BAB 1 Talak
Fitnah Mantan
Diceraikan karena hamil dua bulan di usia pernikahan yang baru dua minggu.
…
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipiku.
“Apa maksudnya ini?” Mas Vano membentak keras. Suaranya menggelegar ke seantero ruangan. Membuatku gemetar ketakutan. Sementara Dokter tampak menganga menyaksikan apa yang terjadi di depan matanya.
Aku dan Mas Vano baru dua minggu menikah. Namun, tadi pagi aku jatuh pingsan. Meski sudah dibilang nggak apa-apa, Mas Vano bersikeras membawaku ke rumah sakit. Anehnya, hasil pemeriksaan menunjukkan kalau aku hamil dan usia kandungannya sudah dua bulan—Dokter Lesta sendiri yang mengatakannya.
“Demi Allah, Mas. Demi Allah, aku nggak pernah melakukan hubungan itu dengan siapa pun kecuali sama kamu.” Aku berusaha membela diri.
“Halah! Bulshit! Bisa-bisanya kamu masih berlaga polos.” Mas Vano mendorong tubuhku yang berusaha mendekatinya. Tubuhku menabrak brankar lalu jatuh tersungkur ke lantai.
“Aku juga nggak tau, Mas. Aku juga nggak tau! Tapi Demi Allah, aku nggak pernah mengkhianat kamu.” Aku nggak tahu lagi gimana menjelaskannya supaya Mas Vano percaya.
“Nggak usah bawa-bawa nama Allah. Seharusnya sejak awal saya dengerin omongan Mama. Orang miskin kayak kalian, sukanya memang menipu. Hari ini juga kamu saya talak. Pergi dari kehidupan saya.”
“Astagfirullahala’dzim, Mas!” Air mataku luruh tak terbendung. “Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu nggak coba cari tau dulu. Barang kali ada yang salah sama pemeriksaannya. Dan lagi … memangnya kamu nggak bisa merasakan kalau malam itu kamulah yang pertama kali menyentuh aku.”
Wajah Mas Vano memerah. Entah karena malu atau karena marah.
“Mbak Maira, tolong dijaga kata-katanya, ya. Dengan Mbak meragukan hasil pemeriksaan, secara nggak langsung Mbak sudah merendahkan harkat dan martabat saya sebagai dokter.” Dokter Ketrin terlihat marah.
Mas Vano mendengkus.
Dokter Ketrin dokter kepercayaan keluarga Mas Vano.
“Sudah jelas semuanya!” Mas Vano memandang jijik.
“Tapi Ma—”
Mas Vano pergi, bahkan sebelum aku selesai bicara.
Dokter Ketrin memandang sinis beberapa detik, kemudian ikut melangkah meninggalkan ruangan. Tinggal aku sendiri menangis sesenggukan.
Ya Allah, kenapa bisa ini semua terjadi?
Hanya Mas Vano yang pernah menyentuhku.
…
Mas Vano benar-benar meninggalkanku sendirian di rumah sakit. Mobilnya sudah tidak ada di parkiran.
Bagaimana caranya aku pulang?
Aku melangkah ke halaman, berharap ada tukang ojek atau taksi di depan. Saat melewati parkiran menuju pintu gerbang, aku melihat Dokter Ketrin sedang bicara dengan Putri—mantan pacar Mas Vano.
Sayang jarak antara aku dan mereka cukup jauh dan terhalang kaca. Jadi, nggak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Setahuku, Putri belum menikah.
Kenapa dia menemui Dokter Ketrin?
Apa mungkin ini semua ada hubungannya dengan hasil pemeriksaan Dokter Ketrin yang keliru? Aku sangat yakin hasil pemeriksaan Dokter Ketrin keliru. Tidak mungkin. Sebab aku tidak pernah tidur dengan laki-laki mana pun sebelum menikah dengan Mas Vano.
Kurang lebih menunggu dua puluh menit, akhirnya sebuah taksi melintas. Untung saja aku sempat membawa dompet saat diajak ke rumah sakit sama Mas Vano.
Kurang lebih tiga puluh menit, aku akhirnya tiba di rumah Mas Vano. Namun, gerbang rumah tertutup rapat. Pak Wawan dan Pak Jajat menyambutku, tetapi wajah mereka kelihatan bingung.
“Maaf, Mbak. Mbak Mai nggak dibolehkan masuk sama Tuan.” Pak Wawan kelihatan merasa bersalah, sementara Pak Jajat mengangguk membenarkan.
Pak Jajat mengambil tas besar di pos lalu menyerahkannya padaku. “Kata Tuan, ini barang-barang Mbak Mai dan harus saya berikan kalau Mbak Mai datang ke rumah ini.”
Ya Allah.
Mas Vano bahkan nggak memberi aku kesempatan bicara. Sebegitu nggak percayanya kamu sama aku, Mas?
Perih, aku melangkah pergi meninggalkan rumah besar itu. Apa memang begini nasib menjadi orang miskin, begitu mudahnya untuk dicampakan. []