Episode 10

1031 Kata
Situasi semakin memburuk, walaupun Sharman dan Lutfi telah datang. Bagaimana tidak, tiba-tiba muncul sesosok orang yang misterius. Di sampingnya terdapat buku yang sama dengan milik Sharman, dia melayang dan memancarkan cahaya. Halaman demi halaman terbuka dengan sangat cepat, seakan mereka tahu apa yang harus di lakukan untuk membantu tuannya. Hanya tinggal sharman dan sosok itu yang berada di cakrawala. Di bawah mereka terdapat puing-puing bangunan yang telah hancur. Namun, gempa dan angin kencang tadi telah redup. "Hmm, sepertinya kemampuan buku takdir tidak semenakutkan itu, Kufufu. Mungkin orang itu terlalu berlebihan" Sosok itu bergumam, sembari menahan serangan yang di lancarkan Sharman. Sharman terus menganalisis lawan yang ada di depannya, dia sangat tenang, selalu menunggu kesempatan untuk menyerang. Di sisi lain, sosok itu bahkan tidak menyerang sharman, dia hanya menghindari serangan Sharman dengan sangat sempurna. Sosok itu Hanya mengeluarkan aura merah yang mengintimidasi, dan tersenyum melihat apa yang di lakukan Sharman. Sharman sangat kesal, gerakannya hanya di permainkan seperti anak kecil oleh sosok itu. "Apa tujuanmu melakukan semua ini?" Sharman menyelidik, mencoba mencari informasi. "Apa? Aku hanya di perintahkan oleh orang itu" Dia menjawab dengan acuh tak acuh. Sosok itu, untuk pertama kalinya dia mulai menyerang. "Wahai kekuatan yang berasal dari kerakusan, seraplah, telanlah, lenyaplah apa yang ada di hadapanku!" Sesuatu menyerupai bola muncul di hadapannya. Warna ungu, biru, kuning dan merah berkelap-kelip di dalamnya, di lapisi oleh kabut hitam yang terlihat mengerikan. Bola itu menyerap apapun yang ada di sekitarnya, seakan udara di sekitarnya retak. Mekanismenya sama seperti Black Hole, bola itu menyedot apapun yang ada di sekitarnya. "s****n, kau!" Sharman di pukul mundur, dia mejauhi objek itu. Buku yang sejak tadi mengambang-ngambang di sekitar Sharman, terbang tepat di hadapannya. Sharman memasukan pedang yang sudah hancur ke dalam sarungnya, dia berencana menghancurkan bola itu dengan satu serangan. "Wahai takdir yang ada pada setiap orang, ubahlah takdir-takdir itu menjadi kekuatan yang mampu menghancurkan apa pun" Tujuh cahaya terpancar, menuju objek bola itu. Akibat dari tabrakan dari kekuatan yang sangat luar biasa, Ledakan yang besar terjadi. Ledakan yang menyebabkan dentuman Udara, siapapun yang mendengarnya akan memecahkan gendang telinga mereka. Asap akibat tabrakan tadi sudah mulai menghilang, bola yang menyerap apapun yang di sekitarnya telah menghilang. "Luar biasa, Kufu-Kufufu. Ini lah yang aku harapkan dari pengendali takdir" Sosok itu tertawa gila. "Apakah itu pujian? Aku rasa tidak" Sharman sama sekali tidak memperdulikan sosok itu, dia hanya menjawab untuk mengulur waktu. Pertarungan sudah ada pada kebuntuan nya, Sharman berusaha keras untuk mengulur waktu menunggu Lutfi datang. "Baiklah aku akan mengakhiri ini, selamat tinggal pengguna buku kehidupan. Sebagai hadiah, aku akan memberitahu namaku sebelum kau lenyap. Namaku adalah Shannon" Sosok itu mengarahkan tangannya kepada Sharman, dia memerintah Bukunya. "Kerakusan!" Seakan mengerti perintah tuannya, buku itu mengeluarkan asap hitam yang mempu melenyapkan apapun sebagai respon terhadap tuannya. Sharman yang tidak berdaya mencoba menghindari serangan itu. Namun, asap yang menyerupai kabut berwarna hitam kemerah-merahan itu sangat cepat menyebar. *** ** * Lucia saat ini sedang di gendong oleh ku, dia bahkan tidak mempunyai tenaga untuk berjalan sendiri. Di atas langit yang begitu indah, gunung-gunung yang besar seperti paku besar yang menembus bumi dapat terlihat dengan jelas. Aku terbang membawa Lucia yang sedang lemas. Sebelumnya, aku di ajarkan oleh Sharman bagaimana menggunakan kemampuan yang buku kami miliki. Walaupun membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan ini, aku berhasil menguasainya. Burung-burung terbang berkelompok seakan sedang menari, rasanya kejadian tadi seakan mimpi bagi mereka. Aku sudah mulai dapat melihat tempat evakuasi. Aku memutuskan untuk bertanya kepada Lucia tentang sosok itu, mungkin dia mengetahuinya. "Lucia, apakah kamu tahu tentang orang misterius itu?" Aku bertanya kepada Lucia. "Tidak, aku tidak mengetahuinya" Lucia berusaha menjawab pertanyaan ku. "Begitu, ya." Orang itu sangat berbahaya, dengan melihatnya saja aku langsung menyadarinya. Saat aku menatapnya, seluruh badanku tidak bisa bergerak, tulangku seakan beku. "Omong-omong, Lutfi. Apakah orang yang datang bersamamu adalah pengguna Buku Takdir?" Lucia bertanya memastikan. Sebelumnya Lucia juga pernah menceritakan tentang Buku Takdir, sepertinya dia merasa tidak asing dengan Sharman. "Dia Sharman, tampaknya dia adalah kepala Kepolisian. Sebelumnya aku sempat tertangkap. Ceritanya akan panjang jika aku ceritakan sekarang, nanti akan aku ceritakan detailnya. Pokoknya dia adalah pengguna Buku Takdir." Kami sudah sampai ke tempat evakuasi, dan menyerahkan Lucia untuk segera di rawat. Aku kembali terbang dengan secepat mungkin. Tentunya aku mempercayai Sharman, dia sangat kuat. Aku melihatnya sendiri, saat dia bertarung. Dari kejauhan aku dapat melihat Sharman dan orang yang tidak di kenal itu, tampaknya Sharman sedang terpojok. Aku berencana menyerang dari kejauhan. "Kehidupan yang menghidupi bentuk kehidupan, dan mampu menghilangkan sesuatu yang sebaliknya. Tujukanlah!" Halaman demi halaman terbuka, bersinar dengan sangat terang. Mengeluarkan lingkaran yang menyebar luas dengan cepat mengelilingi area ini. Seketika kabut yang mengelilingi Sharman seketika menghilang, Lenyap entah kemana. "Apa yang terjadi!?" Sosok itu tampaknya terkejut dengan perubahan situasi yang terjadi. Sharman yang melihat sosok itu juga ikut bingung melihatnya. "Maaf, sepertinya aku terlalu lama, Sharman." "Tidak, kau tepat waktu" Sharman melirik ku, dan tersenyum masam. "Jadi, siapa dia?" Aku bertanya tentang sosok itu kepada Sharman. "Shannon, itu namanya. Sepertinya dia orang yang mampu mengendalikan Kerakusan" Sharman menjelaskan dengan singkat. Shannon masih kebingungan dengan apa yang terjadi, sampai dia menyadari keberadaanku. Wajar jika dia kebingungan, serangan rahasia yang selama ini dia sembunyikan lenyap begitu saja tanpa dia tahu apa penyebabnya. "Siapa anda!?" Shannon meneringai bertanya kepada ku. "Aku hanya orang biasa yang datang dari desa untuk mencari nafkah, tapi, aku menjadi terseret ke sini. Yah, sepertinya anda tidak tertarik" Aku memperkenalkan diriku dengan sungguh-sungguh. Tatapan tajam Shannon mengarah padaku, dia sedang menyelidik. "MUSTAHIL!? Buku itu, bukan kah itu BUKU KEHIDUPAN? Jangan-jangan, kau, pengguna buku itu? Sudah ratusan, tidak. Sudah ribuan tahun aku tidak melihatnya. Cahaya hijau bagaikan zamrud itu. Kufufufu, sungguh luar biasa. Baiklah untuk saat ini kita akhiri sampai ini. Sampai nanti" Kabut hitam membawanya entah kemana, seketika dia menghilang. Nampaknya situasi saat ini sudah kembali normal, hanya tersisa aku dan Sharman. Tubuh Sharman penuh dengan luka. Kami harus segera kembali ke tempat Lucia berada. "Apakah kau baik-baik saja? Sharman." "Ya, jangan khawatirkan aku" Sharman tampaknya berbohong dengan ucapannya. Fakta bahwa dia kehilangan cukup banyak darah adalah masalah. "Sebaiknya kita pergi ke tempat Lucia berada, Sharman." Beberapa hari telah berlalu, kami menjalani kehidupan dengan normal. Sharman, Aku, dan Lucia sering membahas rencana selanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN