BAB 14

1269 Kata
| 14 Alunan suara musik kencang membuat alat pendengaran tak nyaman dan terganggu. Apalah daya seorang Lala yang hanya bisa diam dan menuruti segala perintah Susi. Mulai dari membersihkan rumah, perabotan, halaman rumah, mencuci pakaian, memasak, belanja, hingga yang lainya. Selain itu Susi juga menyempatkan diri untuk memainkan fisik demi melampiaskan kekesalannya kepada Lala. Lengkap sudah penderitaan Lala sejak kecil. Namun hal tersebut tak pernah membuat Lala untuk mengurangi rasa hormatnya kepada Susi selaku adik dari mendiang almarhum Papahnya. “Ya ampun, kencang sekali volume musiknya.” Lala mengurangi volume speaker yang terletak di bawah meja televisi. Kemudian ia melanjutkan aktifitasnya untuk mengelap berbagai perabotan pada ruang santai rumahnya. Dalam ruang santai tersebut berisikan meja dan sofa mewah, rak berbagai jenis buku, guci kuno, serta banyak hiasan dinding yang menempel di ruangan itu. Lala dengan sangat telaten merawat dan membersihkan rumah itu, setidaknya masih ada tempat untuk berteduh bagi Lala meskipun hatinya setiap hari terlingkupi badai awan tebal hitam yang mengancam akan menghujani deras pipinya. “Eh eh eh apa-apaan ini? Kenapa musik kesukaan aku jadi nggak kedengeran sampai kamar?” teriak Susi saat mehampiri ruang santai. “Maaf tante, tadi sengaja Lala kecilkan volumenya. Soalnya telinga Lala merasa bising kalau berada di dalam sini.” Ucap Lala sambil mengelap guci kuno. “Kamu kira ini rumah kamu, ha? Main seenaknya aja kamu! Udah dikasih tumpangan, bukannya berterimakasih, malah seenaknya sendiri!” celoteh Susi. “Maafin Lala tante, Lala nggak bermaksud lancang, nanti kalau Lala sudah selesai membersihkan ruangan ini, Lala kembalikan lagi volumenya seperti semula...” ucap Lala dengan sopan. “Alah, alesan aja kamu! Berani membantah tante?” Susi menjewer telinga Lala. “Ampun tante, maafin Lala... habis ini sudah selesai, akan Lala kembalikan lagi seperti semula.” Lala memegang telinganya usai mendapat jeweran dari Susi. “Udah basi, mood tante udah hilang! Dan semua ini gara-gara kamu!” sahut Susi dengan nada tinggi, kemudian ia pergi meninggalkan Lala. Saking lelahnya Lala terhadap perlakuan Susi, ia sesekali mengejek dengan menirukan celoteh Susi. Sungguh imut sekali saat mulut Lala yang tipis itu berkomat-kamit sambil memeragakan sikap Susi terhadapnya. “Tinggal ngomel-ngomel aja sih gampang, coba aja kalo tante udah kena karmanya, hehh baru tahu rasa tante. Semoga anak Papa berhati pemaaf yah.” Ucap Lala pelan sambil membereskan timba air dan kain lapnya. Lala berjalan keluar dari ruangan tersebut. Dan tak sengaja Lala terpeleset sehingga ia terjatuh bersama timba berisikan air yang ia bawa. ~Bruk~ “Aw sakit.” Lala berusaha bangun dari jatuhnya. “Ya ampun, ujian apalagi sih ini.” Lala sangat kesal karena gara-gara ia terjatuh kini jadi menambah pekerjaannya. “Sial banget nasip aku.” Batin Lala. Kemudian ia mengambil alat pel untuk membersihkan lantai tersebut. Ketika Lala mengambil alat pel untuk membersihka lantai, Susi berjalan ke arah dapur untuk mengambil s**u dari dalam kulkas. Tanpa memperhatikan keadaan sekitar dan melihat kondisi lantai, akhirnya lantai basah tersebut berhasil membuat Susi terpeleset hingga terjatuh. “Woi apa-apaan ini, siapa yang sengaja nuang air dilantai? Pasti ini kerjaan si Lala bocah tengil itu.” Ucap Susi saat tubuhnya terlentang di atas lantai. “Lala! Cepat kesisi!” teriak Susi. Lala berjalan dengan cepat ke arah sumber suara.”Iya tante ada apa? Tanya Lala dengan polos. “Kamu nggak lihat apa kalo tante sedang jatuh, tolongin tante dong!” Bentak Susi. “Baik tante, maaf.” Lala segera membantu Susi berdiri dari lantai. “Haha lucu juga ekspresi tante kalo kayak gini.” Batin Lala. “Kamu ini bisa kerja dengan benar nggak sih? Nih lihat, gara-gara kamu badan tante jadi sakit semua, pakaian yang mau tante pakai di acara arisan jadi basah semua gara-gara kamu! Kamu sengaja ya mau bikin tante celaka? Mau jadi anak durhaka kamu?” celoteh Susi. “Maaf tante, tadi Lala terpeleset terus air yang di dalam timba jadi tumpah ke lantai. Ini Lala ambil alat pel buat bersihin itu, Lala kan nggak tau kalo tante mau lewat.” Lala menjelaskan dengan jujur sambil memijit pinggang Susi. “Yang sakit mana tante, biar Lala pijit.” Lala merayu Susi. “Udah nggak usah pegang-pegang, kamu beresin tuh lantainya.” Sahut Susi. Kemudian Lala bergegas untuk membersihkan lantai tersebut dengan alat yang ia siapkan. Usai membersihkan lantai, Lala pergi ke dapur untuk mengolah masakan makan siang dengan sayur dan bumbu-bumbu yang tersedia. Ditengah aktifitas masaknya, Susi teriak memanggil Lala untuk mengambilkan s**u yang berada di dalam kulkas. “La, ambilkan tante s**u coklat dikulkas.” Teriak Susi. “Baik tante.” Lala mematikan kompor dan berhenti memasak sejenak dan meninggalkan dapur untuk mengantarkan s**u kepada Susi. “Ini tante s**u coklatnya.” Lala memberikan s**u kepada Susi. “Oke, lanjutin masaknya, tante udah lapar!” Perintah Susi. “Baik, tante...” sahut Lala pelan. Lala berjalan kembali menuju dapur untuk melanjutkan memasak sayur capjay yang sebentar lagi akan rampung. “Alhamdulillah sebentar lagi selesai, bisa istirahat deh tubuh aku.” Lala kembali menyalakan kompor dan menumis sayur tersebut. Aroma kelezatan masakan Lala memang sudah tak diragukan lagi, entah kapan ia mulai menguasai berbagai menu masakan yang enak. Mungkin hal tersebut adalah salah satu warisan genetik yang diturunkan alamarhum Mamanya kepada Lala. Dibalik sikap tomboinya, sungguh ia akan tumbuh menjadi wanita idaman dengan bekal yang begitu banyak dan jarang dimiliki oleh wanita lain pada umumnya. *** “Syukurlah aktifitas hari ini udah kelar, sekarang tinggal rebahan sambil nyiapain buku pelajaran buat besok hari senin.” Ucap Lala sambil membereskan buku. “Malam ini terasa banget capeknya.” Gumamnya. Lala menidurkan tubuhnya di atas springbed king siza kamarnya. Sambil menggeliatkan tubuhnya supaya otot-otot tubuhnya tidak kaku dan peredaran darahnya lancar. Kebiasaan menaruh kepalanya di atas tumpukan bantal mampu membuatnya lebih nyaman. Ia sengaja mengambil ponsel yang terletak di atas nakas untuk memeriksa apakah ada informasi penting terkait dengan sekolahnya atau tidak. Ternyata tidak ada informasi terkait dengan sekolahnya, lalu ia mulai membuka satu persatu aplikasi sosial media untuk mencari inspirasi baru dalam hidupnya. “Enak banget ya, kakaknya ini bisa sukses di usia muda.” Ucapnya saat melihat profil salah satu tokoh publik. “Aku juga ingin sukses seperti kakak, tapi apalah dayaku.” Lala tersnyum sambil membayangkan keadaannya sekarang. ~Brak~ Susi mendobrak pintu kamar Lala dengan kencang tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Sontak Lala dibuat kaget olehnya. “Ada apa tante?” tanya Lala dengan polos. “Kamu ini tuli atau bagaimana sih? Dipanggil dari tadi nggak jawab-jawab! Oh, enak sekali kamu tidur sambil mainan ponsel, sini ponsel kamu!” celoteh Susi dengan keras dan ia meminta ponsel Lala. “Ada apa tante? Kan bisa dibicarakan baik-baik, tanpa harus teriak-teriak.” Ucap Lala saat ia bangun dari tidurnya. “Sini ponsel kamu!” Susi mengambil paksa ponsel Lala. “Jangan sita ponsel Lala tante... Lala sangat membutuhkan itu untuk mengakses ilmu pendidikan.” Lala berusaha meraih ponsel yang berada pada genggaman Susi. “Enak aja kamu, jangan sok-sok an jadi pelajar yang baik deh. Tante itu tau kalo kamu cuma mainan aja, mending ponselnya tante jual buat belanja sayuran. Lumayan juga nih kalo dijual.” Ucap Susi sambil mengiming-ngiming ponsel Lala. “Tolong tante, Lala mohon kembalikan ponsel Lala, itu hadiah dari doorprize tahun lalu dan Lala sangat membutuhkan itu saat ini...” Lala berlutut dan memohon kepada Susi. Susi menyempar Lala yang sedang duduk bersimpu dibawahnya. “Nih kalo kamu mau ambil.” Susi menggoda dengan memamerkan ponsel tersebut di atas kepala Lala. Lala langsung berdiri dan meraih ponsel tersebut, namun Susi mengecohnya. Hingga pada akhirnya Lala geram dan merebut ponsel tersebut dari tangan Susi. Cengkraman kuat tangan Susi membuat Lala merasa kualahan, Lala menggigit tangan Susi dan alhasil ponsel tersebut berhasil jatuh dari cengkraman Susi. Namun sayangnya ponsel Lala terjatuh dengan keadaan mati dengan beberapa titik pada layar ponselnya retak. Lala segera berpaling dan memungut ponsel tersebut dengan tetesan air mata. “Ponsel aku...” mata Lala berkaca-laca saat melihat kondisi ponselnya. “Heh, rasain tuh. Makanya jadi anak itu jangan ngenyel sama orang tua! Tuh liat sekarang, kamu yang kena imbasnya kan?” celoteh Susi. Lala dibuat menangis dengan perlakuan Susi barusan. “Tante benar-benar kelewatan.” Lala menagis, dalam hatinya ia tidak terima atas perlakuan tantenya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN