Time

1465 Kata
Waktu Papa yang sangat berharga. Kehilangan sedetik saja serasa tak rela. Tapi Negara yang meminta, kita bisa apa? -Adhitakarya Nagara Bhakti- Jika aku boleh menghitung, ini sudah lima hari berturut-turut kami makan malam tanpa Papa. Setelah makan malam memang biasanya kami berbicara banyak hal di meja makan. Termasuk tentang sekolah, teman, keluarga, usaha Mama dan tugas negara Papa. Semua terjadi di meja makan, percakapan apapun, intinya begitu. Oleh sebab setelah makan malam, kami akan sibuk dengan kegiatan masing-masing, aku dan Kak Sena belajar lalu Papa dan Mama membicarakan rumah tangga atau Papa akan piket malam di barak. "Lusa Papa berangkat latihan ke Pesisir Laut Utara. Jangan ada yang bikin janji keluar sama teman," pinta Mama. Ya, masih dalam suasana libur sekolah, wajar jika aku dan Kak Sena banyak keluar, main bersama dengan teman-teman. "Siap, Ma!" sahutku cepat. "Latihan lagi, latihan lagi," keluh Kak Sena Bosan. "Berapa bulan lagi sekarang? Satu tahun kah, Ma?" "Nggak lama, cuma satu bulan kok, Kak," jawab Mama. Satu bulan untuk Mama adalah sebentar, sudah biasa katanya. Kalau untukku dan Kak Sena, itu waktu yang lama. Bedanya, aku bisa mengerti tetapi Kak Sena tidak. Aku justru berbangga hati sebab Papa tengah mengawal negara, sayangnya Kak Sena tak pernah begitu. "Cuma? Haha." Tertawa getir lalu meninggalkan aku dan Mama di meja makan. Mama hanya menghela napas. Kami semua paham betul bagaimana Kak Sena, Mama juga tidak pernah marah sama Kak Sena. Mama bilang beliau pernah berada di posisi Kak Sena, posisi di mana Kak Sena menuntut waktu luang Papa untuk dia dan meminta Papa lupa akan negaranya. "Kakak tuh, ih!" Aku yang selalu kesal pada akhirnya. Aku bisa mengerti Papa yang tidak banyak waktu, tapi aku tidak bisa mengerti Kak Sena atas sikapnya itu. Secuil pun tidak ada rasa pengertian pada Papa, apalagi Mama yang setiap hari justru mendengarkan protes dari Kak Sena. "Sudah." Mama mengangkut piring-piring yang kami gunakan untuk makan tadi. "Kamu yang menggantikan tugas Kak Sena!" perintah Mama. Inilah yang sejujurnya tidak aku suka dari sikap menyebalkan Kak Sena. Dia selalu pergi saat membahas tugas Papa, lalu meninggalkan tugas yang seharusnya, yaitu mencuci piring. Dan kemudian Mama melimpahkan pekerjaan itu padaku. Huah, Menyebalkan sekali Kak Sena itu. *** Waktu tidak akan bisa diputar kembali, waktu adalah uang, dan waktu adalah pedang. Apa pun pepatah yang banyak orang suarakan tentang waktu, bagi kami waktu adalah hal yang paling berharga pun tidak pantas disesali setiap detik yang terlewat. Bagaimana tidak? Hidup bersama dengan seorang Papa yang notabene prajurit TNI membuat keluarga kami tidak bisa setiap hari berkumpul dalam status lengkap. Waktu papa adalah milik negara, bukan milik kami. Terlebih jika seragam doreng itu sudah melekat di tubuh beliau, Papa bukan lah milik kami saat itu, hanya seorang tentara yang menjalankan tugasnya. Bisa tidak pulang berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Tak apa, aku dan Mama mengerti. Ada pepatah mengatakan, "Bila seragam melekat itu artinya seorang tentara ialah milik negara, bila tengah melepas seragamnya itu artinya tentara ialah pelindung bagi keluarganya." Kenapa hanya aku dan Mama yang mengerti sementara Kak Sena tidak? Ya, kalian tahu, Kak Sena benci sekali dengan profesi Papa, Kak Sena benci tidak ada Papa, Kak Sena benci dengan kesibukan tugas Papa untuk negara, Kak Sena benci banyak hal. Kakak memang pembenci yang ulung. Ah, pokoknya Kak Sena itu menyebalkan. "Papa berangkat dulu ya," pamit Papa sembari mencium kepalaku. Papa selalu seperti ini, menciumku sebelum berangkat tugas. Terkadang sedikit malu sebab aku sudah besar sekarang. Tetapi akan lebih malu jika tak diberi kasih sayang semacam ini. "Pa, lebih baik gagal di medan latihan daripada gagal di medan pertempuran," pesanku seperti sebuah yel-yel yang pernah Papa ajarkan padaku. Sekarang Papa memang akan berangkat latihan di Pesisir Laut Utara. Papa adalah salah satu dari ratusan sniper milik Kostrad, dan Papa juga harus bisa bertugas di rawa-rawa, di pantai, bahkan di laut. Kalau di udara mungkin terjun dari helikopter atau yang sering disebut dengan Para. Entah lah, meski Papa banyak beberapa cerita tentang tentara, tetap lah ada beberapa hal yang tidak aku mengerti. Beliau bilang, "Jika mau lebih mengerti soal tentara jadi lah bagian dari mereka." "Kakak mana?" tanya Papa sembari menatap lesu pintu kamar Kak Sena yang tertutup. "Sebentar, Pa." Mama melenggangkan kakinya untuk mendekati pintu kamar Kak Sena. Memang menyebalkan sekali si-tuan Putri itu. "Kakak, Papa mau berangkat nih," sembari mengetuk pintu kamar Kak Sena yang dihiasi banyak sekali sticker Doraemon lebih mirip kamar anak kecil yang baru lahir. "Ya sudah, hati-hati." Kak Sena setengah berteriak dari dalam kamarnya. Dasar tidak menghargai Mama yang berdiri di depan pintu, setidaknya buka pintu apa susahnya. Membuatku kesal saja. Ah, tapi bagaimana pun Kak Sena juga punya sisi baik sebagai seorang Kakak, seorang pengayoman bagi Adiknya, hanya belum nampak di pelupuk mata. "Papa nggak pulang satu bulan loh, Kak." Papa juga setengah berteriak dari ruang keluarga. Selalu seperti ini kalau Papa harus pergi meninggalkan kami dalam waktu yang cukup lama. "Biasanya juga gitu kan, Pa?" Kata yang selalu terucap dalam sebuah perpisahan kecil. "Maaf ya, Pa," justru Mama yang meminta maaf untuk Kak Sena. Orang biasa pun tahu siapa yang seharusnya minta maaf dalam posisi ini. "Nggak masalah, Ma. Papa ngerti kok," memberi Mama pelukan hangat. "Papa pergi dulu ya, Ma. Titip anak-anak," mengecup kening Mama. Romantisme yang selalu terjadi dalam sebuah perpisahan, antara Mama dan Papa. "Oh, bilangin sama Dik Adhit, jangan sering-sering main ke asrama cuma buat gangguin prajurit-prajurit," melirikku, sindiran yang cukup tajam dari Papa. "Siap, Komandan!" balas Mama sambil menahan tawa untukku. "Ingat ya, kalau main ke sana untuk urusan nggak penting, Papa bilangin Danyon biar menambahkan nama Dik Adhit dalam daftar hitam kesatuan!" Ancaman yang ringan. Ringan, karena Papa sambil menahan tawanya tetapi juga bukan lelucon semata, himbauan itu juga serius sifatnya. "Tapi Adik sudah janjian sama Om Jodan untuk bertemu Minggu depan. Mumpung masih libur sekolah, Pa," kataku. Om Jodan adalah salah satu prajurit Papa, baru beberapa bulan ditugaskan di Yonif 413/BMR dengan pangkat Prada. Itu, pangkat dengan tanda balok merang di lengan. "Duh, Dik, kamu ini suka ngerepotin banyak orang," memicingkan mata beliau padaku. "Hehe. Om Jodan sendiri yang ngajak," alibiku, padahal juga aku yang meminta waktu luang Om Jodan. "Sudah, berangkat sana. Nanti telat," Mama memutus pembicaraan kami. Mau bagaimana lagi, waktu Papa sebentar lagi habis, bisa terlambat sampai di Yonif kalau terus-menerus berbicara denganku. "Iya, iya." Papa menenteng ransel besarnya. "Kalau mau jaga negara, harus bisa jaga Mama," pesan Papa padaku. "Siap, Papa!" memberi hormat ala prajurit. "Assalamualaikum," pamit Papa, melangkahkan kaki meninggalkan kami. "Wa'alaikumsalam," jawab kami serentak. Satu bulan ke depan kami tidak akan melihat Papa di rumah. Tidak di meja makan, tidak di halaman depan, tidak di depan rumah, tidak di perpustakaan mini milik kami, tidak ada yang mencium kening Mama di pagi hari. Semuanya akan terasa sepi pun hambar bak sayur tanpa garam, tapi untuk negara kami, apapun harus tetap di jalani. "Kak," panggilku saat membuka pintu kamar Kak Sena, mendapati Kakak tercantikku itu sedang melihat ke luar jendela kamarnya. Jendela yang langsung menuju ke jalan depan rumah. Dia sedang memperhatikan Papa yang baru saja di jemput rekan Papa. Kak Sena menoleh padaku, memicingkan mata tajamnya. "Adik ih, kan sudah dibilangin Papa, kalau mau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu. Main nyelonong aja!" umpatnya kesal. "Ketuk pintu juga nggak bakal dibukain!" kataku sewot lalu duduk di tepi tempat tidur Kak Sena. Tempat tidur yang cukup luas tapi sempit karena banyak sekali boneka kartun asal Jepang. Penggila Doraemon, macam Mama. "Isssh..." desahnya kesal. Kemudian ikut duduk di tepi tempat tidurnya. "Ngapain?" Ketus sekali. "Kalau Papa pamit itu ya keluar, cium tangan, terima kecupan dari Papa. Nggak di kamar terus gini, giliran Papa mau pergi ngelihatin dari jendela. Sinetron banget!" Sindirku pada Kak Sena yang langsung memukulku dengan gulingnya. "Dasar ratunya sinetron!" ejekku langsung berlari ikut Mama di dapur. "Adik!" teriakan frustasi dari Kak Sena. "Adik jahilin kakak lagi, ya?" tuduh Mama begitu aku duduk di meja makan yang langsung berseberangan dengan dapur, memang benar sih. Tempat Mama sedang menyiapkan makan siang kami nanti. Tuduhan yang benar, Mama. "Hehe," tawaku tak merasa bersalah. "Kalian itu!" Mungkin Mama sudah bosan, setiap hari kami tidak pernah tidak bertengkar. Ada saja yang kami perkarakan. Sampai Pakdhe Satya menjuluki kami berdua duo pemancing perkara. Mulai hari ini sampai satu bulan ke depan sepertinya lebih baik kalau aku menahan tangan jahilku pada Kak Sena. Kasian Mama, menjadi orang tua tunggal selama satu bulan dan harus mengurus kami yang setiap hari bertengkar. Walaupun pertengkaran kami juga sekedar candaan. Entah bisa atau tidak aku menahannya, aku akan berusaha untuk tidak jahil. Juga menahan amarah kalau-kalau Kak Sena yang menjahiliku. Kasian kan Mama? Sudah kehilangan waktu dengan Papa tapi masih harus mikirin aku dan Kak Sena yang tidak pernah akur. Menjadi yang tertangguh saat ini setidaknya harus mengerti dan membantu Mama, melindungi dan mengayomi, katakan saja pengganti Papa untuk sementara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN