Lautan

1032 Kata
Byurrrr *Suara orang tercebur “Aaaaa!!!!” Beberapa orang seketika langsung panik dengan apa yang baru saja jatuh ke dalam perairan. Perempuan cantik yang semula tampak duduk di pinggiran kapal kini sudah menghilang dan perlahan seperti tersedot ke dalam lautan. “Cepat hubungi bantuan!!” “Aaahh itu percuma! Dia- dia... dia sudah jatuh terlalu dalam” Beberapa petugas kapal mulai berdebat soal apa yang harus di lakukan atas salah satu penumpang yang malah tercebur ke dalam air itu. Begitu juga dengan yang lainnya, hampir semua mata dari orang-orang yang menumpangi kapal itu tengah menonton dengan raut penasaran atas apa yang sebenarnya telah terjadi pada perempuan yang jatuh ke lautan itu saat ini. “Kita tetap harus melakukan sesuatu!” “Polisi laut, lebih baik kita serahkan saja pada mereka, akan bahaya jika kita yang menanganinya” “Lihat para penyelam saja urung karena bahaya air di bawah sana” Mereka terus mempertimbangkan apakah akan tetap turun memberikan bantuan kepada Irene yang baru saja nekat menceburkan diri atau tidak, karena memang terlalu beresiko untuk menyelamatkannya dengan ikut turun ke dalam lautan. “Ahhh...” “Bagaimana ini?” Tanya sang kapten yang akhirnya ikut ke dalam pembicaraan kru yang sedari tadi terus meributkan akan langsung memberikan pertolongan atau tidak. “Kita tidak bisa berbuat apa-apa, terlalu bahaya...” “Huffttt...” “Tapi kita tak bisa membiarkan perempuan itu pergi ke dasar begitu saja” “Cepat hubungi tim! Kita serahkan saja semua kepada tim penyelamat, biar mereka yang melakukan pencarian di perairan” “Baik!” Ucap sang kapten akhirnya, “Tetapkan kondisi darurat, kita akan putar kembali ke daratan” Setelah memutuskan demikian, kapal pun memilih untuk kembali ke daratan dan beberapa tim penyelamat sudah terlihat berdatangan untuk langsung melakukan pencarian seorang perempuan bernama Irene Kim. . . . Irene pov Dengan tangan yang masih memeluk benda dengan gambar siren yang semula kutemukan itu, kini tubuhku terasa begitu ringan, mengambang, melayang, terbang walau sesungguhnya aku sedang berada di perairan. Tak tahu sudah seberapa dalam aku jatuh dan berada di lautan ini, namun... ‘Aku rasa... aku baik-baik aja...’ Bahkan dalam pejamku, aku merasa begitu tenang, tak sesak. Aku merasa normal bernapas, seperti sudah memiliki insang saja aku sekarang. Hingga perlahan kubuka mataku, dan semua yang nampak di hadapanku saat ini benar-benar sebuah pemandangan yang sangat jernih, jelas, tak seperti berada di dalam air. “Apa ini?” “O-Oh???” Aku bahkan bisa berbicara di dalam air? Apa sebenarnya yang terjadi???” Dan saat kulihat kondisi tubuhku, aku seperti berada di dalam sebuah gelembung besar yang mengambang di luasnya daratan ini. Ngunggggg Telingaku berdengung dengan kerasnya, dan seketika saja cahaya terang keluar dari dalam kotak yang sedang kupeluk dengan eratnya. Sampai silau mataku karenanya. Dan dengan sendirinya kotak itu terbuka, dan perlahan mengeluarkan sesuatu dari sana. “O-oh ini mutiara???” “INI BENERAN MUTIARA????” Tanyaku dengan terkaget-kaget atas apa yang baru saja telah nampak dan kutemukan dengan sangat ajaibnya di depan mataku. Tapi di tengah-tengah keterpukauanku, kulihat sesuatu yang bergerak dari kejauhan yang kini mulai nampak tengah mendekat dan semakin dekat saja kepadaku. “I-itu hiu???” Melihat dari bagaimana caranya yang berenang, aku tak yakin sesungguhnya apa itu, tapi itu berekor! Dan yang tertepikir olehku, yang mungkin bisa muncul di hadapanku saat berada di lautan luas seperti sekrang ini hanyalah hiu. Tak mungkin itu paus, karena ukurannya terlalu kecil, tubuhnya bahkan ramping... “Atau apakah itu monster???” “Hantu laut???” Ia semakin mendekat kepadaku. “Aaaaaa!!!!!” “Tolong akuuuu!!!!” Bodohnya aku, sejujurnya aku tahu percuma sekali aku berteriak meminta pertolongan karena tak akan mungkin ada orang yang menyelamatkanku di ke dalaman ini. ‘Aaahh gimana ini???' Jelas yang bisa kulakukan saat ini adalah melarikan diri. Aku benar-benar takut harus sampai di makan oleh makhluk asing itu. Kubawa tubuhku berenang, terus berenang, terus berenang... Meski tak tahu kemana tujuanku, karena semua nampak sama, titik awal dengan kini aku berada.... semua ini seperti dunia dengan bidang biru tua yang datar. Hingga air yang berada di sekitarku terasa mulai aneh, pergerakannya membuatku tak bisa membuatku berenang dengan benar. Napasku juga mulai terasa aneh. “Akhh...” “Uhukkkk...” Aku menelan air, tenggorokanku terkecekat dengan air yang membuatku tersedak. ‘Apa ini? Kekuatan ajaib yang membuatku bisa bernapas tadi apa sudah hilang???’ 'mutiaranya???' kugenggam itu kuat-kuat. Aku benar-benar tak bisa lagi berpikir baik sekarang. Bahkan pikiran mungkin ini adalah akhir dari kisah hidupku yang sangat malang itu memenuhi kepalaku. Gerakan air benar-benar semakin menggocang tubuhku, aku sampai terseret jauh dari arah yang kutuju, terombang-ambing saat ini. Aku terseret, aku tak cukup kuat, aku harus bagaimana, aku akan mati! “Ahhhh...” Banyak buih yang keluar dari mulutku, aku kehabisan napas, pandanganku buram tak bisa lagi aku melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini. Namun samar-samar kulihat pusaran air kini yang menggulung sedang mendekat atau mungkin... aku yang saat ini terbawa akan masuk ke arahnya. ‘Aaahaaaaa... aku gak mau mati kaya gini’ Ingin rasanya aku menangis, tapi air mataku pun akan kalah dengan banyaknya air lautan yang kini menjebakku. Kakiku masih kugerakan, tanganku masih pakai untuk berenang melawan arus air yang semakin kuat membawaku ke lingkaran yang sudah seperti tornado itu. ‘Kumohon siapapun itu tolong aku...’ ‘Aku masih belum ingin mati, aku masih ingin melakukan banyak hal...’ Aku benar-benar sudah putus asa atas apa yang akan terjadi pada diriku. Aku harus bagaimana pun sekarang aku tak tahu. ‘Aku menyerah....’ ‘Aku sudah tak bisa lagi...’ ‘Mungkin memang ini akhirnya...’ Kaki yang semula bergerak dengan giatnya, kini sudah melemas, lelah, aku memilih untuk diam saja, pasrah, menyerah... Kubiarkan tubuhku mengambang terbawa oleh air lautan yang mungkin akan menelanku dan menjadi alasan untuk aku pergi meninggalkan dunia ini. Tap Tanganku... kurasakan tanganku baru saja di raih oleh seseorang, dan kutahu aku tengah di seretnya untuk melewan arus air yang semula begitu kencang menyeretku. ‘Mungkin itu lumba-lumba yang katanya selalu menyelamatkan orang yang hampir tenggelam???’ ‘Tapi... lumba-lumba kan gak punya tangan???’ Hingga kucoba untuk menggunakan pandanganku, dan apa yang nampak adalah.... Bentuknya benar-benar mengingatkan, bahkan sama percis dengan gambar yang ada di dalam kotak yang sedang kupegang saat ini. ‘Itu... siren????’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN