Who Is She?

1263 Kata
Hai wanita cantik, siapa kamu yang sebenarnya? -Manggala Yudha- _________________________________________ "Arrgghhh," lenguhku di tengah pelajaran kaduaku yang baru saja berlangsung, otak bodohku mengingat kejadian kemarin. Kejadian soal aku yang dipermalukan junior bernama Sena karena selorohannya di depan semua siswa baru. Astaga, itu membuat wajahku terlipat sejak tadi. Malu sekali rasanya. Tapi jantungku juga tetap berdetak kencang saat mengingat wajahnya. "Kamu kenapa, Yudha?" tanya guru yang paling, ya, paling aku benci. Karena beliau galak banget. Dan sekarang aku membuat kesalahan di jam pelajarannya, bahkan di hari pertama. Yah, setelah empat hari tidak ikut pelajaran. Ini hari keduaku masuk kelas dan hari pertama mengikuti pelajaran Ibu Guru yang pernah mengajarku mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas sepuluh. "Nggak Bu, kejepit meja, Bu," jawabku bohong. Tapi aku sudah tahu kalau pada akhirnya, Ibu Guru Killer ini akan percaya. Karena biasanya, beliau percaya ucapanku. Benar kan? Beliau langsung mengangguk pelan lalu melanjutkan penjelasan beliau. "Kenapa kamu, Yud?" bisik Rendy dari belakang. Wajahnya pasti sengat dekat dengan tengkukku. Karena dapat aku rasakan napasnya menerpa leher belakangku. Aku setengah berbalik. "Gila! Aku inget cewek kemarin, si Sena," kataku berbisik-bisik. "Kamu jatuh cinta beneran, toh?" tanyanya masih dengan bisikan. "Nggak lah, Gila kali!" Aku terpancing emosi. Mengeluarkan suara keras. "Yudha!" bentak Ibu Guru. Matilah aku! "Ya, Bu?" Merasa bersalah. "Kenapa lagi?" Menahan napas beliau. Beliau pasti mencoba sabar. Aku tahu, beliau bukan orang yang sabar menghadapi suara-suara lain di dalam kelas, selain suaranya. "Tidak, Bu," jawabku menunduk. So, sebenci apapun kalian terhadap guru kalian, jangan pernah berlaku tidak sopan terhadap beliau. Karena bagaimanapun beliau telah memberi kalian harta yang begitu berharga. "Kamu ke perpustakaan sekarang!" Suara beliau sedikit meninggi. "Kamu cari sebuah buku yang menurut kamu bisa membangkitkan rasa nasionalisme kamu. Apa pun itu! Buku sejarah, buku PKN, novel, biografi, otobiografi, atau apa pun itu! Baca buku itu sampai selesai!" perintahnya menghela napas. "Pusing saya kalau harus mendengar suara kamu! Termasuk Rendy!" Menatap sinis Rendy di belakangku. "Kalian pikir ibu nggak tahu gerak-gerik kalian?" Ibu guru yang satu ini memang begitu teliti. Beliau pasti tahu kalau tadi aku melamun dan baru saja aku juga Rendy mengobrol. Aku nggak heran sih. Sebenarnya juga beliau tidak percaya dengan omonganku, hanya mencoba sabar terhadap tingkahku. "Kalian berdua ke perpustakaan sekarang! Buat laporan! Kasih alasan kenapa buku itu bisa bikin kalian semakin jatuh cinta sama Indonesia!" perintah beliau sekali lagi. "Nggih, Bu," jawabku dengan Rendy serentak. Memang lebih baik kalau kami ke perpustakaan sekarang. Menjernihkan pikiranku utamanya. "Enak banget, Ikut lah aku," bisik salah satu teman perempuan di sampingku. Aku paham sekali banyak yang tidak suka dengan ibu guru yang satu ini. Karena saat pelajaran, bukannya pelajaran yang masuk ke dalam otak, tapi justru mimpi. Banyak yang mengantuk. Haha. "Zia!" Tuh kan, ibu guru langsung tahu saat Zia temanku ini bahkan hanya berbisik kecil. "Ya, Bu." Zia juga langsung menunduk. Aku dan Rendy menahan tawa untuk selanjutnya keluar kelas menuju perpustakaan. Serasa keluar dari balik jeruji besi. "Eh, kamu beneran tadi mikirin cewek itu?" tanya Rendy mengimbangi langkahku. Aku mengangguk. "Kamu kayanya jatuh cinta beneran deh sama dia." Rendy semacam tahu saja tentang apa itu cinta? Dia saja berulang kali melakukan pendekatan dengan cewek-cewek dan selalu gagal. Alhasil dia masih jomblo sampai sekarang. Aku juga jomlo sih. Yah, setidaknya aku lebih baik dari Rendy lah. Paling tidak selama sekolah di sini ada beberapa cewek yang menyukaiku, bahkan ada yang terang-terangan bilang padaku di depan teman sekelasku. Cewek anak IPA dua, tapi aku tidak suka. Dia cewek yang terlalu frontal. "Nggak, Ren, aku tadi cuma kebayang pas kejadian MPLS hari terakhir kemarin itu," jawabku menekuk wajahku. Malu sekali. Oh, MPLS adalah Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, gantinya MOS. "Udah kemarin, kemarinnya lagi dan kamu masih kepikiran? Toh, adik-adik juga sudah lupa, Yud. Nggak ada juga yang berani ngejek kamu. Mereka tahulah kalau itu cuma dagelan semata." Kaki kami sudah sama-sama masuk ke dalam perpustakaan saat Rendy baru saja selesai berbicara. Langkah kami terhenti tepat di jarak tiga meter dari pintu perpustakaan. Mata kami terpana akan seorang siswi yang satu meter tepat di depan kami. Siswi yang baru saja kami bicarakan, berjalan dengan teman perempuannya. Dia juga berhenti sama seperti kami. Hasilnya, dua laki-laki berhadapan dengan dua perempuan sekarang ini. "Ini bukan jalan punya nenek moyang kakak kan, ya?" Kata perempuan yang paling cantik. Ya, perempuan yang membuatku malu, Sena. "Oh, maaf." Rendy mendorongku untuk memberi jalan. Pintu perpustakaan memang hanya muat untuk dua orang. Tapi tingginya bisa untuk dua orang, tiga meter lebih mungkin tinggi pintu ini. Kalau suatu saat kamu bertemu dengan arsitektur perpustakaan ini, aku pasti akan bertanya, apa maksud dari dibangunnya pintu salah kaprah ini? "Mari, Kak," sapa dua perempuan itu pada Rendy. Mereka melupakan aku. "Ah," aku bernapas setelah paru-paruku berhenti sejenak. Jantungku berdetak kencang. Apalagi ini?! "Mau seberapa keras kamu menolak cinta, dia tetap datang dan bersemayam di hatimu, Yud," ucapan Rendy seperti pujangga cinta saja. "Ishh," desahku kembali melanjutkan langkahku menuju rak-rak buku sejarah. Mungkin cuma itu bayanganku tentang rasa cinta tanah air. Menurutku memang sejarah yang melahirkan cinta. Satu buku IPS sejarah telah berada di tanganku. Anak IPA tapi belajar IPS di perpustakaan. Duduk berdua dengan Rendy di meja baca. Tidak ada yang lain selain kami pada meja besar di tengah perpustakaan sekolah ini. Perpustakaan ini hanya ramai saat jam istirahat. Otakku tak bisa fokus pada buku bacaan, buku IPS sejarah Bab 2 tentang Budi Utomo. Tentang bagaimana sumpah pemuda lahir. Hanya itu yang aku tahu dari tiga paragraf pertama. Waktuku habis hanya untuk memikirkan perempuan itu. "Terlepas dari aku jatuh cinta atau tidak. Rendy, aku pikir aku tidak jatuh cinta pada perempuan bernama Sena itu. Tapi aku penasaran dengan dia," jelasku padahal Rendy sama sekali tidak meminta penjelasan itu. Hanya itu mengganjal di hatiku. "Hak hatimu untuk menjelaskan itu cinta atau tidak, Yudha. Bercerita lah jika kamu harus bercerita, akuilah jika memang kamu bisa mengakui itu adalah sebuah kebenaran. Mau kamu cinta atau tidak, aku tidak butuh pengakuan mulutmu, karena dengan tingkah dan pandanganmu orang lain berhak menilai kamu jatuh cinta atau tidak," jelas Rendy membalik lembar buku tentang Bung Hatta dan Bung Karno, dua sahabat yang menjadi bagian dari sejarah Indonesia. "Oke lah," balasku menghela napas. "Apa yang bikin kamu penasaran?" tanya Rendy menutup bukunya. Ah, dia juga sama saja denganku, tidak fokus pada buku bacaannya. "Soalnya gini, pertama kali aku ketemu sama dia. Kita tabrakan waktu itu." Mengingat kejadian itu. "Aku penasaran sama namanya jadi aku mulai melirik nama dadanya. Eh, dia langsung menutup badge nama yang tidak sempat aku baca. Terus dia mengenalkan diri kemarin itu hanya dengan Sena. Misteri pekerjaan Bapaknya juga nggak jelas," ceritaku pada Rendy. "Ya, mungkin emang namanya cuma Sena," seenteng itu tanggapan Rendy. Padahal rasa penasaranku menggebu-gebu. "Ya, nggak mungkin lah, waktu pertama kali ketemu aku emang nggak sempet baca nama panjangnya, tapi aku tahu banyak sekali huruf di sana, Ren. Kalau cuma Sena pasti aku sempat baca," begitu emosional. Entah kenapa aku ini? "Oke, nanti aku bantu cari tahu namanya lewat Bundaku. Untuk mengobati rasa penasaranmu yang lebih mirip seperti orang yang tergila-gila," menyeringai padaku membuatku melengos kesal. "Dan, apa pentingnya pekerjaan Bapaknya buat kamu?" tanya Rendy kembali menatapku dalam. Seperti saat dia selalu menginterogasiku. "Ya..." aku sendiri pun bingung. "Ya, nggak tahu pokoknya aku penasaran banget. Gitu aja, Ren. Nggak tahu kenapa?" "Setahuku Bapaknya polisi, sudah gitu aja, Yud. Nanti deh kita cari tahu." Rendy memang lebih dari teman untukku, bisa dikatakan dia sahabatku. Dia mengerti aku lebih dari mengerti orang lain. Terbaik! Dan, Cantik, sebenarnya siapa kamu? Kenapa pertanyaan siapa kamu begitu menggangguku? Kenapa harus kamu? Kenapa kamu? Siapa kamu? Ah, membuatku frustasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN