“Kok gugup, sih?!” Prily mengigit bibir bawahnya ketika ia akhirnya sampai di depan kantor yang sudah nampak megah dari luar. Perempuan itu kemudian menghembuskan nafasnya, berusaha mengusir gugup di hatinya. Gadis itu kembali menatap paperbag yang berisi makan siang di tangannya. Prily memantapkan hatinya, untuk tidak merasakan apapun lagi tentang Pradipta. Tujuannya mengantarkan makan siang ini hanya sebagai bentuk terima kasihnya pada laki-laki itu karena sudah membantunya. Hanya itu, hanya itu. Namun, sekuat apapun Prily untuk terlihat mahal. Ia tetap tidak akan bisa mempertahankan sifat aslinya. “Tahun depan, plis jadi isteri pemilik kantor ini!” ucapnya sebelum masuk ke dalam kantor. Prily langsung melangkahkan kakinya menuju bagian penerima tamu. Sekarang, ia memang harus ke

