“Papa harus mau, kalo enggak mau, aku marah!” “Tapi, apa Miss Prily mau?” tanya Pradipta menatap ke arah Prily membuat jantung gadis itu yang mendengarnya berdegub kencang. Ia benar-benar tak sehat, padahal pria itu hanya menatapnya dengan pandangan biasa. “Mami mau kan?” tanya Pricilia sambil menyenggol lengan Prily yang nampak terdiam . “Alah, pasti mau. Enggak usah sok jual mahal gitu, Mi,” sahut gadis itu sambil menyengir membuat Prily gemas ingin membekap mulut gadis itu. “Iya, Pak, saya mau,” kata Prily malu-malu. Ia menganggukan kepalanya tanda benar-benar mau. Pricilia yang melihatnya mendengus geli, ia yakin jika sekarang dalam kondisi sepi, Mami dadakannya itu pasti akan melompat-lompat kegirangan. Pricilia yang melihat Prily nampak begitu bahagia tidak bisa menutupi senyumny

