Karena Hubungan Terlarang

1332 Kata
"Gimana nih, Nya? Udah sampai sini, aku disuruh terus nyetir apa gimana?" tanya Inggrid membuyarkan lamunannya Anya. Anya dan Inggrid telah tiba di persimpangan. Jalan ke kanan menuju rumah Inggrid dan yang kiri ke rumah Anya. " Eh jangan bengong aja," kata Inggrid. "Gue suruh nyetir ke rumah lu atau gue nyetir ke rumah gue? Kalau gue nyetir ke rumah lo ntar gue pulangnya gimana?" tanya Inggrid. Anya tertawa. " Iya ya. Ya udah lu nyetir aja sampai rumah lu ntar dari rumah lu gue nyetir sendiri ke rumah," katanya. Perempuan itu merasa tak enak karena sudah merepotkan sahabatnya. " Bener nih nggak pa pa?" tanya Inggrid. " Iya iya nggak pa pa, aku bisa kok jalan sendiri," jawab Anya. Inggrid menatap Anya dengan khawatir. " Tapi kamu yakin kan nggak apa-apa?" tanyanya sekali lagi. "Iya santai aja," jawab Anya. "Ya udah. Kamu yang sabar ya, jangan pikirkan terlalu berat, nanti pasti ada jalan keluarnya kok," kata Inggrid. "Iya makasih atas bantuannya ya. Paling nggak aku udah tahu kalau Bastian emang punya cewek lain. Kalau enggak kan aku masih bingung juga," jawab Anya. "Iya, kamu yang sabar ya. Tetep dengan pesanku, kamu pura-pura nggak tahu dulu dan kalau ada apa-apa bilang sama kita-kita. Aku sama Elena pasti siap membantumu," kata Inggrid. Akhirnya nya mobil itu berjalan ke rumah Inggrid. Setelah Inggrid turun, Anya menyetir mobilnya sendiri menuju rumahnya. Sepanjang jalan Ayah masih melamun mengingat masa lalunya. Angan Anya pun menerawang ke masa lalu setelah ia putus dengan Bastian *** Sabtu pagi itu, setahun yang lalu Anya datang kerumah Bastian dengan motor. Lelaki itu menyambutnya dengan acuh. Anya tak peduli. Ia berlari menghampiri dan memeluknya dari belakang. "Mas Bastian, maafin aku," rengek Anya. "Aku nggak mau putus, Sayang. Aku mau kita kayak dulu lagi." "Tapi papamu menolak aku, Anya. Aku juga punya harga diri," ucap Bastian ketus. "Papaku khilaf, Mas. Dia sedang marah karena aku pergi tanpa pamit bersamamu, tapi semua ini masih bisa dibicarakan baik-baik." "Kamu nggak tahu gimana perasaanku, Nya. Aku mencintaimu dengan tulus, bahkan aku sudah mengajakmu menikah, tapi papamu malah meremehkanku. Aku benar-benar sakit hati." "Maafin papaku, Mas. Tolong jangan marah sama aku. Apa kamu nggak kasihan sama aku? Masa depanku sudah kamu rusak, tapi kamu malah meninggalkanku," tangis Anya. "Kita kan melakukannya suka sama suka." Anya hanya bisa menangis tersedu. Dia sangat menyesali perbuatannya. Kenapa dia mau-maunya berbuat hal seperti itu dengan Bastian? Kenapa dia mau menyerahkan kegadisannya pada lelaki itu? Kini semuanya hancur. Anya tak tahu lagi harus bagaimana. "Sudahlah Anya, sebentar lagi aku mau pergi. Lebih baik kamu segera pulang." Secara halus Bastian mengusir Anya. "Tidak! Aku tidak mau pergi!" raung Anya. Bastian merangkul Anya keluar. "Ayo kita bicara," katanya. Anya menurut saja. Namun, ketika tiba di depan pintu Bastian mendorongnya keluar dan menutup pintu rapat-rapat. "Mas! Mas! Jangan perlakukan aku seperti ini Bastian!" Tangis Anya. Gadis itu tetap menggedor-gedor pintu, tapi Bastian tak juga membukanya. Anya menangis dengan kecewa. Ia benar-benar sedih dan putus asa, tak percaya semua ini terjadi padanya. Rintik hujan mulai datang. Anya khawatir hujan itu semakin deras. Walaupun urusannya dengan Bastian belum selesai, tapi ia sudah putus asa dan takut hujan makin deras. Gadis itu pun segera mengenakan mantel dan pulang. Seperti hari-hari kemarin, Anya mengendarai motornya di tengan hujan sambil menangis. Ia tak percaya nasib seperti ini akan menimpanya. Anya tiba di rumah dengan suhu tubuh tinggi. gadis itu merasa pusing dan lesu. Ia segera ke kamar dan merebahkan diri. Pikirannya sudah sangat penat, ia hanya ingin tidur dan istirahat. Karena anaknya tak juga keluar dari kamar, mamanya cemas. Wanita empat puluh lima tahun itu memegang dahi Anya. "Dia sangat panas," gumamnya. Saat itu Anya terbangun. "Kamu sakit, Nya?" tanya Mama cemas. "Entahlah Ma," jawab Anya sedih. "Boleh Mama bertanya, Sayang? Apa sebenarnya yang terjadi? Apa kamu ... putus dengan Bastian?" tanya Mama. Tangis Anya meledak. "Mama, maafin Anya," ucap gadis itu sambil memeluk mamanya. Melihat reaksi putrinya itu Bu Dibyo sangat sedih. Naluri seorang ibu telah mengatakan terjadi hal berat pada anaknya itu, ia merasa harus lapang d**a menerima kenyataan yang mungkin akan menyesakkan pikirannya. "Apa yang terjadi? Ayo katakan pada Mama." Perempuan itu berusaha tenang. "Tapi ... Anya takut Mama sama Papa marah," kata perempuan bertubuh mungil itu. "Mama janji tidak akan marah, asal kamu berterus terang pada Mama." Anya mengusap air mata lalu bercerita. "Ma, Bastian memutus hubungan dengan Anya, sehari setelah ia mengambil kegadisan Anya." "Apa??" Hampir saja Bu Dibyo tak mampu mengendalikan amarahnya. "Maafkan Anya, Ma. Maafin Anya." Tangis perempuan berambut panjang itu. Melihat putrinya sangat sedih dan dalam keadaan tidak fit Bu Dibyo merasa tak tega. Ia pun memeluk putrinya dan menangis berdua. "Mama, Anya merasa sangat mencintai Mas Bastian. Anya merasa dia lelaki yang paling baik dan tak tergantikan. Karena itu saat dia mengajak nikah Anya pengen buru-buru nikah tapi Papa nggak mengizinkan. Dua hari lalu Anya diajak keluar kota untuk dikenalkan pada keluarga Mas Bastian. Tapi kami menginap di penginapan Ma, dan malam itu semua terjadi. Anya nyesel sudah menyerahkan kegadisan Anya pada Bastian." Tangis Anya. Hati Bu Dibyo hancur. Anak perempuan satu-satunya yang ia jaga dari kecil ternyata dirusak oleh seorang lelaki asing. Rasanya ia juga tak sudi menikahkan putri kesayangannya pada lelaki biadab itu. Namun bagaimana masa depan Anya jika ia tak dinikahkan dengan lelaki yang telah merenggut kesuciannya itu. Mungkinkah juga dirinya bisa membujuk Bastian untuk menikahi Anya setelah mereka putus? Hati wanita 40an tahun itu benar-benar teriris, tapi demi putrinya dia berusaha bersabar. Wanita itu membelai rambut putrinya dan berkata. "Ya sudah, kamu istirahat dulu. Tubuhmu sangat panas. Nanti kita cari jalan keluarnya," kata Bu Dibyo. Anya menuruti kata mamanya. Gadis itu segera membaringkan tubuhnya di dipan dan tidur. Bu Dibyo beranjak dari kamar putrinya dengan hati yang sangat gundah. Ia juga tak tahu apa yang harus dikatakan pada suaminya mengenai keadaan ini. *** Paginya Anya tak juga beranjak dari kamar. Saat Bu Dibyo mau membangunkan, ia mendengar putrinya itu sedang muntah-muntah di kamar mandi. "Astaga, jangan-jangan anakku hamil," gumam Bu Dibyo gusar. "Kamu sakit, Nya?" tanya Mama setelah Anya keluar dari kamar mandi. Anya hanya mengangguk lemah dan kembali tidur. Wajahnya sangat pucat, tubuhnya panas tapi badannya menggigil. Bu Dibyo benar-benar khawatir anaknya itu hamil. Ia belum menceritakan pada Sang Suami tentang apa sebenarnya yang terjadi pada Anya. Ia takut suaminya akan marah dan menghajar Anya jika tahu anaknya itu sudah memberikan kegadisannya pada Bastian. Karenanya wanita itu meminta Adya mengantar keduanya ke dokter untuk memeriksakan Anya. Alangkah lega hati Bu Dibyo ketika tahu anaknya tidak hamil, melainkan hanya demam biasa. Mama Anya pun membawa anak perempuan itu kembali. Walaupun yang ia takutkan tak terjadi, tapi sebagai ibu dia sedih kalau anaknya sakit. Perempuan itu pun menjaga Anya di samping tempat tidur gadis itu sambil merajut. "Ma, maafkan Anya Ma, Anya sudah membuat Mama dan Papa kecewa karena ulah Anya," kata gadis itu dengan suara lemah. Dengan tangannya yang panas, ia menggenggam tangan ibunya. "Mama memang kecewa, Anya. Tapi semua sudah terlanjur. Sekarang yang terpenting memikirkan bagaimana masa depanmu," jawab Bu Dibyo. "Lalu apa yang akan kita lakukan, Ma?" tanya Anya. "Mama bicara dulu pada papamu Sayang," jawab Bu Dibyo. *** Malam harinya, ketika mau tidur Bu Dibyo berusaha bicara baik-baik pada Sang Suami. "Pa, menurutku sebaiknya kita mengizinkan Anya menikah dengan Bastian," katanya. "Apa?? Tidak! Aku sudah menegaskan Anya tak boleh menikah dini. Ia harus lulus kuliah, kerja, baru menikah," ucap suaminya tegas. Bu Dibyo terdiam sebentar. Ia ingin bercerita keadaan Anya yang sudah diambil kesuciannya oleh Bastian, tapi ia takut suaminya itu marah. Namun, pada akhirnya dia memutuskan untuk bicara. "Pa, aku mau bicara, tapi tolong kendalikan emosimu ya, ini untuk kebaikan anak kita," katanya. Pak Dibyo sudah menduga istrinya itu akan membicarakan Anya, sebab tak mungkin membicarakan Adya yang jarang ada masalah. "Kamu mau ngomongin Anya? Ada apa dengan anak itu?" tanyanya. "Pa, dia ... dia ... sudah melakukan hubungan suami istri dengan Bastian," ucap istrinya. "Apa??" Pak Dibyo langsung naik pitam. Dengan tangan terkepal dia beranjak dari tempat tidur siap menghajar Anya. *Bersambung*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN