20

1006 Kata
Bima mengajukan cuti pada Devan setelah kejadian di rumah, aku tahu apa yang dilakukan yaitu menyelesaikan masalah rumah tangganya. Walaupun Bima tidak datang ke kantor kami berdua masih bertemu hanya untuk melepas rindu dan hasrat kami berdua karena aku selalu merindukan Bima setiap waktu dan bagi Bima melepaskan hasrat denganku membuat hatinya tenang dan mampu berpikir apa yang akan dilakukan terhadap banyak hal. "Kapan sih Pak Bima masuk?" Lila mendatangiku sambil mengeluh "harus kerumah big boss minta tanda tangan segala dan Devan gak bisa ditinggal lama" aku hanya tersenyum menatap Lila yang mengeluh atas ketidak hadiran Bima "Kamu pernah naksir Kak Devan?" tanyaku penasaran "aww" teriakku ketika Lila memukul keningku dengan kertas yang digulung dan menatapku tajam "Kalau ngomong dipikir, gila apa naksir Devan gini-gini aku setia sama suami ya dan kamu masa meragukan kakak sendiri" omel Lila “kamu gak tahu gimana galaknya Tina kalau Devan diberi seketaris gadis muda?” aku menggelengkan kepala “bakalan kesini terus dan menemani Devan seharian membuat aku gak nyaman dan akhirnya big boss pecat tu cewek kebetulan kerjanya juga gak benar” "Lila malah disini" ucap Devan masuk ruanganku membuat kami saling menatap sejak kapan Devan berada disini "berkas keuangan mana?" dengan mengulurkan tangan. Lila menatap Devan sebal "di meja kamu memang gak ada? Rifat sudah letakkan semua disitu laporan" "Rifat kemana?" tanya Devan tanpa dosa “aku gak lihat di meja” "Ketemu klien yang seharusnya dilakukan sama Bima" jawab Lila masih dengan suasana sebalnya terhadap Devan "Kamu gak nemanin? memang bisa dia?" tanya Devan menatap Lila tajam "Kakak sendiri yang nyuruh Rifat berangkat masa lupa?" aku menatap Devan karena bingung dengan sikapnya "kenapa dia?" tanyaku pada Lila ketika Devan keluar dari ruanganku "Memang sehebat apa sih Bima di ranjang sampai kamu bertekuk lutut begitu?" tanya Lila tidak menghiraukan pertanyaan mengenai Devan "apa Rifat kurang hot?" "Sama" jawabku singkat “Lila jangan menggosip disini apalagi membicarakan istriku” ucap Devan yang membuka pintu ruanganku “kembali kerja sana” “Ini juga kerja sama Via, bos” Lila menatap Devan tajam “kan lo sendiri yang nyuruh bimbing Via selama gak ada Bima” aku hanya tersenyum menatap Devan berpikir. “Kamu kesana aja kasihan tu bingung mau ngerjain apa” bisikku ke Lila membuat Lila menatapku tajam dan menggelengkan kepala perlahan membuatku menatapnya bingung. “Via udah paham semua itu” ucap Devan “aku butuh kamu ngerjain tugas Bima yang ditinggal cuti, ayo ke ruangan” Devan menatap Lila dengan memohon membuat Lila pasrah. “Kalau gak inget dia anak big boss udah aku remas-remas dari tadi” ucap Lila dengan emosi “sabar Lila sabar” membuatku hanya bisa tersenyum “semua gara-gara lo” menatapku tajam sebelum keluar dari ruanganku. Pulang kerja bersama Devan yang tidak pernah lelah memberikan nasehat mengenai hubunganku dengan Bima, menyarankanku dengan Rifat saja tapi mau bagaimana lagi hati aku sudah memilih Bima tidak mungkin aku ke Rifat walaupun Rifat masih menunggu jawabanku dengan sangat sabar. Kegiatanku selalu seperti biasanya, pertemuan dengan Bima adalah beberapa hari lalu di apartemen kami melepas rindu dan sampai sekarang aku tidak mendapatkan kabar dari dirinya bahkan Lila aku tanya tidak tahu menahu. Bertanya pada Devan juga percuma yang ada aku hanya diberikan nasehat tanpa henti, ingin bertanya pada Tania dan Tina tapi aku ragu mereka akan bicara sebenarnya setelah tahu jika aku dan Bima masih berhubungan "Bos besar ada apa kesini?" tanya Lila menatapku Papa langsung masuk kedalam ruangan meeting dan tidak lama Devan memanggil Rifat untuk ikut masuk kedalam. Aku memandang Lila dengan bingung namun Lila hanya mengangkat bahu petanda tidak tahu karena jika sudah begini berarti ada suatu hal yang sangat penting tapi yang pasti tanpa Bima di dalam sana. "Kamu tahu papa mau kesini?" tanyaku pada Tari yang sibuk membaca berkas "Gak tahu lagian ini kantor papa kenapa pada heboh" jawab Tari santai "Papa kan gak bisa lepas dari Mbak Tania" ucapku langsung namun Tari hanya diam Tari setelah permasalahannya itu belajar di perusahaan sambil konsentrasi kuliah, terkadang meminta bantuan Rifat untuk menjelaskan mata kuliah yang tidak dipahami dan aku melihat ada perubahan pada diri Tari berbanding terbalik denganku terkadang aku iri dengan sifat Tari yang sama seperti mama. "Kamu kenapa gak sama Rifat aja?" tanyaku seketika membuat kedua wanita menatapku bingung "Rifat jelas senior yang baik dan aku yakin jika dia akan menjadi pasangan yang baik" Tari tersenyum "sayangnya aku gak tertarik dan Kak Rifat lebih menyukai mbak, apa gak sadar?" menatapku tajam "jangan terlalu fokus dengan Om Bima, mbak harus menjauh dari semuanya dan menentukan mana yang mbak inginkan" "Kamu tahu apa? orang kamu aja menghindar dari pria yang melamar kamu itu" ucapku membela diri Tari mengangkat bahu "aku bukan menghindar hanya ingin fokus pada kuliah dan bantu di kantor lagian aku masih muda kalau dia memang jodohku gak akan kemana" tatapan Tari membuatku tidak nyaman "mbak ingat perkataan mama?" aku hanya diam menunggu lanjutan perkataan Tari "jangan pernah masuk dalam rumah tangga orang lain apapun itu masalah dari orang tersebut karena bagaimanapun kita akan tetap salah" "Jadi daripada sama Bima lebih baik sama Rifat yang masih single" ucap Lila tiba-tiba membuatku menatapnya tajam "berkali-kali aku tanya apa yang kamu rasakan sama Bima? apakah cinta atau hanya" "Kami saling mencintai" selaku langsung "Ya sudah mbak juga sudah dewasa jadi aku rasa aku gak berhak mengatur" Tari berjalan keluar meninggalkan ruangan "mbak, ada yang cari papa" Tari masuk kembali menatap Lila Aku menatap Lila yang mengatar seorang pria dengan pakaian rapi menuju ruangan meeting dimana papa, Devan dan Rifat bersama. Aku memikirkan untuk apa pria itu masuk ke dalam, biasanya Bima yang menyelesaikan ini semua "Ada masalah?" tanyaku penasaran Lila mengangkat bahu "Devan gak pernah cerita jika berkaitan dengan perusahaan biasanya Bima yang mengurus tapi sepertinya lambat laun akan jatuh ke Rifat ini karena Bima tidak ada" Aku menduga Lila menutupi sesuatu namun aku tidak terlalu mempedulikan apa yang terjadi, penting buatku adalah hubunganku dengan Bima. Apa aku sudah sejauh ini yakin dengan Bima lalu Bima sendiri apa yang dirasakan karena dengan sikap Bima seperti ini membuatku ragu akan semuanya. "Via" sapa seorang wanita ketika aku melangkah keluar kantor menuju parkiran "wow tambah cantik kamu, bisa kita bicara?" aku mengangguk Aku mengikuti wanita ini menuju ke salah satu cafe terdekat dari kantor, kami hanya diam tidak ada yang membuka pembicaraan sama sekali. Rasanya banyak sekali yang ingin aku tanyakan namun semuanya hilang begitu saja ketika melihatnya di depan mataku secara langsung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN