Episode 19

1201 Kata
Matahari terbenam memancarkan cahaya jingga yang melewati celah-celah jendela kecil ruang bawah tanah, tempat aku, Lutfi, dan kawan-kawan berdiskusi tentang nasib yang akan kami pilih. Sinar matahari terakhir seakan memberikan harapan palsu pada dinding-dinding kuno yang penuh dengan rak-rak berisi buku dan peta yang terhampar luas di tengah meja besar. Sharman berdiri tegak, pandangannya tajam menyisir setiap wajah yang ada, seolah mencari tanda-tanda keraguan atau ketakutan. Namun, yang kudapati hanyalah semangat dan tekad yang terpatri kuat dalam setiap iris mata yang membalas tatapannya. "Sarang mereka terletak di balik pegunungan yang terjal, di sebuah kompleks goa yang tersembunyi dari peradaban," ucapnya, menekankan setiap kata dengan serius. Lucia, dengan aura yang selalu tenang, memberikan komentar dengan suaranya yang lembut namun penuh keyakinan, "Setiap langkah harus kita pertimbangkan dengan hati-hati. Satu kesalahan kecil dapat mengakhiri segalanya." Dia menatap peta dengan kedua tangan terlipat di depan d**a, seolah sedang mengirimkan doa untuk keberhasilan kami. Kami, para pengguna kekuatan, berbagi tugas sesuai dengan kelebihan kami. Ciel, sang pengguna Buku Kehidupan, akan mengatur formasi dan memberikan dukungan vital dengan kekuatannya. "Kita adalah satu tubuh, satu pikiran, bertarung bersama, atau jatuh bersama," tegasnya, matanya menyala dengan api yang tak bisa padam. Persiapan pun diatur dengan teliti. Dewan Militer dengan pengalamannya menyediakan persenjataan dan alat komunikasi yang canggih. "Kita harus bergerak seakan bayangan, tidak terlihat dan tidak terdengar hingga saat yang tepat," ujar salah satu anggota Dewan dengan suara yang berat. Saat waktu pertemuan hampir berakhir, kami semua berdiri, saling berpandangan, dan tanpa kata, berjanji akan kembali bersama. Sharman dengan penuh keberanian menutup pertemuan, "Kita akan menulis sejarah, bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi untuk semua yang berdiri di balik kita." Perjalanan menuju lokasi yang telah ditentukan bukanlah perjalanan yang mudah. Kami bergerak dalam keheningan, menyusuri jalur-jalur yang telah lama dilupakan oleh waktu dan manusia. Kami bergerak seperti bayangan di malam hari, hanya suara alam yang menjadi saksi bisu langkah kami. Ketika akhirnya kami tiba di pintu masuk goa, kabut tebal seperti pengawal yang setia menjaga keheningan. Suara angin yang menderu dan pemandangan pegunungan yang terjal menambah suasana yang suram. Cahaya senter kami menembus kegelapan, mengungkapkan ke dalam goa yang dingin dan sunyi. Setiap langkah yang kami ambil menggema dalam keheningan, berbicara lebih keras daripada kata-kata. Namun, apa yang menanti kami adalah kejutan yang tak terduga. Pengguna Buku Kematian, dengan keangkuhan yang nyata, telah menunggu kedatangan kami. Matanya yang menyala-nyala dengan kebencian dan kekuatan yang tak terukur, membuat hati kami berdebar lebih kencang. Ketika pertempuran pecah, kami semua tahu bahwa ini adalah pertempuran yang telah lama kami persiapkan, namun tidak ada yang bisa memprediksi hasil akhirnya. Pertempuran ini akan menjadi ujian bagi kita semua, apakah kita akan berhasil atau jatuh dalam usaha. Malam itu, dengan langkah yang penuh tekad namun hati-hati, kami meninggalkan ruang rahasia yang telah menjadi saksi bisu atas persiapan pertempuran kami. Langit malam menyelimuti kami dengan selubung kegelapan yang hening, seakan alam sendiri mengetahui beban yang kami pikul. Perjalanan kami menuju sarang pengguna Buku Kematian adalah perjalanan menuju kepastian yang tak pasti. Setiap langkah yang kami ambil mengarahkan kami semakin dekat ke pusat kegelapan yang telah lama meresap ke dalam hati dan pikiran kami. Kami bergerak seperti bayangan, memanfaatkan kegelapan malam untuk menyembunyikan kehadiran kami. Sharman, yang berjalan di depan, menjadi panduan kami melalui jalur yang tersembunyi. Setiap gerakannya diukur dengan presisi, setiap pandangannya tajam, mengawasi setiap sudut yang kami lewati. Lucia, yang berjalan di sampingku, terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat tertekan oleh beratnya tanggung jawab. "Kita harus siap untuk segala kemungkinan," bisiknya. "Pengguna Buku Kematian tidak akan membiarkan kita masuk begitu saja ke wilayah mereka." Kami melewati jalur yang berliku dan terjal, mendaki pegunungan yang tersembunyi di balik kabut tebal. Udara dingin menusuk kulit, tetapi tidak sebanding dengan dinginnya ketakutan yang mulai merayap ke dalam hati kami. Ciel, yang biasanya tenang dan terkendali, tampak lebih waspada. "Kita harus menjaga formasi," katanya, memeriksa setiap peralatan yang kami bawa. "Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di dalam goa itu." Dengan setiap langkah yang kami ambil, rasa cemas dan antisipasi semakin menjadi. Kami semua tahu bahwa pertempuran yang akan datang bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng. Ini adalah pertarungan antara hidup dan mati, antara cahaya dan kegelapan yang telah lama bersarang di dunia ini. Setelah berjam-jam berjalan dalam keheningan, kami akhirnya tiba di pintu masuk goa. Tempat itu tersembunyi di balik kabut tebal dan dikelilingi oleh tebing yang terjal. Suasana di sekitar goa terasa suram dan menakutkan, seolah menyimpan rahasia yang kelam. Kami berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang mungkin akan terkikis dalam pertempuran yang akan datang. Sharman memberikan isyarat agar kami bersiap. "Ini saatnya," ujarnya, suaranya rendah namun penuh kepastian. "Kita harus masuk dan menghadapi apa pun yang menanti di dalam." Lucia menatap pintu masuk goa dengan mata yang penuh tekad. "Kita sudah jauh melangkah," katanya. "Sekarang, tidak ada jalan untuk mundur." Kami mengambil langkah pertama kami menuju goa itu dengan hati yang berat namun penuh harapan. Cahaya senter kami menjadi satu-satunya penerang di dalam kegelapan yang mencekam. Kami bergerak maju, menyusuri lorong goa yang sempit dan berliku, menyadari bahwa setiap langkah bisa menjadi langkah terakhir kami. Ketika kami semakin mendalam ke dalam goa, suasana menjadi semakin mencekam. Udara di dalam goa terasa lembap dan dingin, dan suara tetesan air yang jatuh terdengar seperti dentingan jam yang menandai waktu yang semakin dekat dengan akhir. Tiba-tiba, tanpa peringatan, kami disergap. Pengguna Buku Kematian, dengan kekuatan yang mengerikan, muncul dari kegelapan, menyerang kami dengan brutal dan tanpa ampun. Kami terkejut, tapi segera membalas serangan. Pertempuran pecah dengan dahsyat, suara benturan s*****a dan teriakan mengisi lorong goa yang sempit. Kami bertarung dengan segala yang kami miliki, namun musuh tampaknya memiliki kekuatan yang melebihi ekspektasi kami. Aku, di tengah pertempuran, merasakan rasa takut yang mendalam namun juga semangat untuk bertahan. Kami bertarung bukan hanya untuk diri kami sendiri, tetapi juga untuk masa depan yang lebih baik, untuk dunia yang bebas dari cengkeraman kegelapan. Lorong goa yang sempit dan gelap itu seakan menjadi alam semesta kami saat ini. Kami, para pejuang keadilan, bergerak semakin dalam, memasuki jantung kegelapan yang telah lama menunggu kedatangan kami. Udara di dalam goa terasa lembap dan dingin, menyelimuti kami dengan hening yang mencekam. Cahaya lampu di kepala kami hanya mampu menerangi sebagian kecil dari goa yang kelam, meninggalkan sisa kegelapan yang terasa hidup, seolah menunggu untuk menelan kami. Sharman, yang berjalan di depan, setiap gerakannya penuh dengan kewaspadaan. Dia menoleh ke belakang, memastikan bahwa kami semua tetap berada dalam jangkauan pandangnya. “Tetap dekat,” bisiknya, suaranya hampir tak terdengar namun cukup kuat untuk menembus keheningan. Lucia, yang berjalan di sampingku, tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri, matanya menatap ke dalam kegelapan yang melingkupi kami. Aku bisa merasakan ada pertempuran batin yang terjadi di dalam dirinya, sebuah pertarungan antara rasa takut dan keberanian. Tanpa peringatan, kegelapan itu tiba-tiba menjadi hidup. Dari balik lipatan kegelapan, pengguna Buku Kematian meluncur keluar seperti bayangan. Mereka menyerang dengan kecepatan yang mencengangkan, serangan mereka begitu tajam dan cepat, membuat kami kesulitan untuk mengimbanginya. Pertempuran pecah dengan dahsyat. Kami, para pejuang cahaya, berusaha bertahan menghadapi serangan yang ganas. Sharman dengan pedangnya yang tajam, memimpin barisan depan. Dia bergerak dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa, setiap pukulannya menghantam musuh dengan presisi yang mematikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN