| 11
Malam yang sunyi tanpa adanya hiruk-pikuk membuat suasana hati Lala menjadi tenang dan damai. Melihat cahaya akan rembulan mampu menyinari seluruh dunia dan seisinya. Ditambah dengan jutaan germelap lintang sebagai wujud bukti kekuasaan zat Yang Maha Tunggal. Semilir angin yang menembus kulit hingga mampu menyibak rambut indah Lala. Tak terasa waktu telah menipu Lala, ia hanyut dalam kesunyian hingga larut malam.
“Rasanya masih ingin disini, melihat bintang dan bulan purnama.” Ucap Lala saat melihat langit. “Ingin banget terbang ke angkasa.” Lanjutnya. “Eh, ada bintang jatuh!” Lala menunjuk langit dengan jari telunjuknya. “Sebenarnya mitos atau fakta sih, kalo ada bintang jatuh terus kita berdoa, dan segala permintaan atau doa kita akan dikabulkan? Kalo iya, aku sangat ingin orangtua ku kembali didunia ini...” ucap Lala pelan sambil membayangkan orangtuanya.
~Kling klung kling klung~
Handphone Lala bergetar di atas kasur. Lalu ia berjalan untuk meraih dan memeriksa ponselnya. “Ternyata dari Belin.” Ucapnya.
Belin BFF
“La, jangan lupa besok pagi kita jalan-jalan sama olahraga.” Lala membaca pesan Belin.
Me
“Oke, kamu yang jemput aku ya jam 06.00 pagi.”
Belin BFF
“Siap bosque...”
Me
“Jangan molor-molor jamnya!”
Belin BFF
“Siap bosque, happy weekend.”
Membaca pesan dari Belin membuat Lala menjadi lebih semangat. Bersyukur ia memiliki sahabat yang baik hati. Meskipun ia belum pernah merasakan kasih sayang dari tante dan kedua orang tuanya, setidaknya ia masih memiliki sahabat setia dan menghargai kehadirannya.
“Aku nggak boleh tidur malam-malam, biar besok bangunnya nggak kesiangan.” Ucap Lala sambil merapikan tempat tidur. “Harus pasang alarm dulu nih.” Lala mengambil jam weker yang terletak di atas nakas samping kanannya.
***
~Kriiiing~
“Oooaamhh.” Lala menguap sambil meraba-raba nakas untuk mematikan suara jam weker yang ada disamping kananya. Saat ia sudah benar-benar terbangun, ia segera duduk dan merapikan tempat tidurnya. “Cuci muka dulu, habis itu bersihin taman depan dan samping, sebelum Belin datang kesini.” Ucap Lala dengan muka bantal. Kemudian ia segera pergi ke kamar mandi untuk berkumur dan membasuh muka.
Lala menyalakan kran air dengan perlahan. “Dingin banget airnya, bbrrrrr.” Ucap Lala usai membasuh muka dan berkumur. “Alhamdulillah jerawat aku udah kempes nih.” Lala senang saat melihat cermin untuk memeriksa wajahnya. “Totol jerawatnya ampuh banget, nggak nyesel deh meskipun belinya agak mehong.” Lala merasa senang. Kemudian ia mengusap wajahnya dengan perlahan menggunakan handuk khusus. Setelah itu ia turun ke bawah untuk melanjutkan aktifitasnya yaitu membersihkan taman.
Pada pagi hari, udara masih bersih dan segar. Lala membuka semua cendela agar udara pagi dapat masuk dan secara langsung dapat menggantikan udara pengap yang memenuhi ruangan rumah sepanjang malam.
“Sejuk banget.” Lala menarik nafas dengan dalam sambil berjalan ke arah pintu utama untuk membuka pintu. Ia mengambil sapu lidi dan pengki yang terletak rapi disamping susunan rak sandal dan sepatu rumahan. Kemudian ia bergegas membersihkan taman depan terlebih dahulu sebelum taman samping. “Rumputnya udah panjang-panjang ternyata!” Lala kesal melihat pemandangan tersebut. Lala mencabut rumput yang rimbun dan menyapu sisa kotorannya.
Tak butuh waktu lama untuk membersihkan taman depan, kemudian Lala berjalan ke arah taman samping rumah. “Huuffffh sampah dedaunnya banyak juga.” Lala membuang isi pengki yang ia pegang pada tong sampah yang masih kosong. “Untung aja taman yang samping beberapa hari lalu udah aku bersihin, sekarang jadi nggak terlalu kotor deh.” Lala senang saat melihatnya. Lala berjalan mendekati beberapa bunga yang ia tanam ke dalam pot kecil. “Waw udah mulai tumbuh bunga kuncupnya.” Lala terpukau saat melihat bunga mawar. Kemudian ia merapikan bunga tersebut sesuai variasi warna bunga.
