Arti Sebuah Nama

1037 Kata
Nama adalah doa. Kalimat sederhana yang aku benci. -Sad Satya Sri Sena- Namaku Sad Satya Sri Sena, panggil saja aku dengan Sena. Seorang putri yang lahir dari keluarga abdi negara. Yap, Yangkungku seorang Purnawirawan Polri dan papaku prajurit aktif di TNI Angkatan Darat berpangkat Pelda atau Pembantu Letnan Dua. Usiaku 15 tahun, tepat saat RA Kartini juga merayakan ulang tahunnya. Aku seorang siswi baru di SMA terfavorit di Karanganyar. Benar kalau aku begitu benci dengan kalimat, "Nama adalah doa", bahkan sangat membencinya. Bagaimana tidak? Sad Satya Sri Sena adalah pataka milik Korps Wanita Angkatan Darat, yang artinya Bukan Mawar Penghias Taman tetapi Melati Pagar Bangsa. Ah, aku benci sekali kalimat itu. Kalian pasti tahu, secara tidak langsung Papa mengharapkan aku menjadi TNI, dan sampai kapan pun aku tidak mau menjadi melati pagar bangsa. Menjadi putri dari seorang prajurit saja aku benci setengah mati apalagi harus menjadi bagian dari mereka. Aku harap Allah Swt. tak mengabulkan doa yang papa panjatkan untukku. Yah, walaupun dalam kehidupan sebenarnya papa tidak pernah memaksaku. Seperti berkata, "Nak, kamu harus jadi Kowad nantinya!", tak pernah keluar dari mulut papa. Padahal dalam relung hati papa sangat ingin aku menjadi melati pagar bangsa. Ah, bercerita tentang tentara denganku saja tidak. Bukan papa yang tidak mau bercerita, aku saja yang tidak pernah mau mendengarkan. Artinya papa memang tidak pernah memaksaku untuk menyukai hal yang beliau juga sukai, hanya saja keinginan beliau yang terpendam dibalik namaku itu yang menggangguku. Kalau saja aku boleh berganti nama, aku akan mengubah total namaku, lebih baik dengan nama Siti atau Nur atau Yani, yang terpenting tidak ada nama-nama dari dunia militer karena aku benci itu. Sayangnya tidak bisa, Mama melarangku dan lagi pula mengurus surat-surat penggantian nama juga sulit jadi aku malas. Cukup kenal aku dengan nama Sena saja, tidak usah nama panjang atau tidak perlu juga tahu maksud dari arti namaku. Tidak penting! Terkadang teman-teman yang dari masyarakat biasa as known as bukan dari kalangan keluarga militer, mereka suka bertanya kenapa orang tuaku memberikan nama Sad Satya Sri Sena? itu terdengar aneh oleh telinga mereka. Apalagi kata Sad Satya itu yang terdengar seperti nama laki-laki dan kata Sri yang terdengar Ndeso. Tapi bagi teman-temanku yang dari keluarga militer, mereka awalnya juga tidak tahu arti namaku, melegakan. Sayangnya begitu sampai di rumah biasanya mereka bertanya kepada orang tuanya dan dijawab secara lengkap. Kemudian keesokan harinya ketika bertemu denganku, mereka akan memuji arti namaku, keren katanya. Keren? Di mana letak keren itu sendiri? Begitu lah pengalamanku soal nama di masa SMP, di masa SMA? Entah sama atau tidak. Pengumuman diterima juga baru saja dipublikasikan. Kita tunggu saja dua Minggu lagi saat aku berjumpa dengan teman-teman yang baru. *** Nama adalah doa. Aku berharap Tuhan mengabulkannya. -Adhitakarya Nagara Bhakti- Aku lahir tiga tahun lebih muda dari Kak Sena. Lahir di keluarga militer yang membuatku secara tak langsung juga menyukai dunia yang kami tinggali ini. Bahkan papa memberiku nama yang begitu Indah, Adhitakarya Nagara Bhakti. Namun, sedikit lucu karena papa tidak begitu paham bagaimana arti dari namaku, yang beliau tahu namaku diambil dari motto milik Akademi Militer, yaitu Adhitakarya Mahatvavirya Nagarabhakti yang artinya menurut situs resmi Akmil adalah: Adhitakarya menggambarkan semangat belajar yang tinggi untuk mengejar pengetahuan. Sedangkan, Mahatvavirya artinya memiliki sifat keperwiraan, bersusila dan berani serta menggambarkan Taruna yang memiliki cita-cita luhur. Dan yang terakhir, Nagarabhakti artinya memiliki jiwa patriot, menjunjung Negara dengan gelora “Pro Patria” dan menggambarkan Perwira dengan sifat-sifat yang luhur sebagai Bhayangkari Negara. Oke, itu arti dari motto Akademi Militer, sekolah Perwira di Magelang, Jawa Tengah. Lalu kenapa papa memberiku nama Adhitakarya Nagara Bhakti? Simpel, sebab papa ingin aku jadi bagian dari Akmil, bukan, papa ingin aku menjadi seorang taruna, calon perwira yang akan menjaga negara ini kelak. Entah angakatan darat, angkatan laut, atau angkatan udara tak ada permintaan khusus dari papa. Yang pasti papa ingin aku meneruskan pengabdiannya pada Tanah Airku yang tercinta ini sebagai perwira TNI. Dan aku setuju soal keinginan papa sangat amat setuju. Aku juga mau menjadi seorang Perwira yang menjaga kedaulatan negeri ini, mempertahankan negeri ini, dan membela negeri ini dengan segenap jiwa ragaku. Ah, karena motto Akmil terlalu panjang, jadi kata Mahatvavirya dihilangkan. Sesimpel itu sebenarnya papa memberiku nama yang luar biasa. Aku menyukainya. Lalu Mama bagaimana? Apa Mama menginginkan hal yang sama atau mama justru ingin aku meneruskan usaha beliau? Yap, menurut cerita Mama, sejak beliau berhenti sebagai Bankir. Beliau mendirikan toko kue di tepi jalan utama Kota Karanganyar tepat tiga tahun setelah aku lahir. Untuk menyambung hidup. Kami semua paham, bahwa gaji papa tak cukup untuk kelangsungan hidup kami. Cukup sebenarnya tapi Papa harus melanjutkan kuliahnya waktu itu, sedangkan biayaku dan Kak Sena semakin melangit. Jadi atas bantuan Pakde Satya, Mama mendirikan toko kue di Jalan Lawu, Karanganyar. Kembali ke pertanyaan tadi, Mama ingin aku menjadi apa? Mama juga ingin sekali aku menjadi seorang Perwira. Tak hanya aku, Mama juga ingin Kak Sena menjadi Kowad sesuai dengan namanya. Entah apa yang dipikirkan Mama, padahal beliau tahu betapa beratnya hidup bersama seorang prajurit. Kata Mama, itu karena beliau begitu mencintai negeri ini dan tentu saja mencintai papa apa adanya. Mama memang perempuan yang luar biasa. Aku masih duduk di bangku kelas satu sekolah menengah pertama, tapi sejak dini papa sudah mengenalkan banyak hal tentang tentara. Bahkan latihan fisikku sudah dimulai sejak awal. Bukan papa yang memaksaku, justru aku yang memaksa papa untuk mendidikku sebagai calon prajurit sejak awal. Terkadang jika papa tidak bisa melatihku, aku pergi ke barak, menemui salah satu prajurit papa untuk sekedar push up atau latihan fisik ringan lainnya. Kata orang memang aku memiliki obsesi yang tinggi untuk menjadi perwira TNI. Ya sudah, toh aku sendiri yang menciptakan obsesi itu, bukan Mama atau Papa atau bahkan Kak Sena. Besar sekali pengharapanku pada arti namaku. Semoga Allah Swt. mengabulkan doa kami sekeluarga, oh, kecuali Kak Sena karena dia selalu mendoakanku sesuatu hal yang buruk. Tidak mencelakaiku, sesuatu yang buruk itu adalah tidak tercapainya mimpiku sebagai abdi negara. Entah salah makan apa dia? Atau mama salah ngidam waktu hamil Kak Sena? Kemungkinan memang Mama salah ngidam dan kepala Kak Sena sempat terbentur ujung meja. Ah, dia menyebalkan sekali meski aku sangat menyayanginya. Hanya dia kakak yang aku punya, andai ada kakak yang lain pasti lebih baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN