It Girl

1592 Kata
Keyna berjalan dengan percaya diri di lorong sekolahnya sambil mengunyah permen karet dan melihat dunia fashion terkini yang selalu menarik perhatiannya lewat ponsel pintarnya itu dengan mata berbinar melihat pakaian, perhiasan, tas dan sepatu cantik yang dipakai para model itu. Jika saja menjadi model itu mudah maka ia sudah menjadi model sejak lama.Proses audisinya sangat sulit dan katanya ia masih harus menurunkan badannya padahal menurutnya ia sudah kurus, belum lagi ia harus mengeluarkan banyak uang untuk ini dan itu, ia rasa jika mengikuti audisi di luar negeri maka itu lebih mudah dan pasti ia sudah berhasil debut sekarang. Ia sempat ingin menjadi model karena ia ingin memakai pakaian cantik dan mahal tapi mimpinya bukan menjadi model, ia hanya menyukai fashion dan ia pikir menjadi model akan menghasilkan uang tapi ternyata semua itu butuh proses yang mustahil untuk ia lakukan sekarang dengan segala keterbatasannya. Mengenai cita-citanya, Keyna bahkan tidak tau apa mimpinya, sejak kecil ia hanya melakukan apa yang dikatakan Ayah dan Ibu tirinya saja, mereka terus mengatakan ia harus menjadi wanita yang layak untuk dijadikan pasangan tapi tidak tau maksud dari kata layak itu jelasnya seperti apa. Terserah, ia hanya ingin melakukan apa yang ia inginkan mulai dari sekarang karena sebentar lagi juga ia akan lulus sekolah. Keyna tersenyum percaya diri lalu menyapa orang-orang yang menyapanya, terutama para pria. Ia selalu menjadi pusat perhatian, dan ia juga menyukai semua perhatian padanya itu. Para murid perempuan menjelekannya dan murid laki-laki yang memujanya, tidak peduli dengan apa yang mereka katakan karena sebagian dari mereka hanya mengatakan omong kosong saja tentangnya walaupun ada juga yang mengatakan kebenaran. Hal-hal seperti itu tidak akan membuatnya hancur, karena ia sudah hancur dari dulu. Mereka yang membicarakan hal buruk padanya pasti karena iri dan ingin membuatnya terpuruk tapi sayangnya ia tidak mudah di hancurkan, pada akhirnya ia tetaplah pemenangnya. Keyna masuk ke dalam kelas lalu menyapa hampir semua orang di kelas termasuk satu-satunya teman dekat yang ia miliki di sekolah ini, Nia. Walaupun Nia pasti tidak menganggapnya seperti itu. Nia yang sedang membaca buku hanya mengangguk tanpa melihat Keyna, ia sudah bisa mengenali suara Keyna tanpa melihatnya. "Kapan aku bisa memiliki semangat membaca seperti mu?" "Kamu siapa?" Kata Nia menaikkan kepalanya melihat Keyna yang masih berdiri di samping mejanya itu. Keyna melipat tangannya dan berdumel dalam hatinya, "Aku temanmu! Kalau bukan aku, siapa lagi yang mau berteman denganmu?!" Nia hanya melihat Keyna dengan pandangan datar. "Aku ga minta jadi temanmu, aku gak peduli!" Pantas saja selama ini Nia tidak memiliki teman, kepribadiannya sangat menakutkan. Keyna juga tidak tau bagaimana ia bisa berteman dengan Nia, ia duduk bangku yang tepat di belakang Nia.. "Oh...kenapa dia bersama Erik?!" Pandangan teralih ketika melihat seorang yang ia kenal dari luar pintu kelasnya, ia melihat Erik bersama seorang wanita Siapa gadis itu? Keyna sama sekali merasa tidak pernah melihatnya, tapi disana gadis itu bisa membuat Erik tersenyum lebar. Tidak ada yang bisa membuat Erik tersenyum seperti itu disini, bahkan ia saja tidak bisa. Keyna ingin berjalan mendekati Erik di luar sana tapi bel masuk berbunyi. Keyna merengut kesal lalu bertanya lagi siapa gadis itu pada Nia. "Dia Zara," "Zara? Siapa dia?" Keyna sama sekali tidak mengingatnya, ia tidak pernah memperhatikan orang yang tidak menarik perhatiannya jadi sebenarnya ia tidak tau banyak tentang teman-teman sekolahnya dan ia hanya Erik satu-satunya uang selalu ia perhatikan, dia juga alasannya masuk ke sekolah ini. Nia memberitahu singkat bahwa Zara adalah peringkat pertama di angkatan mereka, tapi Zara cukup pendiam tapi karena dia sangat pintar jadi hampir semua orang di sekolah mengenalnya. Keyna tetap tidak mengenalnya. Nia memang tidak mengenal Zara juga, tapi mereka pernah berada di satu kelas yang sama tahun lalu jadi ia mengetahui Zara sedikit dan karena mereka juga selalu disandingkan dalam bidang akademik. "Ah..jadi dia yang mengalahkanmu tahun lalu, kalian mirip...tapi kamu jauh lebih cantik...." Kata Keyna memberi semangat karena Nia terdengar enggan membicarakan Zara. "Jangan khawatir, kamu bakal peringkat satu tahun ini. Aku yakin!" Nia memutar tubuhnya, ia mengatakan yang perlu di khawatirkan adalah diri Keyna sendiri yang nilainya terus turun padahal sebentar lagi mereka akan ujian. Keyna tau itu tapi baginya masalah terbesarnya sekarang ini adalah Erik yang tersenyum lebar seperti itu dengan gadis lain, ini pertama kalinya ia melihat Erik sebahagia itu dan sejujurnya ia tidak suka karena Erik tersenyum bukan karenanya. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi, tapi karena firasatnya selalu melenceng jadi dia akan mengabaikannya kali. Keyna hanya perlu membuat Erik tersenyum seperti itu padanya, maka ia akan tenang. Ia akan melakukannya sepulang sekolah nanti. Tekatnya, memikirkan candaan atau godaan yang akan membuat Erik tersenyum. Tapi sebelum itu semua terjadi, Keyna mengingat perkataan Nia. Nia benar. ia perlu memperhatikan pelajaran karena sebentar lagi ujian akhir mereka. Keyna tidak akan bisa lulus jika begini terus ia harus bisa melawan rasa malas dan kantuknya ketika pelajaran berlangsung, tapi ia tidak bisa melakukannya sampai Nia harus berulang kali membuat ya tetap tersadar selama pelajaran. . . . Di pagi harinya, Keyna mendapatkan pesan juga paket dari Enzo. Pria itu memberikannya dress cantik berwarna biru tua cantik yang pasti akan membentuk lekuk tubuhnya bahkan ada pita di bahu kanannya yang cantik. Ini lebih baik dari pilihannya, Enzo bahkan memberikannya tas dan juga high heels yang itu mahal, ah bukan memberikannya tapi meminjamkannya padahal saat melihatnya pertama kali Keyna sudah berharap lebih karena sudah lama ia tidak memegang tas semewah dan semahal ini. Mengapa memberikannya di pagi hari, disaat ia harus sekolah padahal ia sangat ingin mencobanya. "Sampai jumpa my baby," Keyna menyampaikan itu pada tas cantik berwarna silver yang sangat cantik dan elegan itu sebelum ia keluar dari kosannya yang sederhana ini, tidak besar tapi ini lumayan untuk Keyna tempati dan kamar mandi di dalamnya. Untuk di daerah ramai seperti ini harganya juga bisa terhitung murah, walaupun ada yang bilang dulunya kosan ini seram atau ada yang pernah bunuh diri tapi Keyna tidak peduli, ia juga tidak pernah melihat hantu dan bukan hanya ada dirinya tapi ada beberapa penghuni kosan lainnya jadi itu tidak masalah baginya, ia lebih takut tidak memiliki tempat tinggal. Ternyata masih ada waktu jadi Keyna berjalan malas kedalam gerbang sekolahnya karena ia lelah berlari tadi, ia harus menghemat uang jadi ia naik bus yang untungnya jaraknya dari kosan ke sekolahnya tidak jauh, belum lagi ia mencoba menghapal lembaran kertas yang di berikan Enzo tapi ia tidak bisa mengingat semuanya malah memainkan ponselnya. Hah, memang percuma ia menghapal nya semalaman. Keyna berniat meminta saran cepat dari Nia untuk menghapal semua itu, sekarang ia hanya memiliki waktu dua hari sampai hati pernikahan. "Oh, Erik!" Rasa kantuknya itu hilang ketika Keyna melihat punggung Erik di kejauhan sana, ia langsung berlari kearah Erik dan berjalan di samping pria itu sambil menyapanya riang. "Selamat pagi!" Erik hanya melihat Keyna sekilas lalu kembali melihat kedepan dengan tatapannya yang dingin, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut pria itu ketika mendengar Keyna menyapanya. Bisa dikatakan Erik memang satu-satunya pria di sekolah ini yang mengabaikan Keyna, itu juga membuat para murid laki-laki lainnya merasa kesal dengan sikap sok jual mahal dari Erik. Keyna tidak menyerah, kali ini ia bertanya mengapa Erik tidak pernah membalas pesannya, lalu membicarakan cuaca yang mulai buruk dan memperhatikan wajah Erik yang tampak semakin kurus. "Apa kamu sakit? Kenapa muka kamu jadi mengecil? Hah, aku khawatir... Kamu baik baik aja kan?" Tidak ada jawaban sama sekali. Keyna tentu saja tidak menyerah, ia ingat saat kemarin Erik tersenyum bersama gadis lain membuat Keyna merasa iri, ia akan membuka mulutnya kembali tapi Erik malah memanggil nama gadis itu. "Zara! Tunggu..." Erik berlari meninggalkan Keyna yang langsung diam ketika Erik memanggil nama gadis yang membuatnya cemburu itu, Zara. Keyna melihat bagaimana Erik tersenyum lebar pada Zara yang baru keluar dari ruang guru sambil membawa tumpukan buku, Erik membawa semua buku itu ke tangannya dan itu membuat Keyna semakin merasa cemburu, ia tidak terima dan akan mengejar Erik tapi bel masuk berbunyi seolah semesta sama sekali tidak memihak cintanya pada Erik. Keyna tetap ingin berjalan menghampiri Erik juga gadis itu, ia ingin melihat Zara itu dari dekat karena sungguh ia merasa lebih cantik dari gadis tersebut. Pikirnya, ia penasaran ingin melihat Zara dari dekat. "Berhenti! Kamu mau kemana? Kelas kita disini..." Entah dari mana Nia muncul begitu saja lalu menarik kerah belakangnya seperti membawa anak kucing untuk membawanya masuk kedalam kelas. Keyna bertanya apa Nia juga tidak mendukung kisah cintanya. "Kisah cinta apaan, kamu harus mengkhawatirkan nilai-nilai kamu aja!" Kali ini, Keyna membiarkannya. Ia masih memiliki banyak waktu untuk bertemu dengan Erik nanti. Nia bertanya kembali sampai kapan Keyna akan terus mengejar Erik, padahal jelas-jelas Erik tidak menyukainya. "Sampai dia menyukai ku?" "Itu menakutkan, hentikan! Yang ada dia risih denganmu.." "Benarkah?" "Apa kamu ga menyadarinya?" "Karena Erik ga pernah bilang apa-apa," Erik memang tidak mengatakannya tapi dari sikapnya itu jelas bahwa dia tidak menyukai Keyna. Nia juga bisa tau itu dan ia tau orang-orang membicarakan sikap Keyna terhadap Erik, mereka menganggap Keyna tidak baik karena terus mengejar Erik padahal terus diabaikan. Nia masuk kedalam kelas sambil meminta untuk segera masuk juga. Keyna mengangguk lalu ia kembali melihat kearah kelas Erik di kejauhan sana sambil dengan pandangan redup berbeda ketika melihat Erik tadi. Keyna tidak tau apa selama ini ia menganggu Erik atau tidak. Yang ia lakukan adalah ia hanya ingin dekat dengan Erik yang sudah menolongnya saat ia kecil dan ia tidak bisa menghentikannya karena Erik adalah cinta pertamanya. Keyna tidak tau, apa selama ini ia berlebihan atau tidak tapi sungguh ia ingin kembali dekat dengan Erik, ia tidak bisa menghilangkan perasaannya terhadap Erik, ia masih memiliki kepercayaan diri itu jika Erik akan menyukainya juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN