Keadaan hening menyelimuti suasana di dalam mobil yang kini menuju salah satu tempat casting sebuah film. Seorang gadis yang berada di bangku belakang beberapa kali menghela nafasnya pendek sambil menatap ke arah jendela mobil yang menampilkan pemandangan kota sibuk. Betapa sialnya hidupnya, tidak bisa menentukan kemauannya sendiri. Pricilia menyandarkan tubuhnya ke kursi penumpang, memejamkan matanya berharap bisa bangun saat seribu tahun lagi ketika otak dua orang yang berada di depan itu—- Papa dan Omanya berevolusi menjadi lebih pengertian. “Jangan tidur, kita sebentar lagi sampai,” kata Sahara melirik cucu perempuannya memejamkan mata di bangku belakang. Gadis itu mendengus kasar dan membuka kedua kelopak matanya. “Aku enggak tidur,” ketusnya. “Lihat sikap buruk anak itu, entah

