Rangga vs Niko

1432 Kata
Rangga dan Jelita makan di meja yang sama, sedangkan Gino memilih duduk sendirian. Gino tidak mau mengganggu hubungan Rangga dan Jelita yang baru bertemu mungkin setelah ini Rangga bisa menerima Jeslin dan Niko. Setelah mereka selesai makan siang, tujuan selanjutnya adalah sekolah Jelita untuk mengambil surat pindah sekolah. Rangga dan Gino akan menemani Jelita untuk menceritakan alasan Jelita pindah sekolah kepada Jeslin "Mas, nanti gimana cara bilangnya ke mama" Jelita tidak mau turun dari mobil,hanya Rangga yang masuk ke dalam untuk menemui Lisa kepala sekolah jelita "Kan ada mas Rangga,udah kamu tenang aja ya" Gino sebenarnya sedikit takut jika Niko akan marah kepada Rangga, pastinya nanti suasana akan memanas lagi "Kenapa mas Rangga nggak balik ke rumah ya mas" Jelita tidak pernah melihat Rangga datang ke rumah mereka "Mmmmmmm,,,,,mas Rangga sibuk dek,jadi dia belum sempat ke rumah, nanti kan mas Rangga ke rumah habis dari sini" Gino berharap agar keadaan tetap aman jika nanti sampai di rumah Rangga menemui Lisa yang sedang menghukum para murid-muridnya, Rangga tampak acuh saja melihat anak-anak yang menjahili Jelita menangis. Lisa menghampiri Rangga berharap bisa membuat jelita berubah pikiran "Saya menjemput surat pindah sekolah adik saya Jelita Camelia Malik" Rangga tidak masuk ke dalam ruangan Lisa ,dia hanya menunggu di taman yang berada tepat di depan ruangan Lisa "Pak, saya mohon tolong beri kesempatan pada sekolah ini untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat" Lisa memberikan kertas surat pindah sekolah kepada Rangga. Lisa masih berharap Rangga tidak melakukan blacklist pada sekolah mereka. "Masih banyak perusahaan di luar sana" Rangga meninggalkan Lisa tanpa mendengar permintaan memohon Lisa lagi "Kenapa aku tidak membenci jelita, seperti aku membenci kedua orangtuanya?" Rangga hanya mengikuti kata hatinya untuk melindungi jelita Gino dan jelita yang menunggu Rangga di dalam mobil,mereka berdua sedang melihat sekolah yang akan menjadi sekolah baru Jelita. "Mas,jeli mau sekolah di sini aja" Jelita melihat sangat banyak bidang seni yang ada di sekolah itu,tapi Gino melihat sekolah itu berbanding terbalik dengan sekolah jelita sebelumnya "Tanya masa Rangga dulu,itu dia udah datang" Gino mengacak-acak rambut jelita sambil tersenyum "Udah beres" Rangga memberikan surat pindah sekolah Jelita kepada Gino "Mas, jeli mau sekolah di sini saja" Jelita menunjukkan hp nya pada Rangga "Kamu suka sekolahnya" Rangga melihat sekolah yang di inginkan jelita "Suka mas" jawab jelita semangat "Ya udah daftar saja di sini" Rangga setuju dengan jelita asalkan jelita tidak di bully lagi oleh para temannya kelak "Bagaimana cara bilangnya sama om dan Tante" Gino membawa mobilnya meninggalkan sekolah jelita "Kamu aja yang bilang" Rangga masih enggan untuk menemui Jeslin. "Pasti om marah lah, jelita pindah kita nggak bilang apa-apa sama dia" Gino sedikit takut jika tidak ada Rangga "Gimna dong mas, Jeli takut" jelita memikirkan bagaimana nanti Niko marah padanya "Kalau kamu di usir tinggal sama nenek aja" Rangga mengambilkan keputusan sesukanya saja tanpa memikirkan niko setuju atau tidak.Gino dan jelita hanya diam saja menuju rumah, tidak ada pembicaraan berbeda dengan Rangga yang cuek tanpa beban sesampainya di rumah, Rangga dan Gino menunggu di halaman rumah karena Rangga tidak mau masuk. Jelita sudah masuk duluan memanggil Niko dan Jeslin "Papa" Rangga melihat lapangan futsal kecil yang dibuatkan papanya saat dia kecil dulu, Rangga dan Erik suka bermain bola,kadang mereka hanya menghabiskan waktu hanya bermain bola. "Pa,ada mas Rangga dan mas Gino di depan" Jelita sudah mulai ketakutan belum menyampaikan jika dia sudah keluar dari sekolahnya "Rangga" Jeslin langsung keluar rumah dengan perasaan bahagia, di ikuti oleh niko dan Jelita "Kenapa kalian nggak masuk ke dalam rumah" Jeslin mendekati Rangga,dia ingin sekali memeluk anaknya itu "Di sini saja Tante" Gino menjawabnya sambil duduk di kursi taman "Rangga,masuk ke dalam dulu nak" Jeslin memeluk Rangga anak kandungnya "Jangan peluk saya nyonya Malik" Reynold ingin Jeslin melepaskan pelukannya "Nak, panggil mama" Jeslin membelai lembut pipi Rangga "Saya sudah lupa cara memanggil kata kata itu,bukankah kata kata itu hanya diucapkan seorang anak yang benar benar di sayang oleh wanita yang melahirkan nya" Rangga mundur 2 langkah agar tidak terlalu dekat dengan Jeslin "Mama sayang kamu nak, jangan ngomong gitu" Jeslin menangis lagi melihat anaknya yang enggan menyebutkan kata mama "Saya kesini hanya ingin menjelaskan, jika jelita sudah keluar dari sekolahnya karena dia di bully habis habisan oleh teman satu kelas nya. besok dia akan pindah ke sekolah xx" Rangga menjelaskan apa alasan dirinya mau datang ke rumah yang menyimpan luka dalam baginya "Kamu keluar dari sekolah? Tanpa memberitahukan papa? Bicarakan dulu dengan papa atau mama jangan ambil keputusan begitu saja" niko membentak jelita hingga menangis "Mama" Jelita memeluk Jeslin karena dibentak oleh Niko "Dia di bully teman sekolahnya mas, jangan bentak jelita dia takut mas" Jeslin memeluk jelita agar tidak menangis "Kamu anggap papa sudah mati" Niko tidak terima jika jelita keluar tanpa berbicara dengan dirinya terlebih dahulu "Bukan gitu pa,teman jeli jahat semua pa, kanvas putih jeli di buat jadi lap lantai,jeli nggak bisa melukis lagi" Jelita membeberkan bagaimana dia di bully oleh orang-orang "Kamu melukis untuk apa" niko membuat jelita semakin menangis "Mas" Jeslin kesal pada niko "Jeli mau jadi pelukis,kan mas Rangga udah pulang kenapa jelita yang diberikan tanggungjawab perusahaan, jeli nggak mau!" Jelita ngos-ngosan meluapkan emosi nya pada niko "Melukis tidak akan menghasilkan uang" Niko meneriaki jelita "Cukup" Rangga menarik tangan jelita "Kumpulkan baju kamu, tinggal sama saya, menyekolahkan kamu sampai ke negara SG itu sangat mudah" Rangga sudah tersulut emosinya mendengar niko membentak jelita "Silahkan" Niko tidak akan menahan jelita "Kamu yang pergi dari sini mas" Jeslin akan kehilangan 2 anak jika jelita pergi dari rumah nya lagi "Kumpulkan semua baju kamu" Rangga membuat jelita bingung "Tapi papa" jelita bingung berdiri di tempatnya "Kalau kamu masih mau tinggal di sini,besok kembali ke sekolah mu,jika kamu mau ke sekolah lain, silahkan ikut Rangga dan kumpulkan semua baju kamu!" Niko dan. Rangga saling bersitegang "Kelewatan kamu mas" Jeslin melihat Niko dengan sangat marah "Kamu ambil baju kamu sekarang, waktu saya tidak banyak jelita" Rangga membuat jelita bingung "Rangga jangan bawa jelita nak, besok mama yang antar jelita mendaftar sekolah" Jeslin memeluk jelita dan Rangga "Om, kasihan jelita dia di bully terus di sekolah, jangan sampai jelita putus sekolah om" Gino sudah melihat suasana tidak kondusif sehingga dia angkat bicara tentang permasalahan yang terjadi Niko membawa Jeslin masuk ke rumah secara paksa, Rangga tampak tidak suka tapi dia menahan dirinya "biarkan jelita dibawa Rangga,biar mereka dekat dulu sayang,aku juga tidak mau anak ku di bully,aku yakin Rangga pasti sudah memikirkan semuanya untuk jelita" Niko memeluk Jeslin menyesali perbuatannya kasar di depan Rangga "mas kenapa nggak bilang dari awal,mas saja yang temui mereka,aku takut Rangga semakin marah sama aku" Jeslin masuk ke dalam kamarnya,dia harus mendekatkan Rangga dan jelita dulu "ambil baju kamu" Rangga memeluk adiknya yang menangis, dia sangat menyayangi jelita adiknya meskipun mereka baru bertemu sebentar Niko keluar dari rumah kemudian memberikan pilihan pada jelita "tetap di sini dan sekolah di sekolah yang lama, atau keluar dari sini dan ikuti mas kamu itu" Niko yakin pasti Rangga sangat marah sekali sekarang "ikut mas Rangga" Jelita masuk ke rumah dan mengambil baju seadanya saja "om,jangan gini" Gino yakin hubungan Rangga dan Niko pasti memanas lagi "17 tahun bukan anak anak lagi,jadi dia sudah memikirkan semua nya sebelum mengambil tindakan, kalian berdua juga harus ikut campur dengan ini karena kalianlah yang membuat jelita keluar dari sekolahnya" Niko masih bersikap tenang untuk menjaga perasaan Jeslin "harusnya perhatikan pendidikan anak anda, sekarang lihat sibuk mengurus perusahaan kalian berdua sudah menelantarkan anak kandung kalian,jika kalian menelantarkan saya tidak masalah bagi saya, karena saya bukan darah daging anda. Jelita Camelia Malik anak dari anda dan nyonya Jeslin Malik seharusnya anda mengutamakan dia dulu" Rangga melihat Jelita sudah keluar dari rumah sehingga dia menyudahi perdebatan dengan Niko "semoga ini keputusan yang tepat buat kamu Jelita, silahkan ikuti mas kamu" Niko masuk ke dalam rumah meninggalkan Rangga, jelita dan Gino "sudahlah, hidup dengan saya juga kamu akan bahagia" Rangga membawa tas Jelita dan memasukannya ke dalam mobil Gino yakin pasti ada alasan Niko melakukan nya, Rangga dan jelita akan tinggal serumah. bagi Rangga mengurusi adiknya tidak akan susah karena jelita tipe anak penurut tidak banyak protes "kamu besok akan mas daftarkan di sekolah ini,kamu ambil bagian melukis agar bakat kamu tersalurkan, jangan lawan arus kamu akan tenggelam jika memaksakan diri kamu" Rangga tidak percaya Niko membiarkan jelita pergi keluar dari rumahnya "untuk mendekatkan kamu dengan Rangga,harus mengorbankan jelita dulu,kamu percaya sama mas ya" Niko mencium kening Jeslin "semoga ini yang terbaik buat kita, aku mau Rangga mas" Jeslin memeluk photo Rangga saat dia masih kecil "kita akan bawa dia pulang ke rumah ini" niko harus memperbaiki semuanya agar perusahaan Erik Hamid bisa diberikan kepada Rangga yang memang ahli waris Erik
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN