Neyla dan Rangga sedang duduk berdua sambil menggenggam tangan layaknya pasangan yang baru mengikrarkan janji setia hubungan, Rangga tidak mengingat pernikahan nya dengan Anggun kemarin
"Rangga,tadi aku kesal sama salah satu pasien aku" neyla masih memikirkan Anggun yang berniat untuk melakukan program bayi tabung
"Memangnya ada apa" Rangga mengusap lembut punggung tangan neyla,dia mencoba untuk bisa menjadi teman cerita dari Wanita yang dicintainya itu.
"Aku sama sekali tidak tahu Apa tujuan dia untuk melakukan program bayi tabung, pernikahannya saja baru berumur 2 hari dan Dia masih berumur 20 tahun, kenapa dia tidak melakukan hubungan suami istri untuk mendapatkan anak? program bayi tabung itu tidak selamanya berhasil, semuanya perlu proses panjang, jika sel telur dan s****a menghasilkan pembuahan maka itu yang akan di masukan ke dalam rahim wanita muda itu. Tetapi tidak semua proses bayi tabung itu berhasil,karena pembuahan yang terjadi banyak yang gagal" neyla gusar saat di menemui pasien,yang untuk pertama kalinya ingin membuat bayi tabung tetapi belum mencoba hamil secara alami dengan melakukan hubungan suami istri dahulu
Rangga sepertinya tahu siapa yang dimaksud oleh Neyla, karena tadi dia sudah mendengar kan penjelasan neyka di telfon yang terhubung dengan Gino, dia mencerna baik-baik perkataan Neyla karena yang dimaksud oleh Neyla adalah dia dan anggun.
"Mungkin ada satu alasan yang kuat sehingga mereka memilih jalan itu,kita tidak bisa menilai seseorang hanya karena dia memilih jalan yang tidak masuk akal" rangga mencoba menjelaskan tujuan dari Wanita itu melakukan ini semua, tapi Rangga tidak mengatakan bahwa Anggun itu adalah istri sah nya secara hukum dan agama
"Mereka baru menikah dan hubungan suami istri itu masih sangat panas di antara mereka, apa pria itu mengalami gangguan seksual? Wanita itu sangat cantik dan muda,aku sangat menolak program bayi tabung dilakukan,karena wanita ini masih memiliki tingkat kehamilan yang tinggi, rahimnya tidak ada masalah sama sekali, mereka berdua harus mencoba nya dulu" neyla membuat pikiran Rangga terbuka, bahwa dia harus melakukan hubungan suami istri dengan Anggun walaupun dengan cara terpaksa, karena untuk proses bayi tabung ternyata memakan waktu yang panjang
"Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita kepada orang itu,semoga dengan kamu menjelaskan kepada wanita tadi,dia bisa menjelaska kepada suaminya untuk melakukan hubungan layaknya suami istri" Rangga sangat malu jika neyla tahu program bayi tabung yang diinginkan oleh Anggun adalah hasil dari pemaksaan nya,dan dia juga belum kepikiran untuk menyentuh anggun dalam waktu dekat
"Semoga pikiran suami nya terbuka untuk menyentuh istrinya, aku rasa Dia sangat bodoh menyia-nyiakan wanita secantik itu" neyla juga menyayangkan dengan pilihan Anggun menikah muda dengan mungkin pria yang tidak mencintainya
"Sudahlah biarkan itu menjadikan urusan mereka" Rangga menyudahi pembahasan tentang hubungan nya dan anggun, Anggun wanita yang digenggam erat oleh Rangga adalah Wanita yang akan menjadi korban keegoisan dan ketamakan Rangga akan kekuasaan
waiters mengantarkan makanan pesanan Rangga dan neyla,Makanan sudah terhidang di atas meja, mereka berdua makan dengan makanan romantis ala pasangan baru,sementara tadi makanan yang dimasak Anggun sama sekali tidak dilirik oleh Rangga. bahkan Rangga mungkin tidak tau piring warna apa yang dipakai anggun untuk menyediakan makanan
Apartemen Rangga
Anggun yang sudah selesai menangis memilih untuk melakukan kegiatan yang bisa menghilangkan beban pikirannya, Anggun keluar dari kamarnya, dia memilih untuk menonton tb saja, sulit baginya untuk memejamkan mata dengan pikiran yang teramat berat. Hutang budi nya pada Rangga memang sangat besar, mulai dari operasi ibunya, pendidik kedua adiknya, kemudian tempat usaha untuk orang tuanya.
"Lihat saja jika nanti aku hamil, Aku tidak akan membiarkan anak ku dekat dengan kamu, walaupun kamu mengemis-ngemis kepada ku. aku hanya harus membayar Hutang Budi pada mu" anggun sudah menanamkan kebencian dalam hati nya, mengucapakan nama Rangga saja dia sudah sangat jijik
Sekejap Anggun bisa melupakan masalah nya dengan Rangga,dia fokus menonton film action kesukaannya,tak berapa lama dia baru teringat jika makanan yang dimasak nya masih sisa banyak, anggun menghubungi Gino untuk mengantarkan makanan ke apartemennya
"Mas Gino dimana" Anggun menyiapkan makanan untuk Gino di wadah makanan yang sengaja dibelinya tadi
"Ini aku lagi di apartemen" Gino sedang bersiap-siap untuk ke cafe nya
"Mas,ini ada makanan yang aku masak tadi,kita ketemu di pos satpam saja ya sekalian aku juga mau memberikan makanan untuk Pak Yono" Anggun tidak mau jika rangga berpikiran negatif tentang dirinya jika gino yang datang menjemput makanan ke dalam apartemen Rangga, meskipun Rangga tidak memperdulikan hal itu
"Ya udah,sekalian aku juga mau keluar" Gino sangat senang mendapatkan perhatian dari Anggun.
Anggun memutuskan sambungan teleponnya dia membawa dua kotak makanan ke bawah, di dalam lift Anggun bertemu dengan Gino yang juga mau ke bawah
"Kebetulan bertemu di sini Mas ini buat kamu" aggun memberikan satu kotak makanan untuk Gino
"Wah sepertinya aku bisa gendut nih dapat makanan enak terus dari chef terhebat" Gino mencium aroma yang sangat lezat dari kotak makanan yang diberikan oleh Anggun, rasanya air liurnya akan menetes
"Ini ucapan terima kasih dari aku karena tadi mas sudah mau nemenin aku ke pasar untuk belanja,dan juga mau bawakan belanjaan yang banyak tadi" Anggun dan gino tertawa keluar dari lift membahas kejadian lucu di pasar
"Selamat malam Pak Yono ini ada makanan untuk bapak" anggun memberikan 1 kotak lagi makanan untuk Yono
"Terima kasih banyak Bu" Yono sangat senang mendapatkan makanan dari Anggun
"Oh iya Mas Gino mau ke mana sudah rapi begini?" Anggun
"Ini mau ke cafe dulu, mau ngecek langsung ke kafe apakah ramai atau tidak" Gino
"Aku mau ikut Mas" anggun merasa bosan jika berada di apartemen sendirian, dia juga tidak mau bertemu dengan Rangga
"Memang rangga kemana" Gino tidak enak jika membawa agung keluar sementara Rangga ada di dalam apartemen
"Tadi dia pergi entah kemana mas" Anggun sangat berharap jika Gino mau membawanya
"Sebentar ya" Gino menjauh dari Anggun dan menghubungi Rangga
"Rangga, Aku mau membawa Anggun ke kafe apa boleh" Gino
"Terserahmu saja"Rangga segera memutuskan sambungan teleponnya karena dia tidak mau neyla mendengarnya
Gino berjalan mendekati Anggun, dia mengatakan jika Anggun boleh ikut
"Mas Anggun ambil HP sebentar ya" Anggun berlari menaiki lift takut ditinggal kan Gino
"Kamu tidak usah buru-buru Mas makan dulu bersama Pak Yono di sini" gino takut jika nanti anggun terjatuh
"Mari kita makan dulu Pak, ini makanan terenak di dunia" Gino dan Yono membuka kotak makanan mereka, mereka sangat tergiur melihat makanan yang dimasak oleh Anggun. Yono dan Gino sangat kenyabg dengan porsi makanan banyak yang diberikan oleh Anggun
Anggun sudah keluar dengan berganti pakaian dia tidak mau terlihat kumuh, Anggun memakai Hoodie dipadukan dengan celana jeans panjang, tak lupa Anggun membawa tas kecilnya
"Mas kita berangkat sekarang ya Aku udah selesai" Anggun sangat bersemangat dia bisa keluar dari apartemen Rangga
"Kamu tunggu di sini saja Mas ambil mobil dulu" gino pergi ke parkiran untuk mengambil mobilnya di tidak mau jika Anggun berjalan jauh
"Andaikan Mas Rangga seperti mas Gino" Anggun kembali teringat perlakuan kasar Rangga kepadanya
Lamunan Anggun buyar ketika Gino menyalakan klakson mobilnya, anggun segera masuk ke dalam mobil
"Cafe nya jauh nggak Mas" aku sangat penasaran bagaimana bentuk cafe milik Gino
"20 menit dari apartemen kita" Gino sangat bahagia karena seharian ini dia bersama dengan Anggun
"Cukup jauh juga sih Mas jika memakan waktu hampir selama itu" Anggun melihat gedung tinggi di sepanjang jalan
"Lokasi Cafe ini sangat bagus, tempatnya dekat dengan kampus, rumah sakit dan bandara, jadi pemasaran dari cafe sangat meningkat tajam di sana" Gino menjelaskan kepada Anggun Cafe yang sangat dibanggakan nya
"Tempat nya sangat strategis, Mas sangat pandai membaca peluang" Anggun bertepuk tangan bangga kepada pemikiran Gino
"Kalau kamu tidak berniat membuka usaha apa gitu" Gino sangat tahu bagaimana kemampuan Anggun dalam memasak
"Aku hanya ingin memiliki sebuah restoran Mas, tempat di mana aku bisa memasak dengan sepuasnya,dan orang-orang akan menikmati makanan ku dengan harga yang murah" itulah yang terbesar dari seorang Anggun
"Bagaimana jika kamu menjadi koki di cafe Mas dulu" Gino tidak mau jauh-jauh dari Anggun, Rangga juga gak peduli jika Anggun pergi ke mana
"Jika Mas bersedia aku mau" kamu sangat bahagia sekali rasanya jika cafe itu tempat dia meniti karirnya
"ya sudah besok kamu mulai bekerja, sekarang kamu memantau dapur dulu" Gino senang tak terkira Anggun akan selalu dekat dengannya.
"Terima kasih banyak ya Mas" Anggun tersenyum di samping Gino
20 menit sudah mereka menghabiskan waktu di perjalanan, anggun sangat terkesima melihat cafe besar milik Gino
"Waaaw, ternyata ini kafe yang sangat terkenal itu, aku sering melihat tempat ini di iklankan di media sosial" Anggun sangat kagum kepada Gino
"Ini tidak seberapa Anggun" Dino sangat gemas melihat tingkah Anggun saat terkejut
Gino dan anggun masuk ke dalam cafe, suasana cafe sangat elegan, interiornya begitu mewah, wajar saja tempat ini disukai kaum muda karena banyak tempat yang bisa dijadikan sebagai arena untuk berfoto.
"Kita melihat dapurnya" Gino membuat mata Anggun berhenti memandangi isi dari cafe nya
"Mas nanti Anggun lihat lagi ya tempat ini" Anggun belum puas melihat semua isi dari cafe milik Gino
"Iya nanti kamu boleh berkeliling sepuasnya, dan juga kamu wajib menikmati makanan-makanan utama di cafe ini" Gino mengarahkan Anggun untuk menuju dapur.
Anggun membuka pintu dapur khusus untuk memasak, dapurnya sangat bersih, itu adalah dapur impian Anggun, memiliki dapur sangat luas dengan berbagai alat masak yang lengkap
"Kapan ya aku mempunyai tempat seperti ini" Anggun berjalan memutari dapur matanya terkagum melihat segala interior yang menggambarkan bagaimana dapur yang sebenarnya
"jika kamu giat berusaha maka kamu juga akan bisa memiliki dapur restoran yang lebih mewah dari ini" Gino sangat bahagia melihat senyum Anggun
"Semoga jika nanti kontrak pernikahan ini sudah selesai, Anggun bisa membuka restoran dan bisa melanjutkan hidup dengan anak Anggun" Anggun saat ingin lepas dari Rangga, dia akan melakukan hal apa saja supaya cepat hamil
"Aku hanya bisa mendoakan terbaik untuk kalian berdua" meskipun sebenarnya gino berharap jika Anggun dan Rangga bercerai semoga dia bisa mencoba untuk menikahi Anggun
Anggun memandangi satu persatu alat memasak, tangannya sangat ingin memasak makanan dengan alat alat mahal itu
"Oke Anggun kamu akan menjalani tes pertama" Dino sangat yakin pasti Anggun ingin mencoba memasak dengan alat-alat yang ada di dapur
"Siapa takut" Anggun mengambil celemek dan memakainya
"di dalam mesin pendingin ada banyak makanan,untuk hari ini aku membebaskan kamu masak apa saja dalam waktu 15 menit" gino menghidupkan timer yang ada di dinding
Anggun tersenyum pada Gino,aku segera berlari ke mesin pendingin dia melihat banyak sekali bahan makanan yang bisa diolah, Anggun memilih untuk memasak steak salmon beserta sausnya,tananggu dengan cepat mengambil semua bahan makanan yang diperlukan nya.
anggun sangat menjaga kebersihan dari makanannya itulah menjadi poin pertama dari gino, setelah selesai dengan bahan makanan,Anggun berlari mengambil perlengkapan untuk memasak mulai dari panci dan juga alat pemanggang steak
"Sungguh senang sekali aku bisa memasak dalam dapur indah ini" Anggun tersenyum bahagia,entah kenapa Gino sangat senang melihat wajah bahagia Anggun
"sepertinya tidak perlu sampai 15 menit aku sudah selesai masak ini" Anggun membawakan makanannya kepada Gino bagaikan chef handal
"Silakan beri penilaian Anda terhadap makan ini chef" anggun meletakkan makanan di meja, Gino.tersenyum melihat anggum yang begitu antusias untuk bekerja di cafenya
Gina memotong steak salmon itu dan memasukkan nya ke dalam mulut, ada sensasi berbeda yang ditemukan dalam makanan itu.
"Anggun jadikan ini besok sebagai makanan utama kita" Gino sangat menyukai steak buatan Anggun
"Baik bos" Anggun meletakkan tangannya di tepi keningnya sebagai tanda persetujuan bahwa menu makanan ini akan menjadi menu utama di cafe Gino
"Selanjutnya ada minuman yang sangat segar" Anggun memberikan segelas minuman racikan nya kepada Gino
"Warna dan bentuk nya sangat menarik, semoga tidak mengecewakan rasanya" Gino tersenyum kepada Anggun
"Pasti suka dong" Anggun sudah yakin minumannya pasti enak
"Tambahkan juga ini besok sebagai menu utama" Gino sudah memastikan bahwa besok makanan itu pasti akan laris manis
"Aku sudah tidak sabar untuk menunggu besok bekerja disini" Anggun berlari mengitari dapur Dia sangat bahagia bisa melampiaskan semua kekesalan nya dengan memasak
Gino tersenyum melihat kepolosan anggun, kadang dia berpikir mengapa dulu anggun tidak menikah dengannya saja, tapi dia malah memaksa Rangga untuk menikah dengan anggun
"maafkan aku anggun, aku harap jangan sampai kamu tau Siapa yang memaksa pernikahan ini terjadi" Gino menunduk tidak mau anggun melihat beban pikiran nya.
"mas,kita pulang ya" anggun melihat jam sudah menunjukan pukul 9 malam
"ya sudah" Gino menutup pintu cafe nya, anggun masuk kedalam mobil menunggu Gino menutup cafe nya
Gino berharap agar Rangga selalu mengabaikan anggun agar dia bersama dengan Anggun setiap hari.
"besok kita pergi jam 9 pagi ya" Gino akan berangkat bersama-sama dengan Anggun besok pagi
"baik mas" Anggun tidak mau tau lagi dengan Rangga mengizinkan atau tidak
sesampainya di apartemen Gino mengantarkan anggun sampai ke depan apartemen Rangga. Beruntung bagi Anggun ternyata Rangga belum pulang,jadi dia tidak akan bertemu dengan Rangga
"sampai jumpa besok mas" anggun segera masuk kedalam apartemen Rangga,dan Gino kembali ke apartemen nya
"untung dia belum pulang" Anggun segera masuk ke dalam kamar nya dan mengunci pintu nya agar Rangga tidak bisa berbuat kasar kepada nya
anggun memilih untuk beristirahat agar besok dia bisa bekerja di cafe Gino,tak lama Rangga pulang sampai di apartemen nya.dia sama sekali tidak memperdulikan Anggun darimana saja bersama Gino.
Rangga masuk ke dalam kamar nya,dia sangat bahagia sekali neyla sudah kembali ke negara IN, anggun tidak sama sekali masuk ke dalam pikiran nya dan hatinya. sebelum tidur Rangga mandi dulu,entah mengapa perasaan nya sudah membaik setelah bertemu dengan neyla
pagi hari anggun sudah sibuk di dapur untuk menyiapkan makanan untuk diri nya sendiri. Anggun tidak membersihkan apartemen Rangga,karena dia tau sudah ada yang akan membersihkan apartemen Rangga nanti.
setelah beres memasak anggun langsung menikmati makanan yang di masaknya.dia tidak mau sama sekali menyuruh Rangga untuk makan, karena hati nya sudah terlalu sakit dengan semua ucapan Rangga
"aku harus hamil dengan cepat, aku mau hidup bebas dan mengejar semua impian ku,aku tidak perduli dia mau makan atau tidak, untuk apa aku melayani nya" anggun sangat menghindari perjumpaan dengan Rangga di dalam apartemen
Rangga sudah bersiap siap di kamarnya untuk segera berangkat ke kantor,dia sudah terbiasa untuk merapikan dirinya sendiri,sehingga ada atau tidak Anggun di kehidupan nya sama sekali tidak berpengaruh baginya.
Anggun sudah masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap pergi bekerja. Rangga sama sekali tidak melirik makanan yang di siapkan oleh Anggun di atas meja,dia pergi begitu saja tanpa permisi pada istri nya.
Rangga masuk ke dalam lift untuk turun ke lobi,dia tersenyum pada Yono yang sedang menikmati secangkir kopi
"selamat pagi pak Rangga" Yono menundukkan kepalanya
"selamat pagi" Jawab Rangga dengan tegas
"pak Rangga sangat beruntung memiliki istri seperti ibu anggun,dia masih sangat muda, cantik,dan juga masakan nya juara 1 pak, kemarin malam buk anggun kasih saya makanan, pak Gino juga dapat" Yono mengangkat kedua jempolnya sebagai tanda pujian kepada Anggun
Rangga tidak memperdulikan pujian yang diberikan Yono kepada Anggun,dia berlalu begitu saja setelah Yono selesai bicara.
