Bagunan megah itu kini hancur lebur, tidak semua, hanya ruang pertemuan yang hancur. Itu berkat pelindung gelembung yang digunakan dewan militer, kerusakan yang terjadi bisa di minimalisir.
Para petugas mulai membersihkan ruangan pertemuan itu. Tidak butuh lama hingga ruangan itu kembali seperti semula, hanya butuh waktu tiga jam untuk membangunnya kembali.
Kami beristirahat di kamar bangunan ini. Teman sekamarku Sharman, sementara Lucia berada di kamar yang lain.
Aku sama sekali tidak bisa membayangkan teknologi yang ada disini. Sungguh, semua terlihat tidak masuk akal.
Lantai di bangunan ini seperti layar-layar proyektor, aku hanya tinggal memikirkan tempat yang ingin ku tuju, seketika lantai ini menunjukkan arahnya.
Sepertinya itu merupakan teknologi kecerdasan buatan, yang mampu membaca keinginan tuannya dengan menganalisis kegiatan sehari-hari penghuni bangunan ini. Tentu saja, penghuni bangunan ini bukanlah orang sembarangan. Bangunan ini adalah pusat dari pertahanan seluruh dunia, jantung dunia.
Ada alasan mengapa bangunan ini dibangun di tengah-tengah hutan yang dilindungi. Dan itu mengapa bangunan ini memiliki julukan jantung dunia.
"Satu minggu dari sekarang, ya?" Aku menghela nafas, mengeluh.
Baru saja aku tiba di sini setelah berjam-jam perjalanan, dan sekarang aku harus pergi ke pusat kota.
"Sebaiknya kau simpan tenagamu, Lutfi. Istirahat lah" Sharman yang sejak tadi duduk di sebuah kursi, menatapku kesal.
Sharman sedang menyelidiki sesuatu, dia sudah lama sekali duduk di kursi itu. Membuka-buka lembar halaman buku yang sangat tebal.
"Aku sedang tidak ingin tidur, lebih tepatnya aku tidak bisa tidur." Aku beranjak dari kasurku.
"Mau kemana?"
"Melihat-lihat bangunan ini."
Semenjak kami tiba, aku sama sekali belum mengetahui seluruh isi bangunan ini. Sangat besar, sungguh, bahkan lebih besar dari pada sepuluh kali lapangan sepak bola. Bangunan ini besar, namun tidak menjulang ke atas, hanya terdiri dari 3 lantai.
Lantai pertama adalah tempat untuk menerima tamu, rapat, dan urusan administrasi lainnya, lantai ini juga termasuk aula besar yang kami lihat sebelumnya.
"Aku khawatir tersesat jika berjalan lebih jauh" Itu serius, sejak aku berjalan, terdapat lorong-lorong besar yang mustahil aku hafal semuanya.
5 menit berjalan, aku melihat tangga yang melingkar dan menembus langit-langit. Tangga itu menuju lantai selanjutnya.
Aku berjalan manaki tangga itu, tapi anehnya sebelum aku melangkagkan kakiku, tangga itu berjalan dengan sendirinya. Saking terkejutnya, aku sampai hampir terjatuh.
Di lantai dua, terdapat fasilitas-fasilitas olahraga, gym, lapangan bulu tangkis, basket, volly, dan lainnya. Lantai ini tidak kalah besar dengan lantai sebelumnya.
Aku bisa melihat orang yang sedang bermain futsal, dan olahraga lainnya. Tak sedikit orang yang hanya duduk dan melihat orang yang sedang bermain sepak bola. Aku serius, ada stadion di dalam lantai ruangan ini.
Aku melanjutkan langkahku ke lantai selanjutnya, lantai tiga. Aku melewati tangga seperti tangga sebelumnya, sama persis. Kali ini aku tidak akan terkecoh lagi dengan tangga itu.
Lantai tiga sangat berbeda dengan lantai sebelumnya. Bukan fasilitas olahraga, bukan juga ruang rapat, melainkan perpustakaan.
Perpustakaan itu, sejauh mata memandang di penuhi oleh rak-rak yang di isi buku.
Aku berjalan berkeliling perpustakaan, sesekali membuka-buka buku, bukan buku pelajaran, melainkan novel. Aku mengambil buku sembarang, lalu pergi ke kursi dan meja yang tersedia tersusun rapi.
Aku duduk, membuka novel itu. Tanpa menyadari ada seseorang di hadapanku.
"Kamu belum tidur, Fi?" Seseorang bertanya kepadaku.
Itu adalah suara yang amat kukenal, suara gadis itu tidak asing bagiku. Aku mengalihkan pandanganku dari buku itu. Mengejutkan! Itu adalah Lucia.

Aku menatap Lucia, "Aku sedang tidak ingin tidur" Lagipula aku ingin berkeliling bangunan ini.
"Begitu. Bolehkah aku ikut membaca disini?" Lucia bertanya, membawa buku tebal berisi tulisan-tulisan kuno yang sama sekali tidak kumengerti.
"Tentu saja."
Kami menghabiskan waktu berjam-jam, tak terasa sudah larut malam. Rasanya baru sebentar aku membaca buku ini, sebagian buku telah selesai k****a. Buku ini seru sekali, menceritakan bencana alam dan romantis, sungguh aku pasti akan membaca sampai selesai selanjutnya.
Lucia, sejak tadi, terlihat sangat serius membaca buku tebal itu. Konsentrasi nya sangat kuat, bahkan dia tidak terganggu oleh apapun.
Sudah pukul 2 pagi, aku sudah mulai mengantuk, tubuhku juga lelah, pegal-pegal.
"Sebaiknya kita istirahat, ini sudah larut malam" Lucia menutup bukunya.
"Baiklah, aku juga sudah mengantuk" Jawabku.
Aku mengembalikan buku yang k****a, dan kembali ke kamarku. Sulit untuk menemukan kamarku, untungnya aku di bantu oleh Lucia.
"Selamat istirahat, Lucia" Aku menatap Lucia, dan tersenyum tipis.
Lucia membalas "kamu juga, pastikan istirahat dengan cukup" Kamar Lucia berada di sebrang kamar ku dengan Sharman.
Aku membuka pintu kamar, sepertinya Sharman sudah tertidur lelap. Dia tidur bersamaan dengan tumpukan kertas-kertas.
Aku sudah sangat lelah, pergi beranjak ke kesur, dan tak lama jatuh tertidur lelap.
"Lutfi, bangun. Ini sudah siang" Sharman membangunkan ku.
"Sepuluh menit lagi."
"Hey, kalau kau tidak bangun kami tinggal" Sharman mendengus.
Rasanya baru sebentar aku tertidur.
***
Di sebuah tempat yang jauh, seseorang sedang mengumpulkan kekuatan, menyusun rencana yang mengerikan.
"Khahaha, sia-sia usahamu pengguna kekuatan waktu. Bahkan sampai membawa Buku Kehidupan dari masa lalu. Sampai segitunyakah kalian tidak memiliki kekuatan" Seseorang yang sedang duduk di singgasananya, sedang menyaksikan layar yang di hadapannya.
Ruangan itu gelap, seperti di dalam goa, hanya ada kesunyian dan kesepian. Dinding-dinding ruangan itu di ukir oleh ukuran alam. Sangat indah.
Di balik sosok lelaki itu terdapat rencana yang mengerikan, yang membuat banyak kematian. Dia adalah Pengguna Kematian, semakin banyak kematian, maka dia semakin kuat.
Seorang lelaki itu sangat membenci Pengguna Buku Kehidupan yang selalu mengganggu rencana nya, karena itu dia selalu meneror pengguna buku kehidupan. Untuk itulah pengguna buku kehidupan masa ini selalu berusaha mengelabui pengguna buku kematian.
"Tinggal selangkah agar inti bumi hancur. Gunung-gunung purba akan meletus, bencana alam besar akan terjadi seluruh permukaan bumi. Manusia akan mengalami depopulasi, dan hanya menyisakan satu persen di antara mereka. Semakin banyak korban, semakin aku tidak terkalahkan. Khahaha."
Itu adalah rencana yang licik, kejam, bahkan tidak terfikir kan oleh siapapun.
Seorang lelaki itu kuat, sangat kuat. Memiliki ambisi yang sangat besar. Bahkan rela melakukan apapun demi ambisinya, bahkan mengorbankan seluruh yang ada di bumi.
Hanya tinggal beberapa minggu sampai dia melancarkan rencananya untuk menghancurkan segalanya.
Yang pengguna buku kematian tidak ketahui adalah pengguna buku kehidupan masa kini, dan masa lalu telah berkerja sama untuk mengalahkan pengguna kematian. Tidak hanya itu, seluruh pengguna kekuatan telah bekerja sama untuk hanya sekedar mengalahkannya.