#Troublemaker

1926 Kata
‘Ah… Pak Jackson ini bikin aku makin tegang aja siih… aku takut banget sumpah’ Kataku dalam hati. aku kini berdiri di hadapan Pak Jackson yang tengah duduk dengan mata yang di pejamkannya, dan yang paling mengganguku adalah jari telunjuknya yang terus saja di ketuk-ketukannya pada meja. Sampai menghasilkan suara yang terdengar sangat horror sekali di telingaku. Tak tak tak tak tak tak ‘errrr… nyeremin banget siiiih’ Ia bertingkah persis seperti pelaku antagonis dalam drama-drama yang memerankan sosok psikopat yang siap membunuh korbannya. Ahh… tapi yang sebenarnya terjadi di sini, dialah yang jadi korban kecerobohanku hari ini. mutiaranya jadi hancur dan remuk karena ulahku. Aku sudah memiliki firasat buruk tentang ini, dan benar saja sesuatu yang buruk terjadi. Aku mengacaukan segalanya. ‘seharusnya aku gak usah terima waktu di tawarin jadi asisten penelitiannya… jadi semua ini gak akan berantakan ginikan’ “hh…” Ia bernapas saja sudah membuatku takut sekali. bahkan gerakan sedikit saja darinya membuatku takut sampai aku reflex memundurkan satu langkahku untuk menjauh darinya. Aku benar-benar di buat sangat takut olehnya. wajah tampannya tiba-tiba saja berubah jadi sangat dingin dan menyeramkan sekali sekarang ini. padahal masih beberapa menit yang lalu dia menenangkanku, mengusapku lembut dalam dekapannya. Aku pasti sudah membuat kesalahan yang tak termaafkan sampai ia berubah jadi terlihat seperti monster begini. “Irene… hhhhh” Panggilnya padaku, suaranya terdengar seperti malaikat maut di telingaku saat mengucapkan namaku itu. “ehm… i- iya Pak” Kataku, aku menunduk se-tunduk-tunduknya saat ini menatapi kedua kaki yang teramat ceroboh itu. tak memiliki keberanian aku untuk menatapnya. “gak ada cara lain… kamu harus ganti mutiara yang udah kamu remukin itu” Ucapnya padaku. “APA?? tapi Pak- itu- aku- hhh… gimana dan dari mana aku bisa dapet gantinya…” Kepalaku langsung pening dan kakiku melemas, begitu ku dengar bahwa aku yang harus mengganti mutiara yang bernilai miliaran itu, ‘hhhh… dari mana aku bisa dapetin uang sebanyak itu’ “kamu bisa menghubungi nomor ini untuk mendapatkannya satu yang seperti itu” Ucapnya sambil menyerahkan sebuah kartu nama padaku. Aku langsung mengambil dan kulihat itu adalah salah satu pusat pusat penghasil mutiara terbaik di Australia. Aku langsung putus asa begitu ku lihat lokasi nya saja yang berada jauh di negeri kangguru itu. “Pak, apa ada keringanan untukku? Aku… jujur aja… aku gak bisa ganti mutiara semahal itu” Jujurku, mau bagaimana lagi, untuk makan dan bertahan kuliah saja sudah susah, kini aku malah harus mengganti mutiara seharga miliaran rupiah itu. rasanya aku ingin menghilang saja sekarang ini. “Irene, kamu udah bikin penelitian saya berantakan, dan sebenernya kalaupun kamu bisa ganti. Kamu tetep harus lewatin waktu tunggu yang cukup lama… karena mutiara ini bukan mutiara budidaya, tapi mutiara asli yang langsung dari panen mutiara yang melewati proses perkembangbiakan yang alami… jadi… hhhh” Jelasnya dengan sangat frustasi. “…terserah padamu…tapi dalam waktu tiga bulan kita… ketemu lagi, di sini dengan mutiara baru. Titik” Ucapnya lalu berdiri dan pergi meninggalkanku yang kebingungan sendiri di ruangan Lab ini. “aaahhhh…. Gimana ini… bukannya dapetin nilai antropologi malah jadi harus keluarin uang lagiiiii ahhhhhhh” Kