Pagi ini Anggun susah selesai dengan dirinya sendiri. Anggun melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
"Untung ada mas Gino,jadi aku tidak kehilangan bakat memasak ku" Anggun sibuk bekerja di cafe Gino, sehingga dia sama sekali tidak pernah memasak lagi di apartemen Rangga.
Setiap masakan yang dimasak Anggun sama sekali tidak pernah di sentuh Rangga,bahkan Rangga tidak pernah menginjakkan kakinya di dapur. Rangga selalu makan bersama dengan Neyla sehingga makanan yang di masak oleh Anggun tidak menarik baginya.
Rangga yang sudah keluar dari kamarnya membawa koper berukuran sedang,dia berencana untuk pergi bersama neyla ke negara SG untuk menghadiri acara reunian yang seangkatan dengan Rangga dan Neyla
Anggun keluar dari kamarnya,dia sudah rapi dengan pakaian dan tas kecil nya. Mereka berdua sama sekali tidak perduli keberadaan satu dengan lainnya. Rangga duduk di sofa nya menunggu kabar dari neyla
Begitulah kehidupan yang di jalani Anggun dan Rangga, tidak ada cintai atau rasa sayang, sehingga mereka sama sama saling tidak membutuhkan.
Anggun tengah membuat segelas s**u hangat,dia duduk di meja makan, sebelum berangkat ke Cafe Anggun mengisi perutnya dengan segelas s**u hangat. Anggun mendapat telfon dari Gino, jika dia akan berangkat agak siang karena harus mengurus perpanjangan SIM mobilnya dulu
"Aku naik ojek online aja ya mas" terdengar suara Anggun sangat lembut di telinga Gino
"Boleh sih, tapi kamu naik nya jangan di depan apartemen ya, jalan dikit ke seberang, peraturan apartement ini sangat menjaga keamanan penghuni apartemen" Gino menjelaskan pada Anggun agar tidak naik di depan apartemen
"Iya mas, Anggun nanti naiknya di seberang jalan aja. mas bukan nya janji ya mau pinjamkan sepeda motor untuk Anggun" Anggun rasanya lebih suka naik motor saja, jadi dia tidak akan bergantung pada Gino
"Iya Anggun,mas baru ingat. Ini sekalian mas urus dulu ya pajak dan stnk nya,biar kamu nggak ada kendala kalau bawa motor nya" Gino sangat lupa jika dia sudah janji akan meminjamkan motornya
"Aku tunggu ya mas motor nya" Anggun memutuskan sambungan telefon nya dan menghabiskan s**u di dalam gelas nya
Rangga mendengar semuanya tapi dia sama sekali tidak perduli, apa yang akan Anggun lakukan. Anggun membersihkan gelasnya,dan mengambil sepatu nya di rak sepatu. Tak ada ucapan yang keluar dari mulut Anggun saat akan pergi, Anggun keluar begitu saja tanpa permisi pada suaminya
Anggun turun menggunakan lift menuju lantai 1 apartemen elite yang rata rata di huni para pengusaha atau orang yang tidak sembarangan. Anggun keluar dari apartemen, dia berdiri di halte di depan apartemen untuk memesan ojek on-line.
Saat Anggun menunggu ojek on-line nya datang,mobil mewah tampak memasuki halaman apartemen,tak berapa lama Rangga menghampiri mobil mewah yang ternyata milik Neyla
"Kenapa bukan aku yang menjemput kamu" Rangga masuk ke dalam mobil,duduk di kursi kemudi setelah neyla pindah, tepat di samping Rangga
"Sesekali aku mau yang duluan menjemput mu" neyla bergelayutan manja di lengan kekar Rangga
"Kamu sudah membawa semua barang keperluan kamu, jangan sampai ada yang tertinggal" Rangga memutar balik mobil neyla
"Memang nya kita mau tinggal di pedalaman di negara SG, apa saja yang tinggal kita bisa beli di situ" Neyla tertawa dengan kepolosan Rangga,hanya senyuman yang diberikan Rangga atas sindiran neyla
Anggun masih duduk di halte menunggu ojek nya datang,saat Rangga melintasi halte Anggun tidak memperdulikan nya,dia sibuk dengan hp nya.
"Berhenti bentar Rangga" Neyla seperti mengenal Anggun yang duduk di halte, Rangga berhenti setelah melewati Anggun. Neyla melihat keluar kaca
"Itu pasien aku, yang aku ceritain ke kamu" Neyla menunjuk kaca spion mobil, Rangga melihat sekilas dan menjalankan mobilnya lagi
"Cantik banget kan,dia masih muda gitu. Siapa ya suami nya?" Neyla tampak memikirkan bagaimana Anggun bisa menikah di usia yang sangat muda
Rangga hanya diam saja, tidak menggubris perkataan neyla, mobil melaju menuju bandara meninggalkan Anggun yang juga tidak menghiraukan Rangga dan neyla
Di perusahaan EBA
Niko dan Jeslin sedang ada rapat penting dengan perusahaan lain, Rangga tidak harus ada dalam rapat ini tapi Niko ingin Rangga bisa hadir, karena bagaimanapun juga perusahaan EBA akan menjadi miliknya kelak
"Telfon Rangga sayang" Niko tidak enak pada para klien yang sudah menunggu kedatangan Rangga
"Mas,dia tidak bisa datang ke kantor" Jeslin menunjukkan pesan dari Jelita
"Udah kita mulai aja rapatnya nya" Niko membuka rapat dengan sangat terampil, kepiawaian Niko tidak bisa diragukan oleh para klien besar perusahaan EBA. Jeslin yang awalnya tidak tahu apa apa sekarang sudah cekatan jika ada rapat rapat besar. Niko sangat menjaga kinerja perusahaan EBA agar tetap berjalan dengan semestinya
Flashback on
Jelita yang sedang menunggu sarapan nya di sajikan, sedang mengirimkan pesan melalui WA kepada Rangga
"Mas, ajak jelita jalan jalan dong, sekalian sama mbak Anggun" jelita mengirimkan pesan
"Saya tidak bisa, beberapa hari ke depan saya ada urusan penting" balasan Rangga yang membuat jelita kesal
"Jeli bukan adik mas Rangga lagi" jelita melemparkan hp nya kedalam tas
"Nanti, jika ada waktu saya akan bawa kamu ke Negara SG,janji" pesan yang dikirim Rangga tidak di balas atau pun dibaca Jelita
"Kamu kenapa" Jeslin memberikan 1 piring nasi goreng nya pada Jelita, tampak wajah Jelita sangat kesal
"Kamu kenapa nak" Jeslin mengisi air teh hangat ke gelas Jelita
"Mas Rangga ada urusan penting, nggak bisa di ganggu" jelita tampak cemberut sekali
"Kalau mas nya sibuk,kamu nggak boleh gitu nak, nanti mas Rangga pasti hubungi kamu" Jeslin sebagai orang tua bahagia sekali, Karena Rangga tidak membenci jelita,dia sangat sayang pada adik yang 1 ibu tapi beda ayah
Flashback off
Anggun sudah sampai di cafe tempat dia bekerja,di cafe ini lah Anggun mengembangkan segala bakat memasak nya, menciptakan menu makanan yang baru. Cafe Gino berkembang sangat pesat, sekarang pembangunan cafe sudah setengah berjalan,cafe yang dulunya hanya tempat tongkrongan sekarang sudah menjadi Cafe yang ramah bagi semua kalangan.
"Chef" begitulah panggilan untuk Anggun. Dia memegang kendali dapur, sehingga makanan tersaji dengan bersih, melihat makanan yang dibuat Anggun yang bersih dan enak, itulah poin penting dari orang yang memenuhi cafe Gino.
"Berkat mbak Anggun ni,cafe jadi ramai banget,di i********: juga cafe kita jadi trending no 1" Salsa rekan kerja Anggun menunjukkan bagaimana cafe mereka sangat di gandrungi banyak anak muda.
"Kenapa berkat aku? Jika tidak ada kalian makanan yang banyak tidak akan bisa disajikan dengan tepat waktu. Ini semuanya kerjasama dan kerja kerasnya kita" Anggun menyudahi hiasan pada makanan penutup yang dipesan pelanggan
"Tangan mbak Anggun memang sangat handal, semoga mbak Anggun kelak bisa mempunyai cafe sendiri" Fadil mengucapkan doanya,dan diamini semua orang yang ada di dapur
Anggun mengantarkan makanan penutup ke meja para ibu sosialita yang sedang menunggu putarann arisan.
"Suami ibu ibu ini pasti orang yang kaya,kalau tidak mana mungkin bisa ada di sini masih jam 11 pagi" Anggun meletakan makanan penutup nya dengan sangat hati-hati
"Nama kamu siapa" tanya salah seorang ibu sosialita
"Anggun buk" jawab Anggun di iringi senyuman nya
"Anggun, kamu yang tekan putaran Arisannya" wanita paruh baya yang masih cantik meminta Anggun yang memutar secara on-line agar tidak ada yang saling mencurigai
"Boleh bu" Anggun langsung memutarnya dan nama yang keluar adalah nama Siska,yang menyuruh Anggun memutar arisannya
"Wahhhh itu nama aku" teriak Sinta bahagia, semuanya para kumpulan sosialita mentransfer sejumlah uang, masing-masing 50 juta, dikalikan dengan 15 orang yang hadir
"Astaga, banyak nya" Anggun permisi pada ibu sosialita, kembali ke dapur
"Anggun" panggil Siska yang mendapatkan arisan
"Ya buk" Anggun membalikan badannya
"Terimakasih ya,ini buat kamu" Siska memberikan 5 juta kepada Anggun
"Nggak usah buk, terimakasih" Anggun menolak nya Dengan sopan sekali
"Ini rezeki loh, nggak boleh nolak" Siska melipat uangnya dan memasukkan nya kedalam kantong celana Anggun
"Buk,saya nggak mau" anggun meninggalkan Siska dan kembali ke dapur,
"Masih ada ya anak kayak Anggun,dia tidak mau terima uang begitu saja" Siska teringat anaknya yang berstatus Dokter tapi sangat royal kepada uang dia adalah mama dari Neyla
Anggun kembali bekerja di dapur, menyiapkan makanan untuk jam makan siang,cafe pasti akan sangat ramai di jam istirahat
di bandara Rangga dan neyla sedang menunggu jam keberangkatan mereka. duduk berdampingan seperti suami istri yang sah, sementara Rangga lupa akan dirinya yang sudah beristri