Episode 20

1099 Kata
Lucia, dengan kekuatan yang dia simpan sebagai rahasia, mencoba memberikan dukungan dari belakang. Aku, menggunakan kekuatan Buku Kehidupan, berusaha menyembuhkan luka-luka rekan kami yang terluka, mengirimkan energi vital ke dalam tubuh mereka. Pertempuran itu sengit, tiada henti. Kami bertarung sambil terus bergerak ke dalam goa, mencoba menjangkau pusat kekuatan musuh. Di setiap sudut dan belokan, ancaman baru muncul, setiap pertempuran menjadi ujian atas kekuatan dan keberanian kami. Di sisi lain, pengguna Buku Kematian menunjukkan kekuatan yang mengerikan. Mereka bergerak dengan keangkuhan, serangan mereka seolah menghancurkan ruang dan waktu. Mereka tahu setiap gerak kami, seolah-olah mereka telah mempelajari setiap strategi yang kami buat. Aku berusaha bertarung dengan segenap kemampuan yang kumiliki. Setiap kali aku menghantam, setiap mantra yang kubacakan, aku merasakan kekuatan Buku Kehidupan mengalir dalam diriku, memberikan kekuatan untuk terus bertarung. Namun, di tengah kekacauan, aku merasakan pukulan yang mengerikan menghantam tubuhku. Rasa sakit yang tak terperikan melanda, aku terlempar dan terhempas ke dinding goa. Kesadaranku mulai mengabur, tubuhku lemah tak berdaya. Lucia, yang melihat kondisiku, dengan cepat bergegas ke sisiku. Matanya penuh dengan kekhawatiran dan air mata. "Lutfi, aku tidak bisa membiarkanmu mati di sini," katanya, suaranya tercekat oleh emosi. Dengan keputusan yang mustahil, Lucia memutuskan untuk menggunakan kekuatan yang telah lama dia sembunyikan dari siapapun. Tiba-tiba, sebuah cahaya memenuhi sekitar kami, sebuah cahaya yang memancarkan distorsi waktu. Aku dapat melihat dari kejauhan, cahaya merah tua yang menyelimuti tubuh Lucia, seakan dia benar-benar mengeluarkan cahaya itu sendiri. Aku merasakan tubuhku terangkat, dilempar kembali ke masa lalu, ke sebuah tempat yang tak asing bagiku, tempat dimana aku terdampar setelah di serang oleh singa. Aku terbangun dari mimpi ku yang panjang. Kepalaku berfikir keras, menyadari jika aku telah dilempar oleh Lucia. Kondisiku sebelum dilempar sangat parah, dan hampir meninggal. Meskipun aku terkejut bahwa Lucia adalah pengguna buku waktu. Dia tidak pernah menceritakannya padaku. Pertempuran yang seharusnya menjadi momen kami untuk bersatu dan bertarung bersama, kini menjadi akhir dari perjalanan kami bersama. Aku terpisah dari mereka, dari pertempuran, dari nasib yang telah kubentuk bersama mereka. Lucia, dengan air mata dan keputusan yang berat, telah mengirimku kembali ke masa laluku, meninggalkan pertempuran yang belum selesai. *** Di saat aku merasa tubuhku terangkat oleh cahaya merah tua yang menyelimuti Lucia, sebuah sensasi aneh menyeruak dalam diriku. Aku merasakan diriku terlempar kembali, tidak hanya di ruang tetapi juga di waktu. Seolah-olah setiap detik yang telah kulalui di masa lalu dan masa kini berbaur menjadi satu, menciptakan sebuah kanvas waktu yang membingungkan. Saat aku membuka mata, aku mendapati diriku terbaring di tanah yang keras dan berbatu. Aku melihat langit yang terasa begitu familiar, seolah menyambutku kembali ke masa yang pernah kutinggalkan. Sinar matahari terasa hangat di kulitku, berbeda dengan dinginnya goa tempat aku bertarung tadi. Keterkejutan dan kebingungan menyelimuti pikiranku. Aku berusaha bangkit, menstabilkan diri dalam keadaan yang sama sekali berbeda dari apa yang baru saja aku lalui. Aku berada di tempat yang sama, tempat aku pertama kali menemukan Buku Kehidupan, tempat dimana perjalananku yang luar biasa itu dimulai. Duduk di sana, aku mulai merenungkan semua yang telah terjadi. Lucia, dengan kekuatan Buku Waktu, telah mengirimku kembali ke masa lalu. Tindakannya itu, meskipun menyelamatkanku, juga memisahkan aku dari pertempuran yang belum selesai, dari rekan-rekan yang masih berjuang. Aku merasa ada campuran emosi yang sulit dijelaskan; rasa terima kasih, kehilangan, dan kebingungan bergelora dalam diriku. Aku menyadari bahwa aku kini memiliki kesempatan kedua, sebuah kesempatan untuk memulai lagi, tapi juga sebuah beban pengetahuan tentang apa yang mungkin terjadi di masa depan. Aku berdiri, menatap ke arah pegunungan yang menjulang tinggi di kejauhan, tempat aku pernah memulai petualanganku. Aku tahu bahwa aku harus membuat keputusan. Apakah aku akan tinggal di masa ini, atau mencari cara untuk kembali dan menyelesaikan apa yang telah aku mulai? Dengan setiap napas yang aku hirup, aku merasakan kekuatan dan tekad yang kembali membangun di dalam diriku. Aku tidak bisa meninggalkan rekan-rekanku, pertempuran yang belum selesai, dan nasib yang telah kami ikat bersama. Aku memutuskan untuk mencari cara kembali. Aku akan mencari Lucia, Lucia dari masa ini, yang mungkin memiliki jawaban tentang bagaimana aku bisa kembali ke masa depan, ke pertempuran yang harus aku selesaikan. Dengan keputusan yang telah kuambil, aku mulai berjalan kembali ke arah desa, tempat segalanya dimulai. Langkahku ringan namun penuh tekad, membawa harapan dan keberanian yang baru. Ini adalah babak baru dalam perjalanku, sebuah perjalanan untuk kembali ke masa depan, untuk kembali ke pertempuran yang belum usai. *** Dalam kegelapan yang mencekam dari goa, pertempuran yang semakin sengit itu akhirnya mencapai puncaknya. Sharman, Lucia, dan para pejuang lainnya berjuang dengan segala kekuatan yang mereka miliki, namun nasib tampaknya tidak berpihak kepada mereka. Pengguna Buku Kematian, dengan kekuatan yang tampaknya tak terbatas, terus menekan, menghancurkan setiap harapan yang ada. Lucia, dengan mata yang sembab dan hati yang hancur, menyadari bahwa mereka tidak akan menang. Air matanya bercampur dengan darah dan keringat, simbol dari keputusasaan yang mendalam. "Kita tidak bisa menang," bisiknya lirih, suaranya hampir tidak terdengar di tengah keganasan pertempuran. Sharman, yang telah bertarung dengan keberanian yang luar biasa, akhirnya terjatuh, luka-lukanya terlalu parah untuk terus bertahan. "Kita telah melakukan yang terbaik," katanya dengan napas terengah-engah, menatap Lucia dan pejuang lainnya dengan mata yang penuh penyesalan. Di luar goa, di dunia yang mereka coba selamatkan, rencana k**i pengguna Buku Kematian mulai terungkap. Langit menjadi gelap, awan hitam menutupi matahari, dan tanah mulai retak, memancarkan aura kehancuran yang tak terhindarkan. Para pengguna Buku Kematian, dengan kekuatan mereka, telah memulai proses penghancuran bumi. Kota-kota hancur, lautan mengamuk, dan gunung-gunung runtuh. Kehidupan, seperti yang dikenal oleh banyak orang, mulai berakhir. Kekacauan dan ketakutan menyebar di seluruh penjuru dunia, menyisakan hanya keputusasaan dan kehilangan. Di tengah kehancuran yang terjadi, Lucia dan para pejuang yang tersisa menyadari bahwa mereka telah gagal. Mereka berdiri, tubuh dan jiwa mereka terluka, menyaksikan akhir dari segalanya. Lucia, dengan air mata yang terus mengalir, menatap kehancuran yang terjadi, merasakan beratnya tanggung jawab atas keputusan yang telah dia ambil. Sharman, yang masih berusaha untuk tetap sadar, merenungkan perjalanan mereka. "Kita telah berjuang dengan segenap hati," katanya lemah. "Tapi terkadang, nasib tidak berpihak pada yang berani." Di tempat yang jauh, Lutfi, yang telah terlempar kembali ke masa lalunya, tidak menyadari bahwa dia telah meninggalkan sebuah dunia yang sekarang hancur. Dia berdiri, menatap langit yang cerah di masa lalunya, tidak menyadari bahwa di masa depan, langit itu telah menjadi gelap, dan dunia yang dia kenal telah hilang selamanya. Pertempuran yang telah mereka lakukan dengan penuh harapan dan keberanian kini hanyalah kenangan dari sebuah dunia yang telah hancur. Mereka, para pejuang yang berani, sekarang hanya menjadi bagian dari sejarah, sebuah kisah tentang keberanian dan pengorbanan yang pada akhirnya tidak mampu mengubah takdir yang kejam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN