Ketika bukan hanya aku anak laki-laki Papa
-Adhitakarya Nagara Bhakti-
Sudah hampir satu bulan Papa pergi latihan meninggalkan kami. Inilah hari-hari terakhirnya berlatih. Papa akan segera kembali. Kami semua menyambutnya dengan suka cita. Bahkan Mama sudah menyiapkan banyak kue-kue kering kesukaan Papa, seperti nastar, kue kacang, kue emping dan lain sebagainya. Kue-kue khas lebaran itu memang makanan yang paling Papa sukai.
Aku dan Kak Sena sedang sibuk membantu Mama di dapur. Bukan dapur rumah, tapi dapur toko kue Mama. Di luar masih sangat ramai pembeli. Sampai beberapa karyawan terlihat begitu sibuk.
Sesekali aku dan Kak Sena bergantian ke depan toko untuk ikut serta melayani pembeli. Allah Swt. memberi kami nikmat rezeki yang tidak terkira hari ini. Alhamdulillah.
"Selamat siang," seorang berkulit hitam datang mengenakan kaos putih yang begitu kontras dengan kulitnya. Menyunggingkan senyum kaku pada salah satu karyawan Mama.
"Se... Selamat siang, Bapak. Ada yang bisa kami bantu?" Karyawan Mama yang ku tahu namanya Mbak Ayu itu sedikit canggung.
"Sa mau cari Bapa Gibran," laki-laki yang baru saja datang itu menjawab.
Mataku terbelakak, aku terkejut dengan gaya bicaranya. Gaya bicara orang timur. Diam, kaku untuk sejenak.
"Dik, panggilin Ibu." Mbak Ayu berkata padaku. "Si... silakan duduk, Pak." Mempersilakan Om-Om berkulit hitam itu duduk di sebuah sofa kecil yang memang Mama persiapkan untuk pelanggannya ketika harus menunggu.
"Tunggu sebentar, Pak. Saya panggilkan Mama dulu," pamitku langsung berlari ke arah dapur.
"Ma, ada tamu. Kayanya orang timur deh. Lucu gaya bicaranya," kataku pada Mama begitu sampai di depan Mama dan Kak Sena yang bergulat dengan adonan kue.
Mama langsung mengerutkan keningnya. Sepertinya Mama juga merasa aneh, kenapa ada orang timur datang ke sini? Ya, biasanya ada sih. Tapi biasanya pelajar dari timur yang bersekolah di Karanganyar. Itu pun tidak banyak.
"Dia nyari Papa tapi, Ma," ucapku selanjutnya. Membuat Mama semakin bingung.
"Terusin dulu ya, Mbak Dian," berkata pada salah satu chef di toko kue Mama. Rasa kue buatan Mbak Dian ini nggak kalah enak sama buatan Mama.
"Siap, Bu," jawab Mbak Dian cepat.
"Ayo, keluar." Mengajakku dan Kak Sena keluar. Terpaksa Kak Sena menghentikan aktivitasnya merusak bentuk kue nastar Mama.
Setelah sampai di luar, tempat Om dari timur itu duduk. Mama berhenti sejenak, memperhatikan setiap detail dari Om itu. Mama masih tidak mengenalnya.
"Selamat siang," sapa Mama pertama kali. Mama memang biasa menyapa orang yang baru saja ditemui dengan kata selamat siang, selamat malam dan lain sebagainya, meski Mama Muslim yang taat, tetap saja kita hidup di atas Bhinneka Tunggal Ika. Kita tidak tahu kan Om ini agamanya apa?
"Selamat siang." Om dari timur itu bangkit. Mengajukan tangan untuk bersalaman. "Ini Mama Agni, kah?" tanya Om ini.
Tunggu, Mama? Kok panggilnya Mama? Jangankan aku dan Kak Sena, Mama saja terlihat bingung. Hanya mengangguk pelan untuk pertanyaan terakhir.
"Sa anak Bapa Gibran dari tanah Papua," lanjut Om ini.
Aku dan Kak Sena langsung saling menatap. Penuh tanya. Apa maksudnya?
"Papa pernah nikah sama orang Papua, Kak?" bisikku yang membuat mulut Kak Sena menganga.
"Oh, Obes." Mama seperti sudah sadar dari tidurnya. Langsung tersenyum bahagia.
Aku dan Kak Sena? Kami berdua hanya bisa menganga lebar. Bagaimana bisa Mama mengenal anak Papa dari perempuan Papua?
"Benar, Mama." Om yang dipanggil Mama dengan Obes ini membetulkan dengan sopan.
"Salim dulu, Nak. Ini Kakak kalian dari tanah Papua." Mama memerintahkan kami yang masih bingung.
Kakak? Jadi kakak? Jadi aku bukan anak laki-laki satu-satunya? Ada yang lain gitu? Orang Papua lagi? Papa ini bagaimana sebenarnya? Mengganggu pikiranku.
"Ayo!" Mama menyenggol tangan Kak Sena.
Om bernama Obes yang katanya kakak-ku ini sudah mengajukan tangan berototnya.
Kak Sena dengan wajah bingungnya menjabat tangan hitam itu.
"Ini pasti Adik Sena, kan?" tanya anak Papa dari tanah Papua ini. Kok bisa tahu? Padahal kami belum sempat memperkenalkan diri.
"Benar, Om," jawab Kak Sena begitu kaku.
"Kakak." Mama membenarkan. "Dia kakak kalian, panggil Kak Obes," semakin diperjelas oleh Mama.
"Sa pung muka terlalu tua, kah?" Logat Papua nya kental sekali.
"Hehe, tidak kakak e." Kak Sena jadi mengikuti logat Kak Obes ini, membuatku dan Mama menahan tawa.
"Semakin cantik ya," puji Kak Obes ini, berhasil sekali membuat Kak Sena, yang euuu biasa saja ini melayang tinggi. "Masih suka menangis, kah?" Pertanyaan terakhir mungkin menjatuhkan Kak Sena kembali ke bumi.
"Kok..." Kak Sena bingung. Aku juga bingung. Bahkan aku belum sempat berjabat tangan dengan Kak Obes.
"Dulu itu tangisan Adik Sena ini, jadi lagu favorit Bapa Gibran deng Bapa Bagas," kata Kak Obes ini sambil tertawa.
"Om Bagas." Kak Sena memanggil Om Bagas di dekat telingaku. Kak Sena pasti sangat merindukanku Om kesayangan kami. Sudah lama sekali Om Bagas tidak main ke rumah. Sejak beliau pindah tugas lagi.
Mama tertawa. "Sudah lama sekali itu, Obes. Masih ingat saja kamu."
Aku dan Kak Sena tidak mengerti sama sekali.
"Sudah empat belas tahun Mama. Aduh, bagaimana e? Sa itu ingat betul semuanya." Kak Obes ini sepertinya punya memori yang sangat bagus.
"Ah, sebentar." Mama menghentikan topik. Mungkin sudah ingat denganku, kalau aku belum dikenalkan dengan orang yang katanya Kakakku ini. "Ini anak kedua Bapa Gibran. Namanya Adhit." Memperkenalkan aku.
Aku dan anak laki-laki Papa yang lain ini berjabat tangan.
"Ganteng ya, macam Bapa Gibran," pujinya membuatku juga melayang. Semoga tidak menjatuhkan aku.
"Terima kasih Kak," ucapku.
Mama tertawa kecil untuk pujian itu. "Kita ke rumah saja, Obes. Di sini ramai sekali," ajak Mama.
"Ah, lain kali saja Mama. Sa tra bisa lama-lama," menolak. "Sa harus segera bale. Sa tadi ke sini untuk kasih kabar par Bapa Gibran kalau sa sekarang di Solo. Aduh, lama sekali sa cari alamat Bapa Gibran. Sa tadi juga tanya ke Yonif 413, su diantar ke rumah tapi rumah sepi, lalu diantar ke sini. Siapa tadi? Pratu Heru," jelasnya.
"Oh, Om Heru." Mama mengangguk-angguk. "Maaf, Obes, Bapa Gibran tidak ada di rumah. Lusa baru pulang," jelas Mama.
"Tra apa, Mama. Lusa sa bale sini lai."
"Ya, nanti Mama sampaikan sama Bapa Gibran, kalau anak laki-lakinya dari tanah Papua datang kemari," kata Mama.
"Siap, Mama. Terima kasih banyak e. Maaf juga ini, sa harus tugas lai."
"Tidak apa-apa, Obes. Sering-sering saja datang, Bapa sangat merindukanmu," ucap Mama memberi sentuhan hangat pada lengan Kak Obes.
"Siap, Mama. Sa pamit dulu e," mengajukan tangan untuk berjabat. "Baik-baik Adik, jangan nakal," memberiku dan Kak Sena nasihat yang mainstream.
"Iya, kakak e," ucapku dan Kak Sena kompak. Mengundang gelak tawa sebelum melepas Kak Obes pergi.
Setelah punggung Kak Obes benar-benar menghilang, barulah kami kembali ke dapur toko. Aku dan Kak Sena masih dengan berjuta-juta pertanyaan.
"Ma, Papa pernah menikah dengan orang Papua?" tanyaku ceplos begitu saja.
Mama malah tertawa. "Dulu Papa pernah tugas di perbatasan RI-PNG. Nah, di sana itu Papa ketemu dengan Kak Obes, dianggap lah Kak Obes itu seperti anak Papa sendiri. Kalian tahu kan Papa pengen banget sekali lagi tugas di perbatasan Indonesia-Papua Nugini?"
Aku dan Kak Sena mengangguk. Beberapa kali memang Papa mengutarakan keinginannya untuk bertugas di perbatasan, dan Kak Sena satu-satunya orang yang menolak keinginan kecil Papa itu.
"Papa itu pengen tugas di sana lagi bukan karena pengen jauh dari kalian. Tapi Papa pengen mencari kabar dan juga ketemu dengan Kak Obes. Empat belas tahun nggak ketemu, Papa kangen sama Kak Obes," jelas Mama membuatku paham. "Selebihnya nanti kalian tanya sendiri sama Papa atau sama Kak Obes. Aduh!" Mama menepuk jidatnya. "Tadi nggak minta nomor ponsel Kak Obes ya? Lupa Mama." Aku kira apa, membuatku terkejut saja.
"Ya, kan tadi Kak Obes bilang mau kesini lagi, Ma," sahut Kak Sena.
Sepertinya ada kisah menarik antara Papa dan Kak Obes, tak sabar rasanya ingin segera mendengar cerita mereka berdua.