“Ssst.... sudah jangan menangis lagi. Hujan saja sudah reda.” “Huhu—hiks enggak bisa, Pak hikss.” Prily memanyunkan bibirnya ketika Pradipta mintanya untuk berhenti, padahal ia sangat ingin namun tidak kunjung berhenti. Hatinya masih merasa sedih, sedikit kecewa dan juga bahagaia—-karena Pradipta memeluknya. Semuanya bercampur menjadi satu. Gadis itu kembali mengeratkan handuk yang sedang membalut tubuhnya, menatap Pradipta sedang duduk di bangku yang tak jauh darinya. Mereka saat ini berada di teras rumah laki-laki itu. Isakanya perlahan reda namun tidak dengan hatinya yang merasa sakit. Prily tersentak ketika mendengar suara gebrakan, ternyata itu Pricilia yang sengaja menyengol pintu rumahnya dengan mata yang menatap tajam ke arahnya. “Ini tehnya, Nyonya.” Pricilia meletakan teh i

