit berbeda tapi kami tidak ingin memperlihatkan di depan orang lain agar tidak banyak yang tahu mengenai hubungan kami sampai Bima selesai dengan masalahnya. Bima datang kerumah semalam mengirim pesan akan mengantarkan berkas yang harus ditanda tangani papa, aku berada di tangga tanpa sepengetahuan mereka menunggu kedatangan Bima. Tania menatapku dengan bingung namun ketika melihat kehadiran Bima di ruang keluarga dengan segera turun ke bawah setelah menepuk pundakku pelan dan langsung menyapa Bima dengan memberikan senyuman terbaiknya "Mili bilang hamil, duh pasti kamu bahagia banget ya" ucap Tania ketika berada di hadapan Bima "apa kamu masih mendekati Via? kamu gak kasihan Via dianggap sebagai perebut suami orang?" menatap Bima yang hanya diam sedangkan aku menunggu reaksi Bima atas pertanyaan Tani "Apa yang kalian bicarakan sepertinya serius sekali" ucap papa yang bergabung bersama mereka setelah keluar dari ruang kerjanya “Lucas mana?” dengan duduk sebelah Tania. “Tidur kekenyangan anak kamu banget nyusunya lancar habis” sindir Tania membuat papa tersenyum "udah tahu kalau Mili hamil?" Tania menatap papa sekilas namun pandangannya ke arah Bima walaupun sempat melirikku yang berada di tangga. "Udah tahu kapan itu dia bilang dan berniat ninggalin Via" papa mengalihkan pandangan dengan menatap Bima "kamu masih dengan keputusan itu kan? atau berubah?" Bima hanya diam "Aku yang mau sama Om Bima, pa" ucapku tiba-tiba datang karena ingin tahu reaksi mereka berdua mengambil duduk sebelah Bima "setelah masa pemikiran di Bali kemarin aku gak bisa jauh dari Om Bima" papa menatap kami dengan sedikit terkejut dan hanya bisa diam "Saya akan menceraikan Mili" ucap Bima langsung dengan menatap papa sambil menggenggam tanganku. "Mili hamil loh, kamu tega?" tanya Tania sambil menatap kami bergantian "Via akan dianggap perusak hubungan kalian berdua" namun aku merasa jika tatapan Bima masih ke papa "pikirkan semuanya terlebih dahulu jangan membuat nama baik Via jelek dan apakah Mili akan setuju dengan perceraian ini?" "Aku gak masalah jadi istri kedua sama kaya mbak lagian kita saling mencintai" ucapku langsung membuat mereka berdua menatapku tajam bahkan Tania memberikan kode dengan menggelengkan kepala "Beda kasus" sela papa dengan suara yang sarat menahan emosi "papa rasa Bima lebih dari paham kasus kita berdua" menatap Bima tajam "pikirkan semuanya baik-baik dan temui aku jika kamu sudah melakukan apa dari keputusanmu mengenai hubungan kalian sampai kapanpun aku tidak setuju apalagi menjadi istri kedua dengan posisi masih ada istri pertama" aku tidak berani menatap papa “jadi ini hasil kamu cuti? untuk apa Devan memberikan ijin jika hasilnya seperti ini” papa menggelengkan kepala “dan lihat anak yang kamu bela jadi seperti ini” menatap Tania tajam. "Baik, pak" ucap Bima akhirnya memecahkan suasana tegang diantara kami “tapi memang saya berniat menceraikan Mili jika sudah melahirkan” "Bim, kamu orang baik jangan sampai masalah ini mengganggu semua dan aku sering mengatakan jika kalian berdua adalah orang paling kusayang namun apapun yang terjadi Via tetap menjadi prioritasku dan aku gak akan tinggal diam jika Via disakiti bahkan kalau sampai kamu pelakunya" papa berdiri “seperti kataku temui aku jika sudah selesai semua yang menjadi batu antara kalian” papa berjalan menjauh dan naik keatas menuju kamarnya dengan membawa berkas yang akan di tanda tangani. Aku mencoba mendekati Tania memberikan tatapan memohon "pikirkan dengan benar baik dan buruknya" ucap Tania sambil tersenyum "apapun pilihanmu aku akan mendukung kecuali menjadi istri kedua dari pasangan yang masih sah" sambil membelai rambutku perlahan “jika mama kamu masih hidup pasti melakukan hal yang sama dan kami berdua tidak akan menikah karena aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga” Tania menatap Bima “kamu pasti paham maksud kami bukan?” Bima mengangguk perlahan membuat Tania tersenyum. Aku menatap kepergian Tania yang aku yakini menyusul papa dan melihat Lucas semoga Tania bisa membuat hati papa luluh seperti yang dilakukan selama ini. Selepas kepergian mereka berdua kami saling memandang dan tidak ada yang membuka pembicaraan sama sekali karena perkataan mereka berdua ada benarnya. "Kalian terlalu nekat" ucap Tina tiba-tiba dari arah dapur meletakkan minuman di meja depan kami "kalian tahu resikonya? dampak negatif buat Via? apa kalian siap? gimana sama Mili? apa dia mau di madu? atau cerai? wanita mana yang mau di madu" "Tapi itu bukan anak Om Bima, mbak" belaku Tina menatapku "orang gak akan tahu anak Bima atau gak yang mereka tahu adalah Bima suami Mili dan otomatis itu anak Bima lagian ya Bima kalau kamu gak yakin ngapain juga nikahin dia? sahabat? itu mah bodoh" ucap Tina langsung membuatku otomatis menatapnya "kamu melakukan seks dengan Mili?" Bima mengangguk "atas dasar apa? nafsu atau cinta?" "Mbak kenapa malah mojokin Om Bima sih" protesku karena melihat ekspresi Tina dan nada bicara ketika bertanya pada Bima "Bukan mojokin agar kamu juga berpikir, sayang" Tina menatapku lembut "dari kemarin kita berdua kasih kamu masukan kalau ujung-ujungnya sama Bima ya percuma" kali ini menatapku dengan sebal. "Mbak" protesku lagi "Bima, cerna semua pertanyaanku jika kamu masih dengan keyakinan sama Via selesaikan permasalahan dengan Mili dan jangan jadikan Via tambal butuhmu dalam permasalahan rumah tangga kalian" ucap Tina menatap Bima tajam "kamu juga pernah bilang pada Devan jika akan melepaskan Via tapi kenapa berubah pikiran? dan Via apa kamu yakin sama perasaanmu? atau semua ini hanya nafsumu saja? kalian berdua pikirkan dan kami hanya bisa berharap terbaik buat kalian berdua" Tina meninggalkan kami berdua menuju kamar dimana Rere dan Nisa berada "Kita bicarakan nanti" ucap Bima "sebaiknya aku kembali ke kantor" sambil berdiri "sampaikan pamit pada semuanya" Aku mengikuti langkah Bima keluar dari ruangan hingga mobil, Bima menatapku lembut lalu menarikku masuk kedalam pelukannya kami sama-sama terdiam menikmati pelukan oni "Terlalu banyak rintangan yang kita hadapi dan aku mundur dari ini semua" ucapan Bima membuatku kaku "aku tunggu di apartemen untuk bicara lebih lanjut" Aku tidak menyadari jika Bima melepaskan pelukan, mencium keningku dan pergi dari hadapanku. Aku masih mencerna perkataan Bima seketika aku merasakan Bima membuatku naik keatas lalu aku dihempaskan begitu saja seolah apa yang kami bicarakan di apartemen tidak berarti apapun pada dirinya. Mundur dengan mudahnya bukanlah hal yang akan Bima lakukan apapun itu masalahnya dan saat ini setelah perkataan mereka berniat mundur aku rasa Bima sudah tersinggung dengan mereka bertiga. Namun aku memikirkan perkataan mereka bertiga dari sudut pandang mereka dan orang awam mengenai hubungan kami berdua dan mendengar perkataan Bima membuatku tidak mampu berpikir dengan benar, apa yang harus aku lakukan untuk semua ini dan kepada siapa aku harus menceritakan karena aku tidak yakin Tania dan Tina masih mau mendengarkan keluh kesahku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN