“Apa kehidupan di penjara enak, adikku sayang?” tanya Amira tersenyum licik. Prily mendongakan kepalanya, bola matanya menatap nanar ke arah seorang perempuan yang tersenyum lebar ke arahnya. Nafasnya menjadi terengah kala benci itu menggununginya, tangannya tak ia biarkan untuk terbuka, terkepal terus hingga merah, karena takut tangannya tak bisan menahan untuk menampar mulus pipi Kakaknya itu. Kakak? Ah, Prily tak sudi memanggil wanita sialan yang ada di depannya dengan sebutan itu! “Apa kabar Prily?” tanya Amira tersenyum lembut dengan menatapnya sendu membuat Prily ingin muntah detik itu juga. Jika mereka menganggapnya adalah Prily yang polos, mereka salah. Prily yang dulu telah mati. Ia yang sekarang tidak akan pernah takut lagi. “Lho kok Kak Mira nanya sih? Bukannya sering kepoi

