Sepanjang perjalanan Jelita hanya diam,dia menyesal sekali telah melakukan itu kepada papanya. Jelita yakin mama nya pasti akan menangis memikirkan dirinya yang keluar dari rumah.
"Kamu mau pulang ke rumah papa mu?" Rangga yakin pasti Jelita merasa bersalah karena dia keluar dari sekolah tanpa memberitahukannya terlebih dahulu
"Mama pasti nangis mas" Jelita tertunduk sedih
"Dia tidak akan sedih, kalau sedih sudah keluar dari tadi bukannya malah sembunyi di kamar" Rangga meyakini pendapat nya sendiri tanpa mau tau kebenaran nya
"Mas jangan panggil dia dia,mama Jeslin yang melahirkan kita berdua,Jeli tau kita beda papa tapi kan mama kita cuma mama Jeslin" Jeli tidak suka jika Rangga tidak sopan pada mamanya
"Dulu" Rangga memilih diam saja, apa gunanya mengakui mama jika hatinya sangat terluka dengan perbuatan Jeslin menikah dengan Niko
"Rangga, bukannya aku mau ikut campur masalah kalian berdua, tapi yang dikatakan Jelita benar, kamu jangan mengajarkan Jelita untuk membenci tante Jeslin juga" Gino tidak mau jika nanti Jelita meniru perbuatan Rangga yang tidak menghargai mamanya sendiri.
"Iya mas,mama sayang banget sama Mas Rangga, tiap hari mama selalu mengatakan jika mama sangat merindukan Mas Rangga,setiap Mama cerita kepada Jelita air mata selalu membasahi pipinya, mengatakan jika dia sangat ingin Mas kembali ke rumah" Jelita mengenal Rangga dari cerita Jeslin
"Sudahlah saya tidak mau membahas masalah ini lagi" Rangga sudah mengubur dalam kenangan nya bersama mama yang melahirkannya
Tidak ada lagi yang buka suara sampai mereka sampai di apartemen. Rangga membawa tas yang berisi baju jelita.
"Mas Rangga tinggal di sini" Jelita mengikuti langkah Gino dan Rangga menaiki lift untuk menuju rumah mereka
"Ya" Rangga menjawab nya dingin
"Nanti kamu tinggal bersama Mas Rangga, kalau perlu apa-apa kamu pergi ke lantai 18 Mas Gino tinggal di situ" Gino keluar setelah lift terbuka
"Iya mas" jelita tersenyum pada Gino
"Di apartemen hanya ada 2 kamar,1 kamarnya kamu,jangan malas membersihkannya, saya tidak suka orang kotor" Rangga menekan pin rumahnya
"Terima kasih Mas Rangga" Jelita membawa tasnya setelah Rangga menunjuk letak kamar jelita,Rangga masuk ke kamarnya untuk membersikan badannya dan merendamkan amarahnya
Di rumah Anggun
Anggun menemui ibunya untuk menanyakan perihal obat yang setiap hari diminum oleh ibunya, Anggun sangat berharap jika obat itu bukanlah milik ibunya
"Bu, boleh Anggun masuk ke dalam" Anggun mengetuk pintu kamar ibunya sebelum masuk ke dalam
"Masuk mbak pintu gak dikunci" terdengar suara Ibu Anggun menjawab ketukan pintu,di tangan Anggun ada plastik yang berisi buah-buahan dan obat-obatan untuk ibunya. Anggun duduk di samping ibunya yang baru selesai mandi
"Bagaimana tadi makanan yang Mbak antar ke perusahaan EBA, mereka semua suka kan" tangan lembut ibu Anggun membelai kepala Anggun
"Seperti biasa bu" Anggun sangat tidak suka dibohongi apalagi oleh orang tuanya
"Kamu kenapa Mbak capek ya, maafin ibu ya seharusnya di usia yang sekarang kamu sedang kuliah atau bekerja di tempat lain untuk masa depan sendiri, maafin Ibu jadi beban buat kamu" Yuni ibu Anggun sangat tahu bagaimana anaknya itu bekerja mati-matian untuk memenuhi kebutuhannya dan kedua Adik Anggun
"Anggun ikhlas melakukan semuanya Bu, tapi ada yang harus Ibu tahu dari Anggun. Jangan sampai ada yang membohongi Anggun sekalipun, Anggun tidak bisa memaafkan hal itu" Anggun tertunduk lemas karena dia tidak mau mendengar fakta apa yang sebenarnya
"Mbak bilang apa, Ibu tidak punya rahasia apapun, mana mungkin Ibu membohongi anak ibu sendiri" Yuni melihat plastik yang di bawa Anggun
"Lalu kenapa Ibu minum obat ini setiap hari" Anggun mengeluarkan obat yang dibeli di apotek tadi
"Kamu tahu dari mana nak" Yuni tidak bisa menahan air matanya lagi, dia tidak mau menceritakan penyakitnya karena dia tidak ingin jadi beban untuk Anggun, yang sudah mati-matian membantu ayahnya untuk mencari nafkah.
"Jawab Anggun bu" Anggun sudah mulai menitikkan air matanya karena sepertinya ibunya memang mengidap sebuah tumor atau kanker
"Ibu terkena kanker p******a, sehingga ibu harus meminum obat itu agar tidak menjalar kemana-mana" Yuni menangis memeluk Anggun
"Kenapa Ibu harus merahasiakannya bu" Anggun menangis dipelukan Yuni
"Ibu tidak mau menjadi beban buat kalian" Yuni sangat menyayangi ketiga anaknya
"Ibu bukan beban, ibu melahirkan kami bertiga ke dunia ini bertaruh nyawa, apa yang bisa kami balas untuk semua itu bu" Anggun sangat terluka mengetahui sakit ibu nya yang tidak main-main.
"Mbak, Kamu tidak usah memikirkan ibu. Kamu juga harus memikirkan masa depanmu nak, jangan hanya memikirkan kami, pikirkan juga dirimu sendiri" Yuni menjelaskan bagaimana Anggun harus berjuang juga untuk dirinya sendiri,karena dia mau anaknya dihargai orang lain juga
"Anggun sekarang hanya memikirkan bagaimana caranya supaya ibu sembuh, aku tidak peduli bagaimana masa depan Anggun. Ibu harus sembuh apapun akan aku lakukan demi ibu" Anggun mencium kaki Yuni dengan berlinang air mata
"Ibu sudah tua, mungkin waktu Ibu tidak akan banyak lagi. Kamu dan kedua adikmu masih mempunyai masa depan yang cerah" Yuni tidak mau jika Anggun hanya memikirkan dirinya karena penyakit yang ada di tubuh Yuni
"Apa gunanya masa depan kami cerah,jika kami kehilangan seorang ibu" Anggun sangat sayang ibunya, rasanya apa saja akan dia lakukan asalkan ibu nya bahagia
"Mbak,semua akan kembali pada penciptanya. Kita tidak bisa menentangnya jika Tuhan sudah berkehendak nak" Yuni mengusap lembut kepala Anggun
"Ayo kita berobat bu, jangan di sini terus tanpa ada usaha" Anggun akan membawa ibunya ke dokter spesialis agar dia tau apa yang harus dilakukan nya untuk kesembuhannya ibunya.Yuni tau Anggun sedang kecewa padanya karena telah berbohong menutupi semua yang terjadi pada nya
"Iya,ibu akan pergi berobat sama mbak. jangan marah lagi sama ibu" Yuni mencium kening Anggun dengan penuh kasih sayang.
Anggun meninggalkan kamar ibu nya untuk segera bersiap-siap ke rumah sakit,Anggun masuk ke dalam kamarnya kemudian dia mengambil kursi kecil untuk mengambil sesuatu dari atas lemari nya
"semoga cukup" Anggun mengambil gunting dan mulai menggunting celengan nya agar bisa mengambil uang di dalamnya.
Anggun selalu menyisihkan uang untuk di tabung, prioritas Anggun adalah untuk menyekolahkan kedua adiknya hingga tamat, jika ada rezeki lain mungkin Anggun akan menguliahkan kedua adiknya.
Tangan Anggun mengambil helaian demi helaian uang yang tercecer di lantai. air matanya selalu membasahi pipinya,bahkan menurut Anggun tindakan nya ini belum seberapa untuk membantu ibunya
"Caca" Anggun yang sudah selesai dengan dirinya, memanggil adiknya untuk memberitahukan jika dia akan pergi bersama ibu nya ke rumah sakit
"ya mbak,mau kemana? caca yang sedang menyapu segera menemui Anggun
"mbak,mau bawa ibu berobat.Kamu jaga rumah, nanti kalau oki sudah datang,kamu suruh dia makan ca" Anggun sedang memakai sepatunya
"iya mbak,hati hati di jalan mbak. Jangan kencang kencang membawa motornya" Caca masuk ke kamar ibunya untuk melihat apakah ibunya sudah siap berangkat ke rumah sakit.Anggun menunggu di luar rumah sambil menghidupkan motot matic nya.
"Caca,ibu pergi sama mbak dulu,jaga rumah ya nak" Yuni naik ke atas motor di bantu oleh caca
"iya bu, cepat sembuh ya, hati hati mbak Anggun" Caca masuk ke rumah setelah Anggun dan Yuni sudah jauh tak terlihat lagi
Di perjalanan menuju rumah sakit,Yuni merasakan sakit di payudaranyaa,rasa sakit yang terus menjalari tubuhnya. Yuni menahan di daadanya sakitnya agar Anggun tidak terganggu membawa motor.yuni yang sudah tidak tahan lagi akhirnya meminta Anggun berhenti dulu agar mereka tidak terjatuh.
"bu, kambuh lagi sakit nya" Anggun menepikan motornya,dia membantu Yuni turun dari motor dan mendudukkannya di tepi jalan.
"masih jauh ya mbak, ibu nggak kuat" wajah Yuni sangat pucat karena sakit yang teramat dirasakannya
"maafin Anggun bu" Anggun merasa bersalah seharusnya dia tidak membawa ibunya yang sedang kesakitan
"mas, mereka berdua kenapa" Jelita yang sedang di dalam mobil Rangga menunjuk Yuni dan Anggun yang sedang duduk di tepi jalan sambil menangis
"bukan urusan saya" Rangga tidak menoleh sedikitpun pada anggun karena dia merasa itu bukanlah urusannya
"Andaikan mobil jelita ada di sini, pasti jelita udah tolong ibu yang kesakitan itu,kalau yang ada di posisi itu jelita sama mama,apa mas nggak sedih ya, nggak ada yang mau nolongin kami? Jelita menangis membayangkan dirinya dan Jeslin yang ada di situ
Rangga memundurkan mobilnya, Jelita segera turun dari mobil untuk membawa Anggun dan Yuni ke rumah sakit. Rangga hanya menunggu di dalam mobil tidak mau ikut campur
"maaf mbak, apa kalian mengalami kecelakaan, kenapa ibu nya menangis" Jelita duduk di samping Yuni sambil memeriksa apa ada bekas luka.
"nggak mbak,sakit ibu saya kambuh jadi kami menepi di sini, kalau di paksakan takut jatuh di jalan" Anggun menjawab jelita tanpa melihat nya
"mau kemana mbak, biar kami antar" Jelita tidak tega melihat wajah pucat Yuni
"mau bawa ibu saya ke rumah sakit mbak,mau periksa penyakit ibu saya" Anggun berharap ibunya cepat tenang agar mereka bisa pulang
"sebentar ya mbak" Jelita berdiri dan mengetuk kaca mobil tepat di tempat Rangga duduk
"mas, kita bantu mereka ya, kasihan ibunya mereka mau ke rumah sakit" Jelita memohon kepada Rangga
"hem" jawab Rangga tanpa melihat jelita karena matanya hanya fokus ke hp
"terimakasih mas" jelita senang sekali Rangga mau menolong Yuni dan Anggun
"mbak, ibu kita ke rumah sakit nya pakai mobil aja, biar ibu ini bisa istirahat di dalam juga" Jelita permisi dulu kepada Anggun
"iya bu,naik mobil aja ya,biar cepat sampainya" Anggun tidak mau menolaknya karena memang dia sangat membutuhkan nya
Yuni di bantu oleh Anggun dan Jelita untuk masuk ke dalam mobil. Jelita duduk di belakang untuk menemani Yuni karena Anggun tidak mungkin meninggalkan motornya di tepi jalan
"mau dibawa ke rumah sakit mana mbak?" tanya jelita pada Anggun dari dalam mobil
"rumah sakit xx mbak" anggun mengendarai sepeda motor nya dan Rangga mengikuti nya dari belakang.
"ibu, tahan sebentar ya,kita nggak akan lama lagi sampai ke rumah sakit xx" Jelita membayangkan jika itu Jeslin.
"terimakasih ya nak" Yuni hanya bisa mengucapkan itu, Rangga senang ternyata jelita memiliki simpati yang tinggi kepada orang lain
10 menit kemudian mereka sampai di rumah sakit xx. Anggun memarkirkan sepeda motornya dan berlari ke parkiran khusus mobil untuk membawa Ibunya ke dalam rumah sakit
"mas, bisa minta tolong ke satpam nya ambilkan kursi roda" Jelita tau pasti Yuni tidak bisa jalan sendirian
"hem" jawab Rangga singkat langsung turun dari mobil untuk mengambil kursi roda untuk Yuni. Anggun baru sampai di mobil Rangga karena jarak parkiran sepeda motor dan mobil sedikit jauh.Anggun melihat Yuni sudah di papah oleh Rangga untuk turun dari mobil
"terimakasih mas" Anggun tersenyum hangat pada Rangga,dia mendorong kursi roda ibunya masuk ke dalam untuk mendaftarkan ibunya menemui dokter spesialis.Anggun mengambil nomor antrian untuk mengantri,dia berharap agar cepat dipanggil agar ibunya cepat di tangani
"mas,kita lihat ibu sama mbak tadi ya" Jelita memohon pada Rangga
"tidak" Rangga masuk kedalam mobilnya
"ya udah mas pulang aja,nanti jeli naik ojek on-line aja pulang nya" jelita segera berlari ke dalam rumah sakit
Rangga membiarkannya pergi,saat Rangga akan meninggalkan rumah sakit,Gino menghubungi Rangga
"Rangga,kamu dimna maaf aku mengganggu mu" Gino berharap agar Rangga sedang tidak sibuk
"ada apa Gino,aku sedang ada di rumah sakit xx" Rangga perlahan-lahan menjalankan mobilnya
"kebetulan kamu di situ,kamu bisa tolong daftarkan nenek sekarang di rumah sakit xx, hari ini nenek ada check up sama dokter Dimas" Gino tidak bisa ke rumah sakit karena dia juga harus mengurus resto sederhananya
"baiklah,aku akan mendaftar nya dulu" Rangga sangat menyayangi neneknya,karena neneknya yang selalu menenangkan Rangga ketika bermasalah dengan Jeslin. Rangga memutar mobilnya lagi masuk ke dalam rumah sakit. Rangga memarkirkan mobilnya lagi di tempat semula
Jelita menemani Anggun dan Yuni sambil menunggu no antrian. Rangga masuk ke dalam dan dia mengambil no antrian juga.
"mas Rangga, sebentar ya mbak, aku temui mas aku dulu" jelita pamit kepada Anggun dan mendatangi Rangga
"mas, ngapain di sini, tadi kan udah pulang" jelita duduk di samping Rangga
"mau daftarkan nenek, untuk check up nanti" Rangga menjawab sekenanya saja
"langsung saja mas,bilang ke orang yang ada di meja pendaftaran nya nama mas Gino. Jelita sama mas Gino nggak daftar panjang gini kalau bawa nenek check up" Jelita menarik tangan Rangga untuk mengikuti nya
Rangga hanya menurut saja, karena memang dia tidak tau bagaimana cara mendaftarkan pasien. Jelita mendaftarkan neneknya, dan benar saja semua cepat tanpa ada kendala
"saya mau daftar kan 1 orang lagi buk" jelita melihat wajah Anggun yang lelah karena antriannya masih jauh
"oh ya baik,mau sama dokter apa" tanya ibu Heni yang duduk di meja pendaftaran
"saya tanya dulu ya buk,mas tunggu di sini" Jelita berlari ke tempat Anggun untuk menanyakan sakit yang di alami Yuni ibu Anggun.
Rangga hanya sebenarnya sangat kesal tapi dia tidak tega memarahi adiknya itu
"mbak, langsung saja ke meja pendaftaran namanya buk Yeni, biar aku yang menjaga Ibu di sini, Mbak ke tempat mas saya berdiri" jelita menunjuk Rangga yang melihat mereka
"terima kasih ya mbak, saya bisa minta tolong jaga Ibu saya dulu" Anggun tidak mau meninggalkan ibunya sendiri
"iya mbak pergi saja,saya akan menjaga ibu" Jelita tersenyum pada Yuni yang merasakan sakit di dadaa nya sedikit berkurang setelah minum obat penghilang sakit
"permisi Bu,saya mau mendaftarkan ibu saya" Anggun duduk di hadapan ibu Heni yang duduk di meja pendaftaran
"ya tadi didaftarkan oleh Jelita atas nama Gino" tanya Heni
"heemmm,,mbak yang itu kan bu" Anggun menunjuk Jelita
"iya, sebentar ya" Heni yang mengurus pendaftaran pasien meminta KTP Ibu nya Anggun. Rangga berdiri di tempat nya entah untuk apa.Anggun menunjukkan obat yang diminum ibunya, Anggun juga menceritakan yang meminum obat ini orang yang terkena kanker atau tumor.
Heni menyarankan agar Anggun melakukan rontgen dulu kepada ibunya agar tidak menerka-nerka sakit apa yang ada di dalam tubuh ibunya.
"apa biayanya mahal Bu" Anggun takut uangnya tidak cukup
"500 sampai ketemu dokter nya mbak,kalau obatnya nanti mbak langsung bayar di apotekernya" Heni memberikan kertas rujukan pada perawat bagian Rontgen
"tolong kerjakan secepatnya, saya yang akan membayar nya" Rangga tidak suka menunggu lama, Anggun pun pasrah saja, nanti dia akan bekerja untuk mengembalikan uang Rangga