"kalau pak Gino sangat sopan sekali, tapi ini seperti batu saja" Yono mengumpat di belakang Rangga,dia mana berani mengatakan nya langsung di hadapan Rangga
anggun sudah bersiap siap untuk pergi bekerja Dengan Gino, pakaian nya sangat rapi, sebelum anggun turun kebawah dia membungkus makanan untuk Gino dan pak Yono.
Anggun menutup pintu apartemen dia turun kebawah menggunakan lift, anggun meletakan makanannya di meja Yono
"pak ini ada makanan buat bapak,di makan ya pak" Anggun tersenyum pada Yono
"terima kasih banyak buk, saya sangat suka makanan ibu" Yono langsung mengambil sendok nya
"selamat makan ya pak" Anggun duduk di sofa yang ada di lobi apartemen menunggu Gino turun
anggun sedang vc bersama ibu dan adiknya untuk melepaskan rasa rindunya,lama mereka berbincang saling bercerita tentang keadaan rumah, toko dan juga sekolah kedua adiknya.
"main ke sini mbak" caca sangat merindukan anggun
" hush,kamu kira mbak kamu ini masih anak gadis yang bebas kemanapun,dia sudah mempunyai suami, tentu harus permisi dulu sama mas Rangga" ayah anggun tidak mau jika sampai anggun datang sendirian
"nanti kalau mas Rangga libur, kami pasti main ke rumah kok ca" anggun sangat merindukan keluarga nya,dia tidak mau menceritakan bagaimana Rangga memperlakukan nya selama 2 hari ini
setelah puas melepaskan rindu Anggun baru sadar kalau Gino sudah duduk di hadapan nya
"makan dulu mas" anggun memberikan 1 kotak makanan untuk Gino
"syukurlah ada makanan lagi,aku ketagihan makanan kamu" Gino segera menyantap nya dengan sangat lahap,anggun tidak mempersoalkan jika Rangga tidak memakan makanannya, karena dia tidak mau memasaknya untuk Rangga
Gino makan penuh dengan perasaan, anggun sangat senang jika masakan nya di sukai banyak orang. tidak ada rasa canggung yang dirasakan anggun berdekatan dengan Gino
"kita berangkat sekarang chef" Gino mengajak anggun untuk segera berangkat
"baik bos" Anggun mengikuti Gino dan mereka pun meninggalkan apartemen
Rangga tidak tau jika anggun sudah bekerja dengan Gino,dia membiarkan Anggun bebas kemana pun dia mau,sehingga Anggun dan Gino akan terbiasa berdua, sedangkan Rangga dan neyla sedang menjalani hubungan dengan status pacaran meskipun Rangga belum menyatakan cintanya pada neyla
anggun sudah menanamkan rasa bencinya kepada Rangga, untuk mencintai nya Anggun tidak mau, Rangga sudah melukainya dengan perbuatan dan ucapan. Rangga belum siap melakukan hubungan suami istri,dia masih mencoba untuk bisa menerima anggun,baru dia bisa melakukanya
Rangga sudah terbuai dengan keberadaan neyla di hidupnya. Rangga sejenak melupakan tujuan nya untuk mengambil alih perusahaan papa nya. Rangga banyak menghabiskan waktu bersama neyla, sedangkan anggun sudah sangat dekat kepada Gino. rasa nyaman, rasa peduli yang di berikan Gino membuat Anggun sangat nyaman berdekatan dengan Gino
Niko menemui Rangga di kantornya,dia melihat belum ada tanda tanda kehamilan pada Anggun sementara anak perusahaan Rangga Sudah sangat sukses, terbukti perusahaan itu sudah hampir sama dengan perusahaan EBA
"kapan syarat kedua akan terpenuhi" Niko berdiri di hadapan Rangga
"Anda tidak usah terlalu mencampuri nya om Niko" Rangga terlihat sangat canggung membahasnya
"saya takut kamu lupa Rangga, makanya saya mengingatkan nya" Niko tersenyum pada Rangga, sebenarnya Jeslin yang memaksa nya untuk menanyakan hal itu kepada Rangga
"saya akan memenuhi syarat anda,jadi jangan bertanya hal itu lagi" Rangga menatap tajam pada Niko
"kamu laki laki, tunjuk kan kesombongan mu itu pada ku" Niko selalu menekan Rangga agar bisa sampai pada tujuan nya.
"anda siapkan saja surat pernyataan nya, karena sebentar lagi aku akan segera memiliki perusahaan ini" Rangga yakin akan segera melakukan hubungan suami istri dengan Anggun
"akan saya tunggu Rangga" niko tertawa pada Rangga
"kenapa dia terus menekan ku, apa tujuannya sebenarnya" Rangga tampak frustasi, andaikan neyla cepat bertemu dengan nya pasti neyla sekaranglah yang menjadi istri nya bukan anggun
Neyla semakin menempel pada Rangga, bahkan mereka selalu bertemu sesuka hati mereka, Rangga tidak memperdulikan perasaan anggun, karena inilah hidup nya
Gino selalu bisa membuat anggun tertawa di sampingnya, tak ada rasa sakit di dalam hati Anggun melihat Rangga bersama neyla. Anggun sudah menjadi orang kepercayaan dari Gino, semua urusan Cafe menjadi tanggung jawab Anggun,
anggun bebas mengembangkan bakat memasaknya, Gino membiarkan anggun memasak sesukanya di dapur cafe, setelah kedatangan anggun di cafe Gino, banyak orang yang ketagihan dengan masakan anggun.gino membesarkan cafenya agar bisa menampung banyak orang,
Anggun sangat disukai oleh para karyawan Gino, Anggun sangat ramah sehingga karyawan Gino nyaman berada di dekat Anggun. banyak pelajaran yang diberikan Anggun kepada teman teman satu kerjanya. Anggun di pilih sebagai leader di cafe Gino
anggun sudah mengabaikan kewajibannya sebagai istri,karena rangga juga tidak pernah menganggap anggun sebagai istri nya. Rangga dan anggun sama sekali tidak pernah bicara. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing, anggun terbiasa pulang malam, bahkan dia pulang saat Rangga sudah tidur, anggun juga tidak pernah lagi memasak di apartemen karena dia makan di Cafe.makanan yang di masak Anggun tidak pernah di sentuh oleh Rangga
Gino yang sangat bahagia di posisi ini,dia bisa sangat dekat dengan Anggun, dia tidak mempedulikan lagi apa tujuan Rangga menikah dengan Anggun. rasa nyaman yang diberikan nya pada anggun yang membuat Anggun melupakan Rangga.
satu kesalahan yang terjadi membuat keadaan rumah tangga Anggun dan Rangga berantakan, tidak ada yang berniat memperbaiki, mereka bertahan Dengan ego mereka berdua. Anggun menjalankan sebuah pernikahan yang tidak ada cinta di dalamnya, sedangkan Rangga hanya bertujuan untuk mendapat kan perusahaan papa nya.
pernikahan ini hanyalah pembayar hutang budi bagi Anggun, sedangkan Rangga hanya demi kekuasaan saja
kesalahan fatal yang dilakukan Jeslin tidak memberikan waktu bagi Rangga untuk mencintai Anggun dulu.jeslin terlalu memaksa kan cinta itu hadir di dalam rumah tangga anaknya,tapi justru pernikahan ini sedang dipermainkan oleh Anggun dan Rangga.
perjalanan Rangga untuk membuat Anggun hamil akan di mulai,akan ada pemaksaan yang akan dilakukan oleh Rangga, Anggun akan semakin membenci Rangga, dia terus-menerus diperlakukan buruk oleh Rangga. anggun harus mengikhlaskan dirinya di sentuh oleh Rangga