kegalauan Anggun

2005 Kata
Anggun mendorong kursi roda ibunya di ikuti jelita menuju kamar untuk USG, Yuni melihat kecemasan di wajah putri nya. "Mbak,udah jangan nangis,ibu nggak apa apa" Yuni memeluk Anggun sebelum masuk ke ruangan USG "Anggun takut bu" Anggun menangis di pelukan ibunya, jelita sangat tau bagaimana kecemasan Anggun karena juga dia sangat sayang dengan Jeslin mama nya "Ya sudah kita pulang saja nak, kalau takut. ibu tidak kuat melihat air mata kamu Yuni mencoba berdiri, tapi anggun menahan Ibunya dan meminta maaf karena telah menangis "Maafin Anggun bu,semua pasti akan baik baik saja" Anggun mencium kedua tangan Yuni "Sabar ya Mbak" jelita memeluk Anggun setelah Yuni dibawa oleh perawat masuk ke dalam ruangan usg. "Terimakasih mbak" Anggun sekilas melihat Rangga, Anggun melepaskan pelukannya dari jelita dan mendekati Rangga "Maaf mas,saya mengucapkan terimakasih banyak sudah mau menolong saya, secepatnya saya akan mengganti uang yang mas pinjamkan kepada saya" Anggun mencoba tersenyum pada Rangga "Tdiak perlu" Rangga meninggalkan Anggun dan menemui jelita untuk segera pulang "Kalau kamu mau di sini saya akan pulang duluan" Rangga tidak bisa membujuk Jelita untuk pulang "Iya mas,kita pulang" jelita tidak berani lagi melawan karena melihat mata Rangga yang melorot.jelita pamit kepada Anggun untuk pulang,dia mendoakan agar ibu nya Anggun segera pulih dan tidak ada penyakit yang serius di tubuh nya 20 menit kemudian Yuni keluar dari ruangan usg, merekapun diantarkan untuk menemui dr spesialis bagian dalam, guna untuk menjelaskan penyakit yang ada di tubuh Yuni. Anggun masuk ke dalam ruang periksa dan praktek dr Dimas yang tak lain adalah dr bagian dalam Dr dimas menerangkan semua kepada Anggun,jika ibunya mengalami kanker jinak dan harus segera di operasi agar tidak menyebar ke mana mana. anggun menanyakan berapa uang yang diperlukan untuk operasi. "Kurang lebih 30 juta" jawab dr Dimas, anggun samgat terpukul,dia tidak bisa menahan air matanya, darimana dia akan mendapatkan uang sebanyak itu "Saya akan usahakan dr, semoga ibu saya lekas pulih dan tidak kesakitan lagi" Anggun menarik nafasnya dan dia percaya bahwa semua akan ada jalan nya,demi kebahagiaan ibu nya dan mereka semua "Kamu dapat uang dari mana nak, ibu iklhas semua yang terjadi" Yuni tidak ingin anaknya terbebani dengan penyakitnya, apalagi Anggun masih sangat muda belum selayaknya dia memikirkan ini semua "Saya sarankan agar cepat ibu,karena semakin lama ditangani maka dia akan menyebar ke bagian yang lain" dr Dimas memberikan surat rujukan jika akan melakukan operasi secepatnya "Terimakasih dr,kami pamit dulu" Anggun mendorong kursi roda Yuni untuk keluar dari ruangan dr Dimas. tatapan mata anggun begitu kosong,dia memikirkan darimana akan mencari uang sebanyak itu "Mbak, tidak usah pikirkan ibu" Yuni mendongak ke atas melihat mata putrinya yang memikirkan semua beban hidup mereka "Biarkan Anggun berusaha dulu bu" Anggun yakin pasti semuanya akan baik baik saja dan akan ada jalan untuk menyembuhkan ibunya. Anggun dan Yuni sampai di luar rumah sakit, Anggun memesan taxi on-line untuk membawa ibunya pulang, karena jika naik motor anggun takut ibunya terjatuh Anggun mengikuti taxi on-line dari belakang, pikiran nya terus menerus mencari cara untuk bisa mengobati ibunya. Sementara Rangga dan jelita sudah sampai di apartemen Rangga. jelita memilih untuk tidur saja karena dia memang suka bermalas-malasan. "Mas, Jeli mau tidur dulu ya" jelita masuk ke kamarnya dan tidur "Saya ada diruang kerja, kamu kalau ada apa apa panggil saya" Rangga sedang memeriksa email yang di kirimkan oleh Niko, besok Rangga harus mulai menunjukkan kemampuan nya kepada Rangga "Anda terlalu berbelit-belit Niko Malik" Rangga mulai mempelajari semua materi perusahaan yang akan di olah nya sendiri. Rangga sangat gigih untuk belajar kesempatan ini tidak akan disia-siakan oleh nya "Jika persyaratan pertama sudah selesai,aku akan segera mencari Wanita yang akan menjadi istri sementara ku, kenapa bertele-tele seperti ini semuanya. jika semua aset sudah ada di tangan ku,aku akan mengambil semuanya tanpa sisa" Rangga tidak bisa mengalah lagi, baginya perusahaan papa nya adalah hak nya bukan hak Niko yang berstatus orang lain baginya Rangga dan Anggun sekarang sama sama sedang memperjuangkan hal yang sangat berharga bagi mereka berdua. Rangga sedang mati-matian memperjuangkan perusahaan papanya agar segera jatuh ke tangan nya, lain hal dengan Anggun yang sedang berusaha mencari jalan agar ibunya cepat di operasi dan segera sembuh di tempat lain Gino dan nenek kesayangannya sedang di rumah sakit xx untuk check up , tempat dimana tadi rangga membawa ibu Anggun berobat "Nek, sampai kapan nenek akan menunda operasi transfusi ginjal lagi,jangan sampai keadaan nenek drop total semua akan sia sia nek" Gino sangat kesal karena neneknya selalu mengulur waktu untuk melakukan transfusi ginjal "Nenek tidak merasakan sakit sama sekali, kalian semua tidak boleh egois demi menyelamatkan nenek kalian harus mengorbankan orang lain nanti, Apa kamu tidak memikirkan bagaimana masa depan nya nanti" nenek Sarah adalah nenek Rangga, jelita dan Gino. "kalau ada orang yang mau menjual ginjalnya berarti karena dia sudah memikirkan segala resikonya nek,kita kan tidak memaksa mereka" Gino akan melakukan apa saja demi keselamatan neneknya "Tapi mereka mau karena iming-iming uang yang kalian berikan cukup besar, jadi mereka tidak memikirkan apa resikonya jika ginjalnya hanya tinggal 1" Sarah merasa dirinya sudah tua sehingga tidak perlu melakukan transfusi ginjal lagi "Sudahlah nek,kita tidak perlu berdebat,kami akan melakukan apa saja demi nenek" Gino membawa masuk nenek Sarah ke dalam ruang dr Justin. "Gino, sepertinya kita tidak bisa menunda lagi, semakin kita menundanya semakin buruk untuk kesehatan nenek Sarah,jika terus menunda kita kan cuci darah" dr Justin tidak bisa menunda-nunda lagi "Nenek ini sudah tua, kalian jangan mengorbankan orang lain demi nenek" Sarah salah seorang relawan pejuang kanker, tumor,dan penyakit ginjal sebelum dia sakit "kalau kita berdebat dengan ini tidak ada hasilnya dokter,Aku akan segera mencari pendonor ginjal buat nenek, semoga dokter Justin bisa tetap bersabar menunggu kami mencari pendonor ginjal "Saya akan beri waktu 2 minggu" dr Justin menuliskan resep resep obat yang harus ditebus di apotik "Terima kasih Dokter Justin kami permisi" Gino menggandeng neneknya untuk keluar dari rumah sakit, obat neneknya masih sangat banyak sehingga dia tidak mengambil obat yang sama di apotek Gino menghubungi Rangga untuk membahas perihal pendonor ginjal untuk nenek mereka. "Kita bertemu di apartemen saja, Jelita sedang tidur, aku tidak akan meninggalkan nya sendirian di sini" Rangga sangat menyayangi Jelita meskipun dia juga bingung kenapa bisa sangat sayang kepada jelita "Iya aku akan segera kesana bersama nenek" Gino memutuskan sambungan teleponnya "Kita akan ke tempat Rangga" nenek Sarah sangat senang bisa ke rumah Rangga "Ia nek, Di sana juga ada jelita" Gino menceritakan semuanya kepada Sarah, Gino tidak sama sekali memperkeruh suasana " Kenapa jesslyn sangat lemah kepada Niko, saat papa Rangga hidup, Jeslin sangat bijaksana dalam mengambil keputusan, apa tunggu kedua anaknya pergi jauh baru dia sadar" Sarah sangat kecewa kepada jesslyn saat memilih Niko daripada Rangga "Gino yakin om Niko melakukannya demi kebaikan Rangga dan tante jesslyn" Gino memilih untuk diam saja agar suara tidak terus menyalakan jesslyn Sesampainya di apartemen Rangga mereka langsung naik menuju tempat Rangga. Rangga sudah menunggu mereka di depan lift, Rangga tidak mau turun ke bawah karena dia takut nanti Jelita aku mencarinya kalau terbangun. Pintu lift terbuka Sarah dan Gino terkejut melihat Rangga yang ada di depan lift "Kamu mau buat Nenek mati ya" sarah sangat terkejut ketika pintu terbuka wajah rangga yang dilihatnya "Maaf nek" Rangga tersenyum tipis kepada Sarah Rangga menggandeng tangan Sarah untuk masuk ke dalam kamar apartemen nya,Rangga mendudukkan neneknya di sofa dan mengambil segelas air putih untuk neneknya "Kenapa kalian sangat suka tinggal di apartemen yang tidak berbaur dengan orang lain" Sarah sebenarnya sudah meminta agar rangga tinggal bersamanya saja tapi rangga tidak mau, dia adalah tipe orang yang tidak suka diganggu bekerja. "Nenek di negara SG kehidupan seperti ini sudah biasa, jadi nggak usah khawatir kepada kami berdua" Rangga menenangkan neneknya agar tidak usah memikirkan hal-hal yang kecil seperti ini "Terserah kalian saja, nenek kecewa pada kalian karena terlalu cepat besar,nenekmu kalian tetap menjadi anak bayi saja agar kalian tidak pergi dari nenek, nenek bisa memeluk dan menciumi kalian" Sarah kadang merasa kesepian jika semua cucunya sibuk bekerja atau sekolah "mana bisa seperti itu Nek, kami juga mau menikah dan memiliki anak bayi seperti mama papa membuat kami dulu" Gino tertawa agar nenek nyw berhenti menceramahi mereka "Oh iya bagaimana kondisi nenek tadi" Rangga memijat kaki Sarah "Nenek harus segera mendapat pendonor ginjal, jika tidak nenek harus segera cuci darah karena kondisi ginjal yang sudah tidak berfungsi lagi" Gino menceritakan pada Rangga apa yang dokter Jastin katakan "Ya sudah kamu cari saja, berikan tawuran uang yang cukup besar sehingga mereka datang untuk mengantar ginjal mereka" itulah pemikiran Rangga "Ya aku akan segera mencarinya" Gino tertawa karena neneknya tidak berani banyak bicara di depan Rangga, ketegasan yang dibawa Rangga membuat dirinya begitu berkarisma. Gino, Rangga dan Sarah menghabiskan waktu sore di rumah apartemen Rangga, banyak hal yang mereka bahas sementara di rumah anggun suasana tidak sehangat di apartemen milik Rangga. suasana rumah sangat hening karena Anggun mengurung dirinya di kamar sambil menangis. Anggun tidak bisa memikirkan dari mana dia akan mendapatkan uang sebanyak itu untuk mengoperasi ibunya "Anggun harus bagaimana mendapatkan uang itu, tolong Anggun Tuhan" Anggun bener-bener putus asa tidak menemukan jalan keluar nya Yuni hanya bisa menangis dalam kamar nya, anggun belum sepatutnya memikirkan masalah berat ini, Anggun juga belum sepantasnya memikul masalah keluarga. "Anggun, maafkan Ibu nak" Anggun yang sedang menangis mendapat telepon dari Gino,entah mengapa rasanya hati Anggun sangat bahagia menerima telepon itu " ya Mas Gino ada apa" suara angginy terdengar berat di telinga Gino "maaf mbak Anggun acara nenek saya akan di adakan besok,jadi besok saja Mbak Anggun menyiapkan makanan untuk acara nenek saya, tidak masalah kan Mbak?" Gino dan Rangga memajukan acara neneknya, setelah itu neneknya bisa beristirahat "iya Pak besok saya akan segera kesana tidak masalah" Anggun aku memutuskan sambungan teleponnya Dia sangat tidak ingin diganggu sekarang.Gino sangat lega karena Anggun tidak marah sama sekali. Anggun memilih untuk segera menyiapkan bahan makanannya untuk dimasak besok,baginya menangis pun tidak akan mendapatkan jalan keluar "mbak,tadi Dokter bilang apa tentang penyakit ibu" Caca baru selesai mandi kemudian dia duduk di dapur untuk membantu Anggun menyiapkan bahan makanan untuk besok "ibu harus segera dioperasi ca, ada kanker di badan ibu" anggun mencoba tenang agar adiknya tidak panik "kita punya uang dari mana Mbak untuk mengoperasi ibu" air mata Caca jatuh berlinangan, ini adalah cobaan terberat bagi keluarganya, karena mereka bukanlah orang kaya.jika bukan karena Anggun mungkin sekarang 2 adiknya tidak sekolah "semoga Tuhan membukakan jalan untuk kita, mbak yakin pasti ada jalan" Anggun menguatkan adiknya agar tidak menangis "caca berhenti sekolah aja Mbak, Caca bisa bantu mbak cari uang" Caca menangis di pelukan Anggun "kalau kamu berhenti sekolah, Apa kamu bisa dapat uang 30juta untuk operasi ibu?" Anggun mengangkat dagu Caca dan melihat matanya "enggak mbak" Caca menggelengkan kepalanya, tidak mungkin dia mendapatkan uang setelah berhenti sekolah "yang sudah kamu sekolah saja" anggun tidak akan membiarkan adik nya putus sekolah "bagaimana caranya mbak akan mendapatkan uang sebanyak itu untuk operasi ibu" Caca menangis menatap mata Anggun "masih ada jalan lain ca, jika Tuhan memberikan cobaan pasti ada jalannya" Anggun membersihkan air mata Caca Anggun sangat yakin pasti ada jalan untuk mengobati ibunya, meskipun dia sama sekali tidak tahu harus kemana mencari uang sebanyak itu. di sisi lain gino sedang pusing ke mana mencari pendonor ginjal untuk neneknya,tidak mungkin dia mempromosikannya di f*******: atau media sosial lainnya, bisa-bisa dia tertuduh sebagai penjual organ tubuh manusia. "kalau kamu mau mencari pendonor ginjal, sasaranmu adalah orang-orang yang tidak mampu pasti mereka akan mau" Rangga memberi usul kepada Gino "kita tidak boleh sembarangan mencari ginjal untuk nenek,ginjal untuk nenek harus orang yang menjaga kesehatan nya, bukan ginjal orang-orang yang suka minum minuman keras atau pemakai pemakai barang terlarang" Gino tidak akan sembarangan memilih orang untuk mendonorkan ginjalnya kepada neneknya "kenapa kamu tidak mencarinya di rumah sakit saja" Rangga yakin di rumah sakit pasti ada orang yang bisa mendonorkan ginjal mereka "kamu jangan banyak bicara Rangga, kamu pikir mencari ginjal seperti ini tidak berbahaya? makanya aku melakukannya diam-diam" Gino sangat kesal mendengar Rangga yang cerewet "kalau di negara SG hal seperti ini sangat mudah didapatkan, kenapa negara ini hal seperti ini terdengar tabuh?" Rangga tidak tahu jika peraturan masing-masing negara berbeda
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN