“Hai” kata pertama yang keluar dari bibirnya membuatku langsung berlari ke dalam pelukannya yang hanya menyambutku dengan menepuk punggungku pelan “maaf” Aku menangis dalam pelukannya karena kami sudah cukup lama tidak bertemu bahkan berkomunikasi dan saat ini dia ada di hadapanku memelukku erat. Aku menatap wajahnya yang tampak lelah karena aku tahu jika bukan hanya masalah pekerjaan tapi juga permasalahan pribadinya dimana aku terlibat di dalamnya. “Mili menemuimu?” aku mengangguk setelah duduk di kursi menghadap tanaman yang penuh dengan bunga dan beberapa pohon buah “Mili mendatangiku sebelum kamu” aku menatapnya “ternyata perkataanku tidak dihiraukan jadi maaf” “Untuk apa minta maaf? kamu gak salah” ucapku langsung “bagaimana perkembangan pernikahan kalian berdua?” aku menatapnya y

