Selingkuh Atau Mati?
Suara desah nafas dan cekikikan mesra itu terdengar seiring gemericik air dari shower. Anya menajamkan pendengarannya. Memang benar, suara itu terdengar dari kamar mandi. Siapa lagi kalau bukan suaminya. Lalu suara perempuan itu siapa?
Anya membuka pintu kamar mandi yang tak dikunci.
"Astaga! Apa yang kalian lakukan?" tanya Anya nanar pada sepasang lelaki dan perempuan yang sedang bermesraan di kamar mandi.
"Apa yang kamu lakukan, Anya?!" Bastian, suaminya, membalas dengan marah.
"Memergoki kamu selingkuh!" ucap Anya.
"Kurang ajar!" umpat Bastian.
Plak!
Sebuah tamparan melayang di pipi Anya. Wanita itu jatuh terjerembab dan ....
Anya terbangun dari mimpinya.
"Oh, syukurlah ini hanya mimpi, tapi kenapa suamiku sampai saat ini belum pulang?" gumam perempuan itu.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Suaminya belum pulang dari kantor dan nomor telefonnya tak dapat dihubungi sama sekali. Ini sangat aneh. Bastian biasanya selalu pulang tepat waktu, apalagi hari Jum'at karena hari itu sering mereka gunakan untuk quality time berdua. Mimpi buruk yang baru ia rasakan menambah kepedihan di hati Anya.
"Mungkinkah suamiku sedang bersama perempuan lain?" begitu pikirnya. "Ah tidak mungkin, Mas Bastian itu sangat baik dan menyayangiku, tak mungkin ia melakukan perbuatan itu."
Akan tetapi, firasat seorang perempuan sangat kuat. Anya merasa ada sebuah hal buruk terjadi karena perasaannya tak enak. Perempuan itu bangkit dari tempat tidur dan membuat s**u hamil. Hal tersebut sering ia lakukan saat hatinya gelisah, dengan duduk tenang sambil menikmati s**u hamil dia merasa hatinya sedikit lega dan jalinan dengan buah hati dalam perutnya makin erat.
Sambil menikmati minuman hangat itu Anya duduk dan menonton televisi. Tampak sebuah berita dari chanel lokal.
"Sebuah kecelakaan terjadi di Jalan Mawar. Sebuah mobil bertabrakan dengan truk dan pengemudi tewas seketika. Hingga saat ini belum diketahui identitas korban karena polisi tak menemukan tanda pengenal apapun pada korban yang diperkirakan seorang lelaki berusia 26 tahun," ucap seorang reporter yang sedang menyiarkan berita kecelakaan lalu lintas.
Hati Anya terkesiap. Mobil yang ringsek itu benar-benar mirip mobil suaminya. Kejadian juga di Jalan Mawar, jalan yang sering dilewati suaminya tiap hari. Sekali lagi Anya berusaha menelefon Bastian, tapi lagi-lagi telefon itu tak terangkat. Anya benar-benar gelisah dan tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba muncul ide di benaknya untuk menelefon Elena, sahabatnya itu putri seorang polisi yang biasa menangani kejadian seperti itu. Siapa tahu dia bisa memberi informasi mengenai korban kecelakaan tersebut.
"Halo Elena," sapa Anya dengan suara parau karena habis menangis memikirkan suami.
"Oh hai, Anya. Apa kabar?" sapa Elena riang.
"Mmm, kurang begitu baik, Na," jawab Anya.
"Lho, kenapa Say?" tanya Elena, teman kuliah Anya yang paling dekat.
"Suamiku belum pulang hingga sekarang, padahal dia tidak pernah terlambat pulang kantor. Aku sudah menelefon satpam kantor katanya dia sudah pulang dari tadi. Aku sudah menelefon teman-temannya juga pada nggak tahu. Terus, kan di TV ada berita kecelakaan lalu lintas tu. Aku takut ... aku takut ...." Tangis Anya pecah. "Aku takut itu suamiku karen mobilnya mirip dan kejadian di Jalan Mawar, jalan yang sering banget dilalui suamiku."
"Astaga Anya." Elena ikut khawatir. "Jangan berpikir kayak gitu deh! Kamu udah tanya keluarga suamimu belum?"
"Keluarga suamiku ada di luar kota, Na. Kayaknya nggak mungkin dia ke sana, lagian nanti malah kalau akau tanya bisa jadi bahan pikiran mertua. Aku nggak enak," kata Anya.
"Hmm, sebentar. Aku tanya papaku ya, Papa biasanya ngurus masalah begini. Kayaknya papaku juga tahu masalah kecelakaan itu. Tutup telefon dulu, Nya. Nanti aku telefon lagi kalau udah nanya papa,"ucap Elena.
"Oke, Na. Aku tunggu infonya ya." Anya pun mematikan telefon. Dengan cemas ia menunggu informasi dari sahabatnya itu.
Tak lama kemudian Elena menelefon. "Halo Nya, kata Papa kamu suruh telefon Pak Rudi, bawahan Papa yang menangani kasus kecelakaan di Jalan Mawar itu. Aku kasih nomor Hp nya ya, Pak Rudi udah dikasih tahu Papa kok kalau kamu mau menelefon."
"Baik, Na. Terimakasih."
Sebuah nomor telefon langsung terkirim ke ponsel Anya. Perempuan berambut panjang itu langsung menelefon Pak rudi, pemilik nomor tersebut.
"Selamat malam Pak, saya Anya, teman Elena yang mau menanyakan mengenai korban kecelakaan di Jalan Mawar. Apa saya boleh tahu lebih lengkap mengenai korban itu Pak?" tanya Anya.
"Baik, Bu Anya. Untuk saat ini korban belum jelas siapa, saya juga sudah tidak di kantor. Untuk lebih jelasnya besok anda datang ke rumah sakit yang menangani kecelakaan tersebut ya. Nanti saya beri nomor telefon dokter yang menangani korban," kata Pak Rudi.
"Oh baiklah Pak, terimakasih," jawab Anya.
Wanita itu sebenarnya tidak puas dengan jawaban rekan papa Elena itu, tapi bagaimanapun juga dia tidak boleh menentang prosedur. Anya pun mengiyakan perkataan Pak Rudi. Namun, dalam hati ia menyimpan kegundahan yang teramat dalam. Wanita mana yang tak cemas jika menghadapi masalah seperti ini?
Dengan kegelisahannya Anya menatap rinai hujan di luar. Gerimis masih saja melantunkan lagu merdunya di antara keheningan malam. Titik-titik hujan itu tampak indah menari di antara kerlip lampu jalanan. Hujan selalu memberi kenangan indah bagi Anya dan Bastian, tapi hujan kali ini menyisakan rasa pilu di hati perempuan itu. Bahkan ia takut hujan yang turun sedari sore tadi membuat jalanan licin dan menyebabkan kecelakaan yang mungkin mengenai suaminya. Semalaman Anya gelisah. Wanita itu terus memanjatkan doa untuk keselamatan suaminya hingga ia lelah dan tertidur.
Keesokan harinya wanita itu bangun dengan terburu-buru. Matahari sudah tampak bersinar cerah, tapi Bastian belum pulang juga. Anya benar-benar cemas memikirkan suaminya. Kemana sebenarnya ia pergi?Apa yang terjadi padanya? Berjuta tanya terbayang di benak wanita itu. Ia hanya berharap suaminya selamat dan cepat pulang.
Tak sabar ia ingin segera ke rumah sakit untuk mengetahui korban kecelakaan itu. Hatinya resah tak menentu, tapi ia merasa harus menyiapkan diri. Apapun yang terjadi ia harus siap.
***
Pukul 10 pagi yang cerah, Elena sudah berada di kampus saat Ingrid menghampirinya. Dua gadis itu adalah sahabat Anya saat dirinya masih kuliah dulu. Kini Anya cuti kuliah setelah dirinya menikah dengan Bastian dan mulai hamil.
"Na, aku mau ngasih tau sesuatu ni, tapi aku kayak nggak enak gitu rasanya," kata Si Tomboy Inggrid.
"Apa Nggrid?" tanya Elena penasaran.
"Mmm, gimana ya, aku ngomongnya kayak agak nggak enak, tapi aku khawatir. Tapi sih aku berharap aja dugaanku ini salah."
"Ih, apa sih? Bikin penasaran aja."
"Aku kemarin sekitar jam tujuh malam gitu kayak lihat suami Anya di mall, tapi kok dia jalan sama cewek lain ya. Ceweknya emang kelihatannya lebih tua dari Anya, tapi dia juga cantik, seksi, dan modis," cerita Inggrid.
"Ih, masak sih? Kamu yakin itu Bastian?" Elena terkejut.
"Aku yakin Na, soalnya kami papasan beneran. Aku ingat baju nya pun sama dengan yang dipakai Bastian saat Anya mengenalkan suminya itu sama kita, suaranya sama, lagaknya juga mirip. Tapi kok dia jalan sama perempuan lain ya. Aku khawatir kalau dia selingkuh. Tapi mudah-mudahan dugaanku ini salah deh. Siapa tahu itu hanya saudara dia, kasihan Anya kalau sampai Bastian selingkuh."
"Serius Nggrid?" Anya masih terkejut.
"Iya lah serius, masak aku tega bercanda ngomongin hal kayak gini."
"Hm, iya deh aku percaya. Soalnya ... soalnya tadi malam Anya juga nelfon aku, katanya suaminya belum pulang dari kantor," cerita Elena.
"Serius Na?" Kini Inggrid yang merasa tak percaya.
"Serius lah, bahkan Anya sempet khawatir kalau korban kecelakaan di Jalan Mawar kemarin sore itu suaminya, karena mobilnya mirip," kata Elena.
"Duh, kasihan sekali Anya. Perasaanku kok jadi nggak enak sih."
"Iya, suami Anya kalau nggak kecelakaan ya selingkuh, dua-duanya sama nggak enak. Kira-kira masih ada harapan nggak sih tu suami Anya nggak kena dua-duanya?" ucap Elena.
"Hmm, entahlah Na," ucap Inggrid. "Tapi aku merasa yakin banget kalau yang papasan aku di mall sama cewek tu emang Bastian, cuma aku belum tahu jelas siapa perempuan itu. Tapi kalau jalan sama perempuan lain, dan nggak pulang ... perasaanku jadi nggak enak."
"Iya sih, kayaknya feelingmu bener Nggrid, tapi kita doakan saja ya semoga Anya nggak apa-apa," kata Elena.
"Iya bener, Na. Aku kasihan kalau sampai hal itu terjadi. Lagi enak-enaknya nikah, masak tiba-tiba ada ujian kayak gitu. Kasihan banget Anya, dia masih muda, lagi hamil, masak harus ngehadapin masalah kayak gitu." Ingrid ikut sedih memikirkan Anya, sahabatnya.
***
Sementara itu Anya telah tiba di rumah sakit. ia segera menemui dokter yang mengurusi korban kecelaakaan kemarin.
"Saya Anya Dok, yang menanyakan korban kecelakaan kemarin sore," kata Anya saat bertemu dokter.
"Selamat pagi Bu Anya. Anda orang kedua yang menanyakan korban kecelakaan tersebut Bu. Tadi sudah ada yang menanyakan, tapi ternyata mayat tersebut bukan kerabat mereka." Dokter menyambut kedatangan Anya.
Perempuan itu benar-benar miris mendengar kata 'mayat'. Ia ingat bahwa korban sudah dalam keadaan sangat tragis. Anya benar-benar tak tega jika itu memang Bastian, suaminya. Perempuan itu berharap ini hanya prasangkanya. Ia berharap Sang Suami selamat walau masih tak diketahui di mana keberadaannya. Apapun itu, dia harus siap menghadapi apa yang akan ia temui saat ini.
Bersama Dokter, Anya memasuki ruang mayat. Tampaklah sesosok mayat yang tertutup kain putih. Dari ukuran badan yang terbujur kaku itu Anya melihat sosok yang perawakannya benar-benar mirip Bastian. Benarkah korban kecelakaan itu adalah suaminya?
"Anda sudah siap melihat korban?" tanya Dokter.
"Sudah Dok," jawab Anya.
"Baik, silahkan buka penutup mayat itu," kata Dokter.
Hati Anya berdegup kencang. Dia sangat takut. Kuatkah dia melihat jasad korban tertabrak truk yang sudah hancur itu?
Dengan jantung berdebar Anya membuka penutup mayat dan melihat sosok yang berada di bawah kain putih itu.
"Aarh!" Anya tak percaya melihat mayat di depannya.
*Bersambung*