FITNAH MANTAN (2)
(Tiga tahun kemudian)
Aku menatap barang-barang yang kebanyakan dibungkus oleh kardus berwarna cokelat. Hari ini Pak Kairav resmi pindah.
Pak Kairav memiliki kondisi tubuh yang nggak biasa. Albino—kalau aku tidak salah dia pernah memberitahuku. Di mana kulit Pak Kairav sangat pucat. Rambutnya bahkan nyaris tanpa warna, pirang yang mendekati putih. Kini, usianya sudah hampir tiga puluh tiga.
Tiga tahun lalu, aku ditalak oleh Mas Vano lalu diusir dari rumahnya. Ketika sedang menunggu taksi atau ojek untuk pergi ke rumah sakit lain—aku masih penasaran dan ingin memeriksan kandunganku pada dokter lain. Namun, empat orang preman tiba-tiba datang, mengambil semua harta yang aku miliki. Tas berisi pakaian, dompet, ponsel, cincin kawin, semuanya raib diambil.
Aku benar-benar kebingungan saat itu. Dunia rasanya begitu gelap dan tak berpihak.
Dalam kondisi lapar serta kebingungan, aku berjalan tanpa tujuan. Hingga ketika melewati jalanan yang cukup sepi, aku melihat seseorang terkapar di sisi jalan. Orang itu tidak lain Pak Kairav—sampai hari ini, aku tidak tahu kenapa waktu itu Pak Kairav bisa terkapar di jalan.
Mengikuti dorongan hati, aku langsung menghampiri Pak Kairav yang terkapar waktu itu. Mencoba membuatnya bangun. Namun, tidak berhasil. Hampir seluruh kulit Pak Kairav memerah pada saat itu. Lalu, aku memutuskan untuk memapahnya.
Ketika keluar dari jalan sepi ke jalan yang lebih ramai, sebuah mobil suv hitam menghampiri. Empat orang pria berseragam hitam keluar. Awalnya mereka munuduhku ingin mencelakai Pak Kairav. Namun, setelah aku jelaskan mereka memintaku ikut.
Saat Pak Kairav sadar, dia memanggilku. Katanya dia sudah mendengar kalau aku yang menyelamatkannya. Tentu saja itu berlebihan, aku hanya memapahnya.
Pak Kairav menanyakan asal-usulku.
Aku menjelaskan kalau aku yatim piatu dan baru diceraikan. Tidak punya tempat tinggal.
“Maaf kalau mencampuri urusan pribadi. Tapi kalau boleh saya tahu, kenapa kamu diceraikan?”
Butuh beberapa menit bagiku untuk menjawab pertanyaan Pak Kairav waktu itu. Aku kemudian memilih jujur menceritakan semuanya.
Pak Kairav terlihat marah mendengarkan semua ceritaku. Dia lalu meminta asistennya untuk mengantarku ke ketiga rumah sakit berbeda untuk diperiksa. Hasilnya, ketiga rumah sakit mengatakan kalau usia kandunganku baru dua minggu atau satu bulan jika dihitung dari hari terakhir haid.
Dengan semua bukti, Pak Kairav menawarkan keadilan padaku. Namun, aku menolaknya. Sebab, selain cinta, sebuah pernikahan seharusnya dibarengi juga oleh kepercayaan pada masing-masing pasangan.
Sementara, Mas Vano?
Mas Vano bahkan nggak berusaha mencari kebenarannya dulu.
Lagipula, aku sudah diceraikan.
Pak Kairav lalu menawarkan tempat tinggal padaku. Dia bersikeras berpikir bahwa aku telah menyelamatkan nyawanya.
Kini, sudah tiga tahun aku ikut bersama Pak Kairav.
Tiga tahun ke belakang, Pak Kairav memilih sebuah rumah di dekat pantai. Sepi dan agak jauh dari pemukiman. Pak Kairav nggak lumpuh, tetapi dia lebih suka duduk di kursi roda. Mungkin karena kondisi tubuhnya yang lemah. Jadi, dia menghemat semua tenaga. Hanya berdiri di atas kakinya sendiri kalau memang krusial.
Tiga hari lalu, dia tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke ibu kota. Aku tidak diberitahu alasannya.
…
Senyumanku mengembang saat melihat Kioya.
Kioya mewarasi semua bentuk wajah ayahnya—Mas Kiovano. Kulitnya cerah. Hidung mancung, bibir tipis, alis lebat dan tegas. Wajahnya seperti rembulan yang bersinar. Kalau tersenyum, akan tampak deretan gigi putihnya yang rapi.
Jika Kioya difoto, kemudian fotonya disandingkan dengan foto Mas Vano kecil. Aku yakin, akan ada banyak orang kebingungan untuk membedakan keduanya—keduanya serupa pinang dibelah dua.
“Papa!” Kioya langsung melompat begitu Pak Kairav datang. Meski tanpa ada ikatan pernikahan, Pak Kairav bersedia menjadi ayah pengganti untuk Kio.
Pak Kairav menyambut Kioya. Membawa anak berambut lurus nan lebat itu ke pangkuannya, mencium puncak kepalanya. Dia benar-benar memperlakukan Kioya seperti anak kandungnya sendiri.
Aku sangat berterima kasih.
Walau tanpa Mas Vano, Kio tak kekurangan kasih sayang.
“Mas,” lirihku.
Pak Kairav menoleh. “Kenapa?”
Dulu aku memanggil Pak Kairav dengan sebutan pak. Namun, setelah Kioya lahir, Pak Kairav meminta mengubah panggilanku padanya menjadi mas. Aku menurutinya saja.
“Mau dimasakan apa?” tanyaku.
“Terserah kamu.”
Aku mengangguk mengerti. Pak Kairav memang tidak suka menghabur-hamburkan kata-kata. Dia akan menjawab efektif dan seperlunya saja.
Jika dia ingin makan sesuatu dia akan mengatakannya saat aku tanya. Namun, ketika seleranya sedang buruk dia akan mengatakan terserah. Sedikit banyak dari sifatnya yang aku ketahui.
Kendati begitu Pak Kairav bukanlah tipe orang yang dingin. Sebaliknya, dia sangat ramah dan hangat. Hanya saja tidak terlalu suka basa-basi.
Di rumah lama, Pak Kairav memiliki dua orang koki. Mas Juliano dan Mbak Charela. Mereka suami istri. Sekarang mereka ikut pindah. Kadang-kadang Pak Kairav ingin makan makanan yang dimasak olehku saja.
Tugasku setiap hari adalah menanyakan makanan apa yang ingin dimakan Pak Kairav lalu meneruskannya ke Mas Juliano dan Mbak Charela. Jika Pak Kairav ingin aku yang memasak, dia akan mengatakannya.
Dan makna dari kata ‘terserah kamu’ berarti aku yang memutuskan makanan yang harus dimasak Mas Julano dan Mbak Charela. Jika Pak Kairav ingin aku yang memasak makanannya dia akan bilang: saya mau makan tim hati bebek, tapi kamu yang masak—misalnya.
“Mai,” panggil Pak Kairav.
Aku berbalik. “Ya.”
“Gimana kalau makan di luar?”
“Terserah Mas ajah.”
“Pukul empat nanti.”
Aku mengangguk.
…
Aku tidak tahu kepercayaan apa yang dipeluk Pak Kairav. Aku tak pernah melihatnya shalat, ke gereja, ke kuil, atau ke klenteng. Mungkin nggak memiliki kepercayaan. Aku tak berani menanyakannya karena itu sesuatu hal yang pibadi.
Satu hal yang pasti, Pak Kairav selalu memperlakukanku dengan baik. Tidak pernah berlaku kurang sopan. Bahkan jika ingin pergi pun dia selalu menyesuaikan agar aku bisa mengerjakan shalat dulu.
Walau aku dan Pak Kairav makan di luar. Di rumah Mas Juliano dan Mbak Charela tetap memasak. Masakan ini untuk para pekerja rumah: asisten rumah tangga, supir, tukang kebun, dan para bodyguard.
Aku nggak tau kenapa Pak Kairav selalu diikuti sedikitnya dua bodyguard. Di rumah yang baru ini jumlah bodyguard malah lebih banyak. Mungkin ada tiga puluhan. Mas Vano saja hanya memiliki supir dan asisten pribadi.
“Mai.”
Panggilan Pak Kairav membuatku tersadar dari lamunan. Aku merapikan jilbab dan bergegas keluar kamar.
Pak Kairav sudah menunggu di kursi roda, Kioya di pangkuannya. Mas Daffa, asisten pribadi Pak Kairav, bersiap mendorong kursi roda. Mas Daffa pria paruh baya berbadan tinggi tegap. Cambang di area rahangnya tumbuh lebat. Dia memiliki hidung yang bangir dan tegas. Rambutnya klimis dan agak gondrong.
Sejak dulu, kalau berpergian, Pak Kairav selalu menggunakan mobil besar berwarna hitam. Aku tidak tahu jenis mobil apa. Yang pasti, memiliki enam kursi dan bagasinya cukup untuk menyimpan kursi roda.
Mas Daffa akan duduk mengemudi, Pak Affan duduk di sampingnya. Aku dan Kioya duduk di tengah. Di belakang, Mas Ferdian dan Yozi.
Mas Ferdian kepala bodyguard. Memiliki tinggi di atas rata-rata. Jika Pak Kairav berdiri berhadapan, tingginya hanya sebatas d**a Mas Ferdian. Dia tak memiliki rambut alias plontos. Berwajah dingin dan nggak pernah tersenyum—selama tiga tahun aku tidak pernah sekali pun melihatnya tersenyum. Di lehernya ada tato naga berwarna hitam, melingkar sampai ke sebagain wajah kanannya.
Yozi usianya baru sembilan belas tahun. Tampan dan murah senyum. Kulitnya putih bersih, rambutnya lebat dan agak sedikit ikal. Badannya tidak terlalu tinggi, tetapi tegap berisi. Ketimbang jadi bodyguard, aku rasa dia lebih cocok jadi model atau anggota boyband.
…
Mobil diparkir di halaman sebuah restoran.
Yozi yang paling cekatan turun dan membukakan pintu untukku. Membalas senyuman ramahnya, aku berterima kasih.
Mas Ferdian menyiapkan kursi roda, sementara Mas Daffa membukakan pintu untuk Pak Kairav. Aku sudah terbiasa dengan semua ini.
Saat Mas Daffa menyiapkan kursi roda. Sebuah mobil jaguar hitam terparkir tak jauh dari rombonganku. Awalnya aku tak menaruh perhatian. Namun, ketika supir membukakan pintu dan Mas Vano turun dari mobil itu. Seketika juga aku ingin cepat-cepat menghilang.
Aku ingin masuk kembali ke dalam mobil. Namun, terlambat. Mas Vano sudah telanjur melihatku. Jarak antara mobil Pak Kairav dan Mas Vano memang sangat dekat.
Kini, Mas Vano berdiri tak jauh dariku. Matanya tak berkedip menatap Kioya. []