Episode 9

1013 Kata
Matahari terus melaju ke arah barat. Suhu udara mulai meningkat, menghangatkan udara pagi yang dingin di musim gugur. Suasana pasar tradisional yang khas membuat orang mana pun akan bernostalgia dengan masa lalu. Orang-orang berlalu-lalang berdesak-desakan, sedang melakukan jual-beli. Terdengar dari berbagai penjuru suara para pedagang yang sedang mempromosikan dagangannya. Tempat ini terlihat seperti pasar tradisional, namun sangat bersih dan teratur, berbeda sekali dengan pasar-pasar tradisional biasanya. "Berikan aku d**a ayam, wortel, jamur kuping, bawang putih dan bawah merah. Oh, dan juga lada." Lucia saat ini sedang sibuk mencari bahan makanan untuk makan malam kami. "Baik, Neng. Siap! Tunggu sebentar" Pedagang itu segera memenuhi permintaan dari Lucia. "Agak aneh jika aku di panggil Neng. Namaku Lucia, tolong panggil aku Lucia!" Lucia terlihat tidak nyaman ketika orang lain memanggilnya dengan sebutan Neng. Bagaimana tidak, sebelumnya Lucia adalah seorang nenek tua, dan entah kenapa saat ini dia kembali menjadi gadis berusia 16 tahun. "Hahaha. Maaf, baiklah dek Lucia." Pedagang itu tertawa melihat tingkah lucu Lucia. "Hmm, apakah aku terlihat aneh?" Lucia merasa tersinggung. "Tidak, tidak ada yang aneh dengan mu. Ini belanjaan mu, Lucia. Totalnya Rp.150.000" Pedagang itu menyerahkan belanjaan Lucia. Lucia mengambil tas kecilnya, dia merogoh kocek dan memengambil uang yang ada di dalamnya. Lalu Lucia pun memberikannya ke pada pedagang itu. "Terima kasih!" Sembari mengambil belanjaan yang Lucia beli. Lucia pun berjalan menuju lapak pedagang lain. "Ini terlalu berat" Tentu saja, dia membawa bahan makanan itu sendiri. Terlebih saat ini tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Lucia membawa kantong plastik besar itu dengan kedua tangannya. Dia terus berjalan walapun kesulitan membawanya. Pada akhirnya Lucia terjatuh, tetapi bukan karena barang bawaannya melainkan karena gempa yang baru saja terjadi. "Apa? Apa yang terjadi" Lucia cepat-cepat segera bangkit untuk bersiaga. Tak lama, terdengar suara dentuman yang sangat keras, saking kerasnya mampu merubah tekanan atmosfer di sekitar pasar ini. Orang-orang panik, berlarian tanpa arah, sibuk menyelamatkan nyawanya masing-masing. Bahkan hewan-hewan pun yang sepertinya tahu akan bahaya dari kejadian ini, berlarian meninggalkan area ini. Tekanan udara sekitar menjadi aneh, suara dentuman itu terdengar susul menyusul, terlebih gempa yang terjadi secara bersamaan, merupakan kejadian yang tidak normal. Situasi semakin tidak terkendali, Lucia terdorong-dorong oleh orang yang sedang berdesak-desakan, berlarian menyelamatkan diri. Lucia menduga apa yang terjadi saat ini bukan fenomena alam, melainkan ada seseorang yang menyebabkan ini terjadi. Tentu saja, mengingat sebelumnya dia bahkan melihat sesuatu yang di luar nalar manusia. Lucia mencoba untuk menganalisis sekitar dengan seksama. Dia memejamkan matanya, mencoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Tak butuh waktu lama, Lucia menyambungkan apa yang ada di ingatannya, sesuatu yang saling berhubungan dengan kejadian-kejadian yang menimpanya. "Jangan-jangan! Buku kuno seperti yang di miliki Lutfi!?" Lucia menduga pemilik buku lain terlibat dalam peristiwa ini. Walaupun itu hanya deduksi sementara, namun pemikiran Lucia sangat tajam. Dia sebelumnya adalah sorang profesor Epigrafi, sekaligus akademisi yang sangat berpengaruh. Meskipun saat ini tubuhnya tidak mencerminkan itu semua, saat ini dia hanya terlihat seperti seorang pelajar, seorang gadis berusia 16 tahun. Lucia segera berlari meninggalkan tempat yang berbahaya ini, dia berlari sekuat tenaga, mati-matian untuk menyelamatkan diri. Bangunan-bangunan mulai runtuh, serpihannya terbang tidak beraturan terbawa oleh angin yang berputar-putar. Di ikuti oleh bangunan stand pasar yang mulai hancur terbawa angin, berputar sangat kencang di sekeliling pasar ini. Usaha yang Lucia lakukan sia-sia, dia mulai putus asa. Lucia berusaha menghubungi Lutfi, namun dia tidak dapat menghubunginya, tidak ada sinyal. Sebagian orang telah berhasil keluar dari tempat ini, tetapi masih ada ribuan orang yang terjebak. Mereka tidak memiliki cukup waktu untuk pergi melarikan diri, berkumpul di sebuah bangunan evakuasi. Lucia meneguhkan tekadnya. Bangkit dari jatuhnya, dan berusaha menuju tempat evakuasi. Berjalan memegang tembok-tembok yang masih kokoh, namun tampaknya tembok yang terbuat dari beton tidak mampu bertahan melawan gempa dan badai yang sangat luar biasa. Tembok beton yang menyokong gedung tersebut retak, dan mulai runtuh. "s**l, padahal aku telah di beri kesempatan untuk mengulangi hidupku. Padahal aku telah di beri kesempatan untuk membantu orang itu, padahal..." Lucia putus asa dengan apa yang terjadi padanya. Lucia menatap ke langit, dia melihat sesuatu yang bersinar, itu adalah seseorang yang sedang melayang di cakrawala. Reruntuhan gedung yang menjulang tinggi mulai terjatuh, dan menuju Lucia. Tetapi anehnya, reruntuhan itu terhenti tepat sebelum mengenai Lucia. Reruntuhan itu di selimuti cahaya biru tua. Seakan waktu telah berhenti. Lucia menutup matanya, dia bersandar, duduk di antara reruntuhan. "Aahhh, bahkan di saat terakhirku, di saat seperti ini aku berhalusinasi" Lucia tertawa lemas. "Tidak, kamu tidak sedang berhalusinasi, Lucia. Apakah kamu baik-baik saja?" Terlihat dua orang yang melayang dan bersinar, seakan sinar tersebut menyelimutinya. Sinar cahaya hijau zamrud dan ungu tua. Dua orang itu mendarat dengan perlahan dan lembut. Itu adalah Lutfi dan sharman. ... .. . "Maaf, kami terlambat. Aku harus membiasakan diri untuk terbang" Aku membantu Lucia berdiri. "Syukurlah, aku khawatir jika sesuatu terjadi pada mu, Lutfi. Siapa dia?" Lucia pemasaran siapa orang yang ada di sampingku. "Dia adalah sharman. Detailnya akan ku beritahu nanti, setelah kami menyelesaikan ini" Aku menatap orang yang berada di cakrawala. Sosok itu sangat mengerikan. Aura hitam yang di pancarkannya nya sangat berbahaya. "Lutfi, kau bawa dia ke tempat pengungsian, dan segera kembali" Sharman tampaknya terganggu dengan keberadaan sosok itu. "Baiklah, aku akan kembali dengan segera. Tolong tahanlah sampai aku tiba." Aku segera menggotong Lucia, dan melayang meninggalkan tempat ini. Sharman pergi ke arah sebaliknya. Dia melayang dan melesat ke arah sosok itu. "Kufufufu, aku sudah menduga kau akan terpancing dengan ini, Sharman. Pengguna buku takdir" Sosok itu membalikan badannya ke arah sharman. "Kau! Siapa kau?" Sharman bertanya siapa sosok yang ada di depannya. Sosok itu mengenakan jubah merah yang sangat indah sekaligus mengerikan. Motif-motif yang ada pada jubahnya terpancar kombinasi warna yang di selimuti asap hitam. Dari tampaknya, dia adalah seorang pria yang berumur sekitar 30 tahun. Matanya berwarna hitam, dengan pupil emas dan pantulan merah di sekitarnya. Itu sangat mengerikan. "Apakah aku harus memberi tahu identitas ku ke pada orang yang akan lenyap?" Dia menjawab dengan pertanyaan. "Memang benar, aku tidak perlu tahu siapa kau. Tapi keberadaan mu sangat berbahaya" Sharman mengeluarkan pedangnya, dia melesat melancarkan serangan. Buku takdir yang melayang di sekitarnya membuka halaman dengan sangat cepat, menandakan sosok itu sangat berbahaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN