Ariel

1287 Kata
“Ahhh...” “Hhh...” Aku terbangun dengan napasku yang ngos-ngosan, langsung kuhirup dalam-dalam udara yang semula kurasa telah tiada, dan bahkan kuhembuskan saja tak bisa, pengap sekali rasanya. Tapi untunglah sekarang aku bisa membawa banyak-banyak udara ke hidungku, memenuhi paruku yang sempat kosong, dan bisa kuhempaskan juga dengan leganya. “Hhhhh...” Tapi tunggu... “Ini...” “Ini dimana?” “Aku dimana?” “Ahh Irene mungkin aja...” “Mungkin aja kamu udah gak ada di dunia???” Panikku yang sadar kalau aku kini tengah berada di tempat yang sangat asing sekali. Kenapa dan bagaimana bisa aku berada di sini. Tiba-tiba saja Ngunggggg... Telinga dan kepalaku berdengung hebat sampai tanganku jadi memagangi kedua sisi kepalaku yang terasa seperti akan pecah sekarang ini. Dan seketika saja sekelebat bayangan kejadian sebelum aku tak sadarkan diri dan bangun di tempat asing ini pun muncul. ‘Ahh kotak?!’ ‘Mutiaranya???’ Jelas aku langsung panik dan mulai mencari benda penting yang seharusnya ada bersamaku saat ini. Tapi saat kulihat ke sekeliling tempat aku berada sekarang ini, hasilnya nihil tak ada. Hanya aku, tubuhku saja dan sebuah sofa tua yang menjadi tempat terbaringku sampai aku yang sadarkan diri belum lama ini. “Ahhh Ireneee!!” “Pasti kebawa air!!” “Ahh bego banget sihh” Aku sampai memukuli kepala ini, tangan ini, yang bisa-bisanya menghilangkan apa yang padahal bisa mengakhiri semua masalah yang sedang kuhadapi saat ini. “Padahal tadinya aku pikir...” “Aku pikir aku bisa langsung pulang, ketemu Pak Jacson terus kasih mutiara yang mungkin aja bisa gantiin yang udah aku rusakin kan...” “Tapi sekarang...” “Hhhh...” Aku benar-benar jadi frustasi sekali sekarang ini. Tapi kemudian aku juga berpikir, aku yang bisa berada di tempat asing ini, setelah aku yang mungkin harusnya mati tak bersisa karena terbawa pusaran air... “Pasti ada orang yang selamatin aku bukan?” “Pemilik tempat ini...” “Iya, kayanya pemilik tempat ini yang udah selamatin aku...” Aku langsung berusaha berpikir seperti itu walau yang ada di dalam kepala ini adalah sosok yang benar-benar membuat bulu di sekujur tubuhku merinding. “Ahh bukan, itu pasti gak nyata...” “Kalo iya pun ada...” “Pasti itu cuma ikan besar, yang mungkin mau gigit aku...” “Gak mungkin itu siren atau apalah...” “Pasti itu karena aku kemakan mitos aja, sama situasinya yang buat pikiran aku kacau...” Aku terus meyakinkan diriku walau sesungguhnya mungkin saja makhluk yang sepintas kulihat bagaimana rupanya itu memang benar adanya. Bahkan bayang-bayangnya terus mengetuk-ngetuk memori di kepalaku, mengusik pikiranku. “Ahh engga engga engga Irene...” “Itu Cuma khayalan gila kamu aja” “Titik” Ucapku sambil ku geleng-gelengkan kepala ini untuk mengusir semua hal gila yang nyangkut di pikiranku ini. “Ah udah, sekarang mungkin...” “Lebih baik aku cari orang yang udah selamatin aku aja...” Ucapku dengan langsung kubawa tubuhku bangun dari dudukku. Dan... “Hhhh ini terlalu aneh gak sih??” “Bukannya seharusnya aku mungkin agak...” “Sedikit memar kena kuat arus air, terus mungkin aku yang harusnya gak baik-baik aja kaya orang abis tenggelem bahkan mau mau mati kebawa arus???” “Tapi aku...” Hap hap hap Aku bahkan bisa melompat dengan ringannya membawa tubuhku yang rasanya benar-benar baik saja. ‘Hhh...’ ‘Di liat dari manapun ini bener-bener terlalu aneh...’ Batinku, “Hhh udah dari pada nebak-nebak sendiri mending ayo temuin orang yang udah selamatin aku...” “Terus...” Baru saja aku berniat ingin mencari seseorang yang sudah berjasa menyelamatkanku tiba-tiba saja seorang wanita muncul dengan wajahnya yang sangat tak asing bagiku... “Dia punya kaki...” Gumamku, karena entah kepalaku yang masih oleng setelah terseret derasnya arus dan hampir tenggelam, atau memang benar ingatanku tentang sosok dirinya yang semula kupikir hanya mahluk khayalku dan tak pernah ada wujud aslinya di dunia nyata ini. ‘Ahh kenapa ada orang muncul yang wajahnya mirip banget sama apa yang ada di ingetan aku...’ ‘Dan tentu aja masalahnya bukan soal miripnya, tapi...’ ‘Di ingetan aku dia itu gak punya kaki, punyanya ekor...’ ‘Punya tangan yang...’ Tap “Aaaaaa!!!!” Aku langsung refleks menjerit saat tangannya tiba-tiba menangkap tanganku ini. Kaget, benar-benar kaget, bahkan jelas jeritku cukup mewakilkan takutku. Ingin aku pingsan dan tak sadarkan diri lagi, karena rupanya, sosoknya yang kini nampak begitu jelas dalam ingatanku, dengan penampakannya yang adalah siren itu, kini malah muncul di hadapanku. “Kau kenapa?” “Kau terkena syok?” Dan telingaku yang harus mendengar dirinya yang bisa juga bersuara, bahkan bertanya, semakin aku ingin lari saja kini darinya. Namun sayangnya tiba-tiba saja aku seolah baru saja di kutuk menjadi batu, bahkan lututku lemas karena rupanya sosoknya itu nyata adanya. Padahal tadinya aku pikir dia hanya sosok yang di ciptakan oleh imajinasi gilaku saja, karena aku yang semula hampir mati di lautan sampai jadi harus di sambut oleh sejenis hantu penguasa di lautan... “Hhhh jangan...” “Jangan ganggu aku, asal kamu tau yah, aku ini...” “A-aku ini tidak berguna...” “Aku ini manusia yang tidak memiliki uang...” “Aku cukup miskin, miskin sekali...” “Jadi...” Tak jelas sebenarnya apa yang ingin kusampaikan kepadanya, padahal yang ingin kukatakan adalah jangan lukai aku, jangan bunuh aku, selamatkan aku... tapi huftttt malah racauanku yang terdengar sangat gelagapan. Tubuhku mendadak tak bisa kukontrol, sampai ahhh aku menyerah saja, terserah saja apa yang mau di lakukannya padaku, lagi pula dia juga yang telah membuatku masih bernyawa sampai sekarang ini. Tapi kemudian... “Kamu napak gak sih...” “Kaki kamu itu napak???” Tanyaku dengan kuberanikan ujung jempol kakiku untuk memeriksa kakinya yang benar-benar nyata atau hanya sebuah bayang yang saat di sentuh menghilang atau berubah menjadi asap kemudian. Tap “Ahh!!” “Kenapa kau menginjak kakiku???” Ucapnya, sampai aku jadi langsung melompat jauh kebelakang, kembali ke sofa yang sudah menampung tubuhku yang semula tak sadarkan diri, dan kini ingin kembali tak sadarkan diri saja rasanya. “Ahhh...” “Kenapa aku di sini???” “Kamu siapa?” “Aku....” “Aku bener-bener...” “Aku...” “Pakai ini, untukmu berganti...” “Dan aku, kenalkan aku Ariel...” “Aku adalah pemiliki toko perhiasan antic ini...” Ucapnya sampai mulutku yang semula terus mengatakan entah apa yang tak jelas ingin kukatakan karena semua rasa takutku ini, jadi bungkam karena ia yang juga melemparkan satu pakaian yang katanya untuk aku berganti, dan lagi... “Ariel???” “Pemilik toko perhiasan???” Gumamku mengulang apa yang semula di katakannya kepadaku. “EHmm itu namaku...” “Dan kau kenapa kau takut begitu?” “Kau pikir aku ini setan?” “Atau...” . . . Author pov Setelah kecanggungan yang terjadi, Irene terlihat malu sendiri karena ia yang malah takut pada seorang wanita yang padahal sudah mau berbaik hati sudah menyelamatkannya itu. “Maaf ya...” “Tadi aku pikir kamu itu...” “Kamu itu kaya bayangan mahluk laut di kepala aku, pas waktu aku mau mati tenggelem...” Ungkapnya dengan wajahnya yang setengah malu, setengah rasa bersalah, merasa telah berlaku konyol sekali kepadanya sekarang ini. “Ahh jadi kau ini sempat berkhayal bertemu mahluk aneh saat hampir tenggelam kemarin itu?” “Ehmm tak ayal, itu hal biasa...” “Tapi kalau memang sempat bertemu dengan mahluk laut yang aneh juga bukan hal yang tak mungkin...” “Karena dunia laut itu luas, ada banyak hal yang kita tak tahu soal yang ada dan hidup di sana...” Jelas Ariel kepada Irene yang kini tengah hanya memainkan pakaian yang telah di pinjamkannya itu. “Tapi...” “Gimana kamu bisa selamatin aku?” . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN