| 12
Perpaduan warna seprai hitam dan putih dengan beberapa motif bunga mawar merah membuat springbed king size Lala terlihat bersih dan elegan. Cat dinding warna hijau bolu pandan serta hiasan dinding kupu-kupu yang menempel pada dinding sisi kiri mampu mempengaruhi suasanya hati sang empunya. Karena warna tersebut dapat memberikan efek menenangkan saraf dan menstabilkan tubuh.
Tempat tidur yang nyaman serta suasana yang tenang dan segar membuat tidur Lala dan Belin sangat pulas. Mereka berdua menghabiskan waktu siang dan sorenya hanya untuk tidur. Senja sebentar lagi akan habis, dimana matahari akan kembali pulang untuk beristirahat sejenak setelah seharian memberi sinar mulianya pada kehidupan.
“Hooaammb...” Belin terlentang menggeliatkan tubuhnya diatas spingbed king size dengan leluasa. Kemudian disusul oleh Lala dengan mengubah posisi tidurnya yang awalnya terlentang lalu mengubahnya menjadi tengkurap.
Desir angin yang menerobos dengan bebas memasuki kamar Lala, menjadikan selimut bulu tebal berwarna putih tulang sebagai objek sasaran untuk diperebutkan antara Lala dan Belin. Lala membalutkan selimut saat merubah posisi tidurnya menjadi tengkurap. Hal tersebut membuat Belin merasa terusik karena selimut yang ia kenakan seketika tertarik oleh tubuh sahabatnya.
“Iih curang banget, aku nggak dikasih selimut.” Gumam Belin saat ia berada pada titik setengah tidur dan setengah sadar. Ia berusaha menarik selimut tersebut hingga membuat tidur Lala terbangun.
Lala membuka kedua matanya secara perlahan sambil mengumpulkan energi. Meskipun ia sudah terbangun, namun ia selalu menyempatkan diri untuk memejamkan mata selama kurang lebih satu menit untuk melakukan meditasi.
“Apaan sih Bel, resek mulu tidurnya.” Ucap Lala sambil membuka selimut yang menggulung tubuhnya. “Aku nggak kebagian selimut tau.” Belin mulai terbangun dan menarik selimut yang Lala lepaskan, kemudian membalut tubuhnya dengan dengan selimut tersebut. “Noh pake aja semua, aku udah bangun.” Lala memberikan selimutnya kepada Belin dan beranjak duduk dari tidurnya untuk melihat jam pada ponsel yang terletak di atas nakas samping kanannya.
“Buset udah jam lima sore ternyata!” Lala dibuat kaget dan tercengang saat melihat ponsel. Melihat keadaan Belin yang masih melanjutkan tidur pulasnya membuat Lala merasa canggung untuk membangunkannya. “Yaudah deh aku bersihin make up dulu habis itu mandi.” Ucap Lala pelan sambil melangkahkan kaki menuju meja rias untuk mengambil milk cleanser green tea dan kapas.
Kemudian ia mulai mengoleskan sedikit demi sedikit milk cleanser pada wajah dan leher sambil melakukan message ringan, lalu dilanjutkan dengan membersihkan menggunakan kapas. Setelah selesai membersihkan wajahnya, Lala mengambil handuk kimono yang ia jemur pada teras kamarnya dan melanjutkan untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
“Mandi..mandi sendiri, masak..masak sendiri, nyuci..baju sendiri, makanpun sendiri....” Lala sempat menyanyikan lagu saat memasuki kamar mandi yang semata-mata untuk menghibur dirinya. Sontak Belin dibuat kaget oleh suara Lala yang berada di dalam kamar mandi dan membuat tidurnya terbangun seketika. “Astaga Lala, kamu bikin aku kaget aja! Aku kira tadi ada cowok masuk.” Teriak Belin. Lala tertawa saat mendengar celoteh Belin. “Ada masalah dengan suara aku kah, Bel?” Lala cekikikan sambil melucuti pakaiannya. “Suara kamu menggema banget, kalo konser jangan dikamar mandi dong.” Celoteh Belin. “Suka-suka aku dong, ngaca dulu sana! Tuh liur kamu meluber kemana-mana.” Sahut Lala dari dalam kamar mandi.
Lala melanjutkan aktifitas mandinya dengan santai, menikmati setiap sentuhan air yang mengaliri tubuhnya. Suara gemercik air yang jatuh menyirami tubuh Lala hingga terdengar ditelinga Belin. Hal itu membuatnya ingin segera menikmati kesegaran air tersebut.
“La, kamu lama banget sih mandinya, aku juga mau mandi nih...” Ucap Belin sambil mengetuk pintu kamar mandi. “Iya habis ini selesai, sekarang masih pakai handuk.” Sahut Lala. Usai memakai kimono, Lala membuka pintu dan keluar dari dalam kamar mandi. “Seger banget aromanya, kamu pakai sabun apa?” Belin mencium aroma khas tubuh Lala dan penasaran dengan sabun apa yang Lala kenakan saat mandi.
Lala berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian yang akan ia kenakan jalan-jalan bersama Belin. “Suer, aromanya kayak buah melon! Aku mau dong pakai sabun kayak kamu.” Lanjut Belin. “Iya pakai aja nggak papa, tapi spons mandinya kamu pakai punya kamu sendiri ya, aku nggak mau kalo spons mandinya bergantian!” ucap Lala sambil memilih pakaian. “Okeh siap bosque...” Belin merasa senang saat diberi izin menggunakan sabun milik Lala. Belin mulai menyalakan kran air dan membasahi seluruh tubuhnya dengan air yang mengalir terlebih dahulu. “Uhhh beneran seger banget airnya...” Belin terus-menerus mengguyur tubuhnya dengan semangat dan ia dibuat ketagihan dengan kesegaran air tersebut. “Aku juga betah kalo air mandinya sesejuk ini, berasa mandi dipegunungan bbrrrrrrr.” Ucap Belin.
Belin membuka mirror box cabinet yang menempel pada dinding kamar mandi untuk mengambil sabun yang beraromakan buah melon. “Nah, ini dia sabunnya.” Batin Belin saat menemukan sabun tersebut dan mengambilnya. Lalu ia tuangkan beberapa tetes pada spons mandi milik pribadinya dan meremas-remas hingga berbusa. “Seger banget...” Belin mencium busa yang dihasilkan sabun tersebut kemudian mengaplikasikan langsung pada seluruh tubuhnya dan menyelesaikan aktifitas mandinya.
“Bel, jangan lama-lama mandinya, kamu nanti masuk angin loh!” Tegur Lala. “Iya ini udah selesai.” Sahut Belin sambil membuka pintu kamar mandi. “Hmmm sabunnya seger banget, kulit aku langsung terasa halus dan bersih. Next anterin aku beli ya La, hehe.” Belin berjalan menuju kasur dan mendaratkan pantatnya pada springbed Lala. “Okeh, oiya sabunnya ada empat varian, nanti kamu bisa pilih aroma yang sesuai selerea kamu.” Ucap Lala sambil menyisir rambutnya. “Emang aroma sabunnya apa aja?” Tanya Belin sambil memainkan ponsel. “Ada aroma melon yang sama kayak punya aku, moka, rose dan melati.” Jawab Lala dengan santai. “Oke, aku beli yang moka aja biar waktu mandi serasa dalam kafe.” Belin cekikikan.
Usai menyisir rambut dan mengenakan style santai ala dirinya, Lala berjalan ke arah cendela untuk menutup cendela tersebut karena kondisi langit sudah tidak cerah lagi dan senja sudah mulai tenggelam. Tak lama kemudian suara adzan magrib mulai berkumandang. Dimana seruan tersebut mengingatkan seluruh umat muslim untuk menjalankan ibadah sholat magrib.
“Kamu udah pakai pakaian rapi, emangnya nggak sholat ya, La?” Tanya Belin saat ia beranjak dari posisinya yang ingin mensucikan diri untuk menjalankan kewajiban sholat. “Enggak, aku masih datang bulan.” Lala menjawab dengan santai. “Oh gitu, yaudah aku sholat dulu ya, habis itu siap-siap untuk double date.” Ucap Belin dengan santai. “Apah? Double date? Emang kamu mau keluar sama siapa? Bukannya kita berdua aja yang keluar?” sahut Lala. “Eh.. enggak kok, bercanda” Lanjut Belin. “Mulai ngayal nih bocah.” Lala mengerutkan dahinya sebagai tanda bahwa ia sedang merasa bingung dengan ucapan Belin barusan. Belin tersenyum pekik melihat ekspresi Lala. “Untung aja nggak ketahuan.” Batin Belin.
Belin pergi ke kamar mandi untuk mensucikan diri, kemudian dilanjutkan dengan menjalankan sholat magrib. Disamping menunggu Belin sholat, Lala sesekali bercermin dan sedikit memoles wajahnya dengan bedak padat yang ia miliki. “Iya-iya udah cantik.” Ucap Belin usai sholat. “Eh, udah selesai sholatnya?” tanya Lala sambil menutup bedak. “Udah dong!” Belin melepas mukena dan menaruhnya di atas kursi. “Aku ganti pakaian dulu ya, aku mau tampil cantik.” Ucap Belin. “Bodo amat, pokok jangan lama-lama, keburu malam ntar! Kita juga blum makan malam. “Iya-iya nggak lama, aku make up natural kok.” Belin memberi isyarat oke dengan tangan kanannya.
Saat mereka berdua sudah siap berangkat, Belin melihat Lala sangat pekat. “La, kayaknya kamu harus pakai liptint dikit deh biar tambah imut.” Ucap Belin. “Ah enggak ah, ribet banget sih, padahal kan cuma mau ke taman sama beli bakso.” sahut Lala sambil memasukkan ponselnya pada tas slempang. Belin memaksa Lala untuk memakai liptint dan akhirnya Lala menyetujui ucapan sahabatnya. “Nah, gini kan klihatan perfect!” Belin mengoleskan liptint tipis pada bibir Lala. “Oiya kamu aku kasih rona orange dikit ya La, dikit.... banget, pliss.” Belin merayu Lala yang kedua kalinya. “Apaan sih, jangan menor-menor aku nggak suka! Kayak mau ke acara kondangan aja.” Lala merasa terusik dengan penampilannya. “Pliss La....” Belin memegang erat tangan Lala untuk memohon. “Uhhh, yaudah deh, tapi janji ya jangan tebal!” ucap Lala. “Siap bosque.. nggak tebal kok, kayak make up tadi siang, iya perbandingan 11,12 deh.” Ucap Belin dengan ceria. Setelah selesai, mereka berdua segera berangkat pergi ke taman untuk menikmati syahdunya malam minggu.
***
Dinginnya malam kian mencekam. Sorotan sinar lampu pelangi yang mengiringi air mancur membuat kedamaian tersendiri bagi para pengunjung. Pepohonan yang asri dan berbagai jenis warna tanaman lainnya nampak subur, bahkan hampir memenuhi taman. Gemerlap sinar lampu yang menghiasi tepi taman dengan model klasik membuat ciri khas keindahan taman tersebut. Banyak orang yang berjualan disana, mulai dari jajanan tradisional, makanan ringan, makanan berat, serta berbagai macam minuman hangat dan dingin.
Semua kursi taman nampak dipenuhi oleh sepasang laki-laki dan perempuan. Tak heran dengan kondisi tersebut, karna banyak pasangan yang lebih memilih berkunjung ke tempat yang dapat menstabilkan emosional.
“Tuh Bel, semua kursi udah dipenuhi sama orang.” Ucap Lala sambil mengamati seluruh kursi taman. “Udah deh tenang aja, kita pasti dapat tempat duduk kok!” sahut Belin dengan enteng. “Terus kita mau berdiri sampai jam berapa nungguin kursi kosong? Emangnya kamu mau duduk lesehan? Ntar kalo pakaian kamu kotor ngomel-ngomel.” Celoteh Lala. “Sttttttsttttt diem dulu ya cantik.” Belin memainkan ponselnya. “Tunggu disini bentar ya, aku ada telfon.” Ucap Belin sebelum mengangkat telfon.
“Hallo, kamu dimana?” tanya Belin dengan pelan saat mengangkat telepon.
“Aku udah dikursi sebelah timur air mancur bersama Wiliam.” Sahut laki-laki tersebut.
“Oke aku kesitu.” Belin menutup telfonnya.
Kemudian Belin membalikkan badan dan mengajak Lala berjalan ke arah timur air mancur. “Skuy kita jalan skuy, ikuti aku.” Belin menggandeng tangan Lala dengan rapat.
Melihat dua gadis cantik tersebut yang sedang berjalan ke arah timur air mancur membuat banyak mata yang tertuju padanya. Mereka berdua terlihat sangat cantik. Ditambah dengan riasan natural menjadikan tampilan mereka berdua semakin memukau.
Tak lama kemudian terdapat dua tangan lelaki yang melambai secara bersamaan ke arah Belin dan Lala. Lelaki tersebut tak lain adalah Angga, kekasih Belin, dan William, teman satu kelas Lala dan Belin.
Lala dan Belin berjalan mendekati lelaki tersebut. “Hay, apa kabar?” sapa Lala kepada dua teman lelakinya. “Baik, sini silahkan duduk.” Jawab William. Lala hanya membalas senyuman terhadap tawaran William. “Ayuk kita duduk.” Ajak Belin dengan menggandeng tangan Lala. “Iya.” Jawab Lala singkat dan mengikuti apa yang sahabatnya katakan.
Setelah mereka berempat duduk dengan rapi dan santai. Datangah lelaki paruh baya dengan membawa nampan yang berisikan empat buah mangkuk bakso panas. Lalu disusul lagi dengan lelaki yang seumuran dengan membawa empat es teh kemasan botol dan menghidangannya kepada segerombolan Lala.
“Ini mas, pesanannya.” Ucap lelaki paruh baya usai meletakkan makanan dan minuman di atas meja. “Baik, Pak. Terimakasih.” Sahut Angga. “Sama-sama.” Ucap lelaki paruh baya. Kemudian kedua lelaki paruh baya tersebut pergi meninggalkannya.
“Aduh jadi nggak enak, itu pasti pesana kalian berdua ya? Kalo gitu aku sama Belin pergi dulu ya.” Ucap Lala dengan sesekali melirik Belin. “Mau pergi kemana kamu?” tanya Belin dengan santai. “Kita kan cuma mampir aja, siapa tau dua cowok ini sedang menunggu ceweknya.” Ucap Lala dengan polos. “Kamu ini ngomong apa sih, La? Kami bedua cuma nunggu kalian.” Sahut William ramah.
Seketika pipi chubby Lala dibuat merona oleh perkataan William. Lala terdiam dan jantungnya mulai berdetak lebih cepat. “Udah jangan diem aja, ayuk kita makan, ntar keburu dingin baksonya.” Angga menyuguhkan satu porsi bakso dan es teh botol dengan romantis kepada Belin. “Ciee trimakasih banyak ya...” tanggapan Belin atas perlakuan Angga.
Lala tercengang melihat perlakuan Angga kepada sahabatnya. Saat ia ingin mengambil bakso dan es teh, tiba-tiba tangan Lala dihadang oleh William. “Udah kamu diam aja disini, biar aku yang ambil makanannya.” Tangan Lala dibuat dingin usai terkena sentuhan William. “Aduhh kok bisa gerogi gini sih?” Batin Lala sambil melirik William yang sedang mengambil bakso dan es teh. “Ini buat kamu.” William memberikan satu porsi bakso kepada Lala. “Trimakasih banyak ya, Wil. Maaf udah ngerepotin.” Ucap Lala sambil menerima pemberian William. “Iya sama-sama, yaudah ayuk makan.” Sahut William.
Ditengah-tengah aktifitas makannya, Lala tersedak ketika mendengar Belin mengatakan bahwa Lala sangat serasi dengan William.
“Uhuk” Lala tersedak. “Eh, kamu kenapa? Ini minum dulu.” William langsung sigap memberi Lala minuman. “Makasih ya.” Ucap Lala usai minum es teh pemberian William. “Pelan-pelan dong cantik.” Goda Belin. Lala hanya melirik Belin untuk memberi kode agar tidak menggodanya lagi. “Tuh pipi kamu merah.” Canda Angga kepada Lala. “Ih kalian apaain sih, ini tadi Belin yang kasih rona di pipi aku.” Lala mengatakan itu dengan polos. “Nggak papa kok biar semakin cantik, iya kan Wil?” tanya Belin yang ditujukan kepada William. William tersenyum. “Iya.” Ucap William.
Usai menikmati makanan dan minuman tersebut, William berdiri dari duduknya dan mengajak Lala, Belin, serta Angga untuk berjalan mengelilingi taman sembari menikmati nuansa malam minggu.
“Kita jalan-jalan mengelilingi taman yuk, masak kita duduk aja? Kasian tuh Belin, ntar lemaknya semakin menumpuk.” Canda William. “Ayuk, boleh juga.” Sahut Belin. “Tapi...” Lala bingung dan tidak melanjutkan ucapannya. “Udah deh ayuk, kan kita berempat.” Ajak Belin sambil menggandeng tangan Lala. “Oke deh.” Jawab Lala singkat.
Dua pasang lelaki dan perempuan tersebut nampak serasi, dimana kecantikan Lala dan Belin sudah tidak digarukan lagi, ditambah dengan paras William yang putih, mancung serta berwibawa membuat banyak wanita yang ingin menjadi pacar sekaligus kekasihnya. Sedangkan Angga memiliki postur tinggi bak atletis dengan kulit sawo matang yang sangat eksotis.
Ditengah perjalanan mereka, William melihat gerobak ice cream yang dipenuhi oleh pembeli. Seketika ia menghentikan langkah Lala untuk menanyakan sesuatu. “La, kamu suka rasa apa?” Tanya William. “Kalo Lala mah paling suka sama rasa sayang.” Canda Belin cekikikan. “Apaan sih, Bel.” Lala menampol lengan sahabatnya. “Bercanda La, jangan kebawa perasaan dong.” Sahut Belin. “Aku suka semua rasa kecuali rasa asam.” Jawab Lala dengan jelas. “Oke, kamu tunggu disini sebentar ya..jangan kemana-mana. Dan kamu Bel, kalo mau jalan duluan nggak papa, Lala biar sama aku.” Ucap William tegas. “Oke siap, yaudah aku jalan duluan sama Angga ya, nanti aku tunggu diparkiran maksimal jam setengah sembilan.” Lanjut Belin.
Belin dan Angga berjalan meninggalkan Lala yang duduk sendirian menunggu William. Tak lama kemudian William datang dan duduk disamping Lala dengan membawa dua ice cream coklat dan vanila. Hal itu membuat Lala kaget dan berdiri dari duduknya.
“Hay, tenang.. ini aku William.” Ucap William saat melihat Lala sontak berdiri. “Aku kira orang asing yang duduk.” Sahut Lala. Ketika William berhasil membuat Lala merasa tenang, mereka berdua duduk bersama kembali. “Kamu pilih yang mana?” tanya William dengan santai. “Serius ice creamnya buat aku?” tanya Lala. “Iya seriuslah, masak ice creamnya mau aku habiskan sendiri.” William tertawa untuk menghibur Lala. Lala tersenyum. “Makasih ya, Wil.. aku pilih yang coklat aja.” Ucap Lala malu-malu kucing.
William memberikan ice cream coklat tersebut kepada Lala, dan mereka berdua menikmati ice cream dengan santai. Tak terasa waktu sudah semakin larut, William melihat jam tangan hitam yang ia kenakan menunjukkan pukul 20.15 WIB.
“La, sekarang udah jam 20.15. ayuk aku anterin kamu ke parkiran.” Ucap William dengan sopan. “Cepet banget ya, yaudah ayuk.” Sahut Lala. Lala dan William berdiri dari duduknya. “La, sebentar!” Wiliam menghentikan langkah Lala. “Kenapa? Ada yang ketinggalan ya? Tanya Lala dengan santai. “Iya, ini ada yang ketinggalan.” William menyentuh ujung bibir Lala untuk menghapus sisa es cream coklat yang menempel.
Lagi-lagi Lala dibuat gerogi dengan perlakuan manis William. Kemudian Lala memegang tangan William untuk mengalihkan tangannya dari bibirnya. “Maaf kalo makannya belepotan.” Lala langsung mengusap bibirnya dengan tangannya. “Maklum anak kecil.” Goda William. “Ih kamu apaan sih, aku tinggi tau, nggak cebol.” Lala terkekeh. “Yaudah yuk lanjut lagi jalannya, aku nggak mau kamu pulang melebihi jam 21.00.” ucap William dengan sesekali melihat jam tangannya.