“Alhamdulillah udah selesai semua, tinggal bersihin badan dan jalan-jalan sama Belin.” Batin Lala saat berjalan menuju tong sampah. Usai membuang sampah dedaunan kering Lala mengembalikan peralatan yang ia gunakan ke tempat semula, dan dilanjutkan dengan mencuci tangan dan kaki pada kran air yang tersedia di dekat taman.
***
Ting ting ting...
“Assalamualaikum, La...” teriak Belin sambil membunyikan selot gerbang. “Kok nggak ada jawaban sih.” Batin Belin ketika ia sudah menunggu beberapa menit. “Aku telfon aja deh, jangan-jangan masih tidur ni bocah!” Belin mengambil ponselnya yang berada di dalam saku. “Hey...” Sapa Lala dari dalam cendela kamarnya. Seketika Belin langsung melihat ke arah sumber suara. “La, cepetan turun! aku udah disini dari tadi...” Sahut Belin dengan kencang. “Iya tunggu sebentar, aku mau ganti celana olahraga dulu, tunggu bentar!” ucap Lala dari kejauhan.
Usai mengganti pakaian dan menyiapkan bekal air mineral kemasan botol 450ml, Lala berjalan menuju gerbang untuk membukakan pintu gerbang. “Nah, lama banget sih kamu!” Belin masuk dan mendorong motor maticnya ke dalam garasi. “Hehe maaf tadi pagi aku bersih-bersih taman depan sama samping dulu.” Ucap Lala santai. “Kok sepi, tante Susi kemana?” tanya Belin sambil menjagang sepeda motor. “Tante Susi beberapa hari ini ke luar kota, mungkin hari senin baru pulang.” Jawab Lala. “Wah mantap tuh, boleh ya aku nanti tidur disini dan menghabiskan waktu weekend dirumah kamu, pliss...” Belin merayu Lala. “Waduh gimana nih, stok beras sama sayuran udah habis, uang aku juga lagi nipis.” Batin Lala cemas. “Tapi...” Lala bingung dan tidak sanggup melanjutkan pembicaraannya. “Udah deh santai aja kali, masalah makanan nanti aku semua yang tanggung!” Sahut Belin. “Bukan gitu maksudnya, Bel.” Lala merasa tidak enak dengan Belin. “Ayo dong, La... nanti aku yang telfon tante deh buat izin tidur disini.” Belin bersih keras untuk merayu Lala. “Yaudah deh kalo kamu maksa, iya nanti boleh tidur disini, tapi kamu telfon tante Susi dulu dan harus izin orang tua kamu dulu.” Ucap Lala pelan. “Siap bosque, sekarang ayuk kita olahraga.” Ajak Belin. “Ayuk.” Sahut Lala.
Kemudian Lala mengunci pintu gerbang dan memulai pemanasan dengan lari-lari kecil yang disusul oleh Belin.
“Kita balapan lari yuk?” Ajak Belin dengan semangat 45. “Idih, jelas kalah kamu!” Sahut Lala. “Iya kita istirahat dulu, habis itu kita balapan lari.” Ucap Belin. “Baru aja pemanasan masak udah istirahat.” Ejek Lala. “Oiya, bego banget aku sampe lupa nggak bawa air minum.” Ucap Belin. “Kasian deh loh.” Ejek Lala. “Uhhh aku minta air minumnya dong, La.” Pinta Belin. “Mau?” goda Lala. “Iya mana, aku udang ngos-ngosan ini.” Sahut Belin. “Beli aja sendiri, wlek.” Lala menggoda Belin dengan sesekali menjulurkan lidah saat berlari lebih cepat mendahului Belin. “Jangan tinggalin aku woiii.” Teriak Belin. “Nih kejar airnya, hahaha.” Goda Lala.
***
“Capek banget, niatnya olahraga tapi kaki aku malah jadi pegel-pegel semua.” Belin mengusap betis kanan dan kirinnya. “Baru gitu aja udah capek, apalagi kalo balapan.” Lala tersenyum pekik. “Yaudah minum gih!” Lala menyodorkan air minum. “Thanks.” Ucap Belin. “Setelah ini kamu mau langsung pulang atau mau istirahat disini dulu?” tanya Lala saat mereka sudah berada dirumah Lala. “Aku habis ini langsung pulang, habis mandi terus aku nyiapin bekal dan pakaian untuk tidur disini.” Jawab Belin. “Kayak disini nggak ada pakaian aja, Bel.” Sahut Lala. “Iya kan body aku lebih besar daripada kamu, Omg helow.” Celoteh Belin sambil meluruskan kaki. “Diet gih, ntar keburu obesitas loh!” ejek Lala. “Buset jangan sampe lah, Laa.” Sahut Belin. “Yaudah ah aku pulang dulu, sampai nanti ya.” Belin berdiri dan berjalan menuju garasi untuk mengambil motornya. Lala senantiasa mengikuti dan mengantar Belin sampai ke depan gerbang. “Hati-hati dijalan.” Ucap Lala tulus. “Okeh bosque, sampe nanti.” Belin menyalakan motor maticnya dan mulai berkendara.
Lala menutup dan mengunci kembali gerbang tersebut. Lalu ia berjalan memasuki rumah untuk segera membersihkan diri dan menyiapkan sarapan untuknya.
“Huh, seneng deh rasanya tubuh aku jadi bugar kembali.” Lala membuang nafas dan merasakan tidak ada beban dalam fikirannya. “Andai setiap weekend bisa olahraga kayak gini.” Ucap Lala sambil menaiki tangga menuju kamarnya. Sesampai kamar, Lala segera memasuki kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya yang dipenuhi dengan butiran keringat.
Lala melepas pakaiannya satu persatu dan membasuh muka dengan kedua tangannya yang telah dituangi setetes facial fome. Kemudian ia melanjutkan menyiram seluruh tubuhnya dengan air yang mengalir. “Seger banget airnya, jadi nggak pengen berhenti mandi.” Lala cekikikan di dalam kamar mandi. Ia menggosok seluruh tubuhnya menggunakan spons mandi agar seluruh daki dan kuman ikut larut. Aroma buah melon pada sabun mandi yang ia gunakan menambah kesegaran bagi tubuhnya. Lala sengaja tidak segera membasuh tubuhnya secara langsung agar kandungan pada sabun tersebut dapat meresap dengan sempurnya.
Ia melanjutkan menggosok gigi dengan perlahan dan mengambil shampo secukupnya untuk memberantas beberpa titik ketombe yang menempel pada kulit kepalanya. “Semoga aja ketombe aku segera kabur! kayaknya efek kurang minum deh, jadinya muncul ketombe gini.” Lala sedikit kesal saat memijat kulit kepala. Lalu aktifitas mandi tersebut diakhiri dengan kembali mengguyur seluruh tubuhnya menggunakan air mengalir.
“Rasanya enteng banget kepala dan tubuh aku.” Lala keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono warna hijau serta kondisi rambut basah dan terurai. Ia mengeringkan rambutnya dengan sangat anggun di hadapan meja rias mungilnya itu.
“Kalo kayak gini aku klihatan kayak cewek banget, hihii.” Lala tersenyum saat melihat kecantikan pada dirinya. “Jadi kepo deh sama riasan ciwi-ciwi remaja, nggak ada salahnya kan kalo aku nyoba tampil feminin.” Lala cekikikan di depan kaca sambil berdiri memilih pakaian rumahan. “Hari ini aku mau pake daster aja deh, kayaknya ini lebih cocok dipakai untuk bersantai, kasian juga dasternya nggak pernah aku pakek!” Lala memilih untuk mengenakan daster merah dengan panjang selutut. Daster tersebut merupakan hadiah dari event give a away online shop.
~Ting tung...~
“Nah, Belin udah dateng nih.” Ucap Lala ketika mendengar bel berbunyi. Ia bergegas menuruni tangga untuk segera membukakan pintu gerbang.
“Hay.. selamat pagi, selamat berkunjung di kediaman ratu Shafrilla Caroline.” Sapa Lala saat membukakan pintu Belin. “Ih, gila... kamu beda banget, La.” Belin terpukau melihat tampilan Lala yang nampak sangat feminin. “Apaan sih, kayak nggak pernah lihat orang cantik aja, buruan masuk!” ucap Lala. “Iya-iya.” Sahut Belin. Usai meletakkan sepeda motornya pada garasi, Belin mengingatkan Lala untuk mengunci kembali gerbang tersebut sebelum berjalan menuju kamar.
“Jangan lupa tuh gerbangnya dikunci lagi, disini kita hanya berdua.” Ucap Belin dengan penuh perhatian. “Biasanya aku juga sendirian kok.” Sahut Lala. “Buset, gantle banget kamu.” Ucap Belin. “Wanita itu harus mandiri!” ucap Lala. “Iya-iya.” Belin menuruti apa perkataan Lala.
Kemudian mereka berdua berjalan menuju kamar Lala dengan santai.
“Kamu kok bawa tas besar? mau pindah rumah yak?” tanya Lala saat berjalan menaiki tangga. “Hehe ini isinya pakaian aku sama camilan tau!” ucap Belin meringis. “Pantas aja kamu nggak kurus-kurus.” Sahut Lala. “Gimana kalo aku aja yang makan, biar kamu agak kurus dikit.” Lanjutnya. “Enak aja, ya dimakan berdua dong...” ucap Belin.
~Clek~
Lala membuka pintu kamarnya dengan pelan.
“La, kamu kalo pake ginian klihatan cantik dan anggun, suer!” ucap Belin saat mereka berdua bercermin di dalam kamar Lala. “Masak sih?” tanya Lala heran. “Beneran, suer! Coba aku rias kamu dikit ya biar tambah aduhay.” Tawar Belin. “Emmm boleh deh, tapi jangan berlebihan!” ucap Lala. “Iya-iya enggak menor kok, wakakakk.” Sahut Belin cekikikan.
Belin dengan telaten memoles wajah sahabatnya. Dimana ia selalu memperhatikan setiap titik polesannya. Sesekali Belin dibuat rileks dengan aroma khas bunga lavender yang menerobos masuk melalui cendela kamar Lala. Dan berhasil mendarat ke hidung Belin.
“Bedaknya jangan tebel-tebel!” Ucap Lala. “Enggak-enggak ini tipis banget keles, kulit kamu kan udah bersih, jadi nggak perlu pakai bedak yang tebal kalo make up natural. Eh jerawat kamu cepet banget ilangnya, kamu kasih apa emang?” tanya Belin saat mengaplikasikan bedak padat pada wajah Lala. “Aku pakai totol jerawat yang dulu belinya sama kamu.” Jawab Lala singkat. “Buset, ampuh banget. Boleh aku coba nih kalo aku sedang jerawatan.” Ucap Belin.
“Oiya aku nggak mau pakai lipstik.” Lala menghadang tangan Belin saat akan mengaplikasikan lipstik pada bibir mungilnya. “Kenapa emang?” Tanya Belin heran. “Aku belum pernah pakai lipstik, takut kalo nggak cocok...” ucap Lala. “Nggak papa keles dicoba dulu, lagian ini bukan merk abal-abal. Kamu nurut aja kalo aku poles! Gendut-gendut gini aku calon MUA loh.” Ucap Belin dengan percaya diri. (MUA adalah singkatan dari Make Up Artist). “Oh gitu, dan artistnya aku, iya kan...” ucap Lala tak kalah percaya diri.
Usai memoles wajah Lala, Belin berdiri dari duduknya dan memalingkan tubuh Lala kepada meja rias untuk memperlihatkan pesona kecantikannya.
“Gimana, kamu klihatan cantik ples-ples kan!” ucap Belin sambil mengangkat kedua jempol tangannya. Lala melihat dengan pekat seluruh tubuhnya, dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Tampilan aku berubah banget ya, Bel.” Lala sangat terkejut dan senang dengan polesan Belin. “Kamu itu tampil biasa aja udah cantik, apalagi kalo dipoles, uhhh klihatan mempesona!” ucap Belin sambil rebahan. “Udah deh mujinya, kepala aku ntar besar loh.” Ucap Lala menahan tawa.
Usai berdiri di depan meja rias, Lala menyusul sahabatnya untuk merebahkan tubuhnya diatas kasur empuknya.
“Gimana La, Wiliam?” sindir Belin. “Apaan sih, kayak anak kecil aja.” Sahut Lala. “Emmm ngapain kamu sewot kalo emang nggak ada perasaan?” Belin menjulurkan lidahnya untuk menggoda Lala. “Sinih, buka camilan kamu, mending kita ngemil aja deh!” Lala mengalihkan pembicaraan. “Hayooo ketahuan hayoo, jangan-jangan ini alasan yang bikin kamu berubah?” Goda Belin. “Ngawur kamu! Ini itu hadiah give a away satu tahun yang lalu dan belum pernah aku pakai sama sekali, sayang banget kan kalo nggak aku pakai pakaiannya. Dan untuk polesan make up, bukannya kamu yang berinisiatif untuk memoles wajah aku?” Lala menjelaskan dengan sabar. “Ohh, iya maaf deh kalo gitu, yaudah kita ngemil dan bobo ciang dulu.” Ajak Belin.