Episode 16

1185 Kata
Dua puluh tiga tahun lalu, lebih tepatnya tujuh puluh tujuh tahun setelah Lutfi menghilang, terlempar ke masa depan. "Sharman, nak, cepat masuk. Di luar akan hujan deras" Seorang Ibu memanggil anaknya yang sedang bermain di taman. "Baik, Ma" Anak kecil berusia enam tahun itu menurut. Itu adalah Sharman. Dia masih kecil, lugu, dan tidak tahu apapun. Di luar, cuaca semakin memburuk. Langit dipenuhi awan gelap. Angin semakin kencang tidak karuan. Setetes demi setetes air hujan mulai turun. Kemudian hujan pun turun sangat deras. Air hujan itu membasahi jalanan, bukan jalan aspal, melainkan tanah. Pada masa itu tidak semaju sekarang, bahkan, tidak ada gedung-gedung tinggi, hanya ada rumah yang saling berjarak dengan rumah lainnya. Walaupun ini adalah kota, namun tidak jauh berbeda dengan pedesaan. Pembangunan infrastruktur belum merata pada saat ini. Seorang pria paruh baya mengangkat Sharman, menggendongnya "Kamu bermain di taman lagi, Sharman?" "Iya, Pa. Tapi hujan turun." "Sebaiknya kamu pergi mandi, lalu makan malam bersama" Pria itu, yang merupakan ayah Sharman, menyuruhnya membersihkan diri. Tanpa di suruh dua kali, Sharman bergegas pergi. Beberapa menit berlalu, dia telah selesai, dan kembali. Sharman memutuskan menonton TV, menunggu ibu yang sedang menyiapkan makanan di dapur. Walaupun pada masa itu TV tidak berwarna, tetapi sangat jarang orang yang memilikinya, hanya orang-orang tertentu. Tak terasa beberapa jam berlalu. Saat ini tepat pukul tujuh malam, waktunya makan malam. Wanita paruh baya itu dengan lugas menyiapkan makanan ke meja yang kosong itu, tak butuh waktu lama, meja tersebut telah terisi penuh dengan makanan. "Sharman, panggil ayahmu. Makan malamnya sudah siap." "Baik, Bu" Dia beranjak dari kursinya, lantas pergi memanggil Ayah. Tak sampai satu menit, mereka telah kembali, sembari membawa sendok dan garpu. Pada saat ini, teknologi belum terlalu maju. Semuanya masih serba manual, membeli bahan makanan, memasak sendiri, berbeda dengan masa kini, 23 tahun kemudian yang serba otomatis. Namun, itulah yang semua orang rindu kan. Mereka semua duduk di sebuah meja berbentuk persegi yang saling berhadapan, kemudian menyantap hidangan yang menggunung di atas meja. Tiga puluh menit berlalu, makanan yang menggunung di meja tadi, kini telah habis tak bersisa. "Terima kasih atas hidangannya, ini enak sekali" Itu adalah ayah Sharman, dia dengan tulus mengucapkannya. Bukan berarti sebaliknya, justru dia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. "Benarkah? Aku harap itu benar" Wanita itu, yang sedang berada di dapur, meskipun jawabannya dingin, di dalam hatinya dia sangat senang. Ibu Sharman, Ariella, sedang mencuci piring. Sharman masuk ke kamarnya, mengerjakan tugas, sementara Ayah Sharman menonton bola tim favoritnya. Itu adalah suasana yang biasa, hampir setiap hari mereka melakukan kegiatan bersama-sama, dengan hangat. Keluarga ini sangat bahagia, hidup berkecukupan, dan dapat di katakan sempurna. *** Jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sebagian orang rumah telah tidur, hanya Sharman yang sedang sibuk bermain ponsel. Menurut Sharman, ini adalah waktu yang pas untuk menghabiskan malam dengan bermain ponsel, besok adalah hari libur, namun tetap saja itu tidak baik untuk dilakukan olah anak berusia enam tahun. Sharman sangat menyukai teknologi, bahkan dia sampai menyelundupkan barang-barang aneh ke rumahnya. Barang-barang itu akan di gunakan Sharman untuk melakukan eksperimen, tentu saja bukan eksperimen yang terlalu sulit, namun dia terus belajar. Malam ini, Sharman begadang bukan tanpa alasan. Dia sedang membaca sebuah berita, ilmuan termuda di dunia telah mematenkan teknologi mobil terbang, dan beberapa paten teknologi lainnya. Itu adalah berita yang trending selama beberapa bulan. Dia sangat suka membaca berita-berita tentang hal seperti itu. Dia sibuk dengan ponselnya sampai larut malam. Di saat semua penghuni rumah telah tertidur, terdapat seseorang misterius menyusup ke dalam rumah. Dangan hati-hati seorang misterius itu masuk ke dalam rumah, entah apa tujuannya. Kehadirannya nyaris tidak bisa di rasakan, mustahil orang biasa menyadarinya. Dia, orang misterius yang sedang menyusup itu menyembunyikan keberadaannya dengan kekuatan yang tidak diketahui. Ayah Sharman, Armand, terjaga dari tidurnya. Dialah yang pertama kali menyadari kehadiran penyusup itu. Armand bukanlah orang sembarangan, dia adalah pengguna kekuatan. Karena itulah Armand bisa menyadari keberadaan musuh. Sementara itu, seorang misterius yang menyusup sudah tahu keberadaannya telah diketahui. Dia mempercepat pergerakannya, menuju kamar target. Tak butuh waktu lama untuk menemukan kamar target, orang misterius, yang merupakan penyusup langsung mendobrak pintu kamar tersebut. Namun, anehnya walaupun pintu itu di dobrak sampai hancur, tidak ada suara yang di timbulkan. Yang penyusup itu tidak ketahui adalah Armand, yang sudah terjaga, melakukan serangan dadakan ke seseorang tersebut. "Wahai seluruh materi alam, yang merupakan zat, bergeraklah sesuai kemauan ku, hancurkanlah" Sebuah cahaya memancarkan dan menghancurkan apa yang ada di sekitarnya. Itu adalah kemampuan yang sangat mengerikan. Jika itu orang biasa, maka akan hancur tak bersisa, hanya menyisakan tulang ekor mereka. Tetapi yang Armand lawan bukanlah orang sembarangan. Dia adalah musuh umat manusia, orang yang paling mengerikan. "Yoo, Dewan militer. Aku sudah berusaha untuk menyapamu. Sepertinya kemampuanmu belum karatan, baguslah" Seseorang misterius itu melepaskan mantel yang menutupi wajahnya. Mengejutkan, penyusup itu adalah pengguna buku kematian. Yang lebih mengejutkan adalah fakta bahwa ayah Sharman, Armand adalah seorang Dewan militer. Tidak mengherankan pengguna buku kematian sendiri yang menemui Dewan militer. "Apa yang kau mau!?" Dengan nada yang tegas Armand bertanya kepada seorang pria di depannya. Bersamaan dengan itu, Armand telah membuat penghalang berupa gelembung yang mengisolasi kamar Armand. Armand tidak ingin istri dan anaknya terlibat dalam pertarungan ini. "Jangan terlalu serius begitu, kamu akan mati, jadi nikmatilah sisa hidupmu dengan santai. Khahaha" Dia seakan berbicara dengan bercanda, namun dia serius mengucapkannya. Pengguna Buku Kematian tidak bisa di tebak, seakan dia telah merencanakan sesuatu yang besar dan tidak dapat di baca oleh siapapun. Belum genap dia menyelesaikan kalimatnya, pengguna buku kematian itu langsung mengaktifkan bukunya. Seketika buku itu melayang di sekitarnya, dan penggunanya ikut menghilang. Bukan karena menghilang, dia terlihat menghilang karena dia bergerak sangat cepat. Gerakannya terhenti di udara ketika Armand lebih dulu mulai menyerangnya. "Atom-atom yang berada di sekitar ruangan ini, meledaklah, sampai tak bersisa apapun" Armand mengucapkan sesuatu yang mengerikan. Kekuatan Armand adalah Transmutasi Materi, dengan kekuatan ini dia dapat mengubah satu zat menjadi zat lain. Bahkan dapat meledakan materi atom di sekitarnya. Tentu saja, ini sangat beresiko, terlebih di dalam ruangan yang terisolasi, tidak ada tempat untuk melarikan diri. "Hei, hei kamu bercanda 'kan? Apakah kamu serius meledakan seisi ruangan ini?" Pengguna buku kematian itu keringat dingin, dia tidak pernah menduga Armand akan menggunakan kekuatan ini. "Ini adalah kesempatanku untuk menghentikan rencana gila kau" Sharman mengerutu. Menurut Armand ini adalah tindakan yang paling layak untuk dipertimbangan, terlebih, lawannya adalah pengguna buku kematian. Hanya itu satu-satunya serangan yang mampu melukai pengguna buku kematian. Armand sangat kuat, kemampuannya tidak terkalahkan, namun lawannya adalah pengguna buku kematian yang kekuatannya tidak masuk akal. Seketika ruangan kecil itu meledak, panas dalam ruangan itu meningkat ke titik di luar batas manusia. Dengan panas satu juta drajat celcius, dapat melenyapkan apapun yang ada didalamnya, tentu saja termasuk yang menggunakannya. Untungnya Armand telah mengaktifkan pelindung gelembung yang mengisolasi ruangan ini dari dunia luar, sehingga tidak berdampak ke luar gelembung. "Kamu benar-benar gila, Dewan Militer" Pengguna buku kematian, yang berantakan, masih melayang di ruangan itu. Bajunya tampak banyak sobekan, terbakar. Walaupun pengguna buku kematian telah membuat pertahanan, memfokuskan dirinya membuat pertahanan. Dinding pertahanan itu dengan mudah merobek pertahanan pengguna buku kematian. Sungguh luar biasa Pengguna Buku Kematian masih berdiri kokoh, sementara Armand telah menghilang selamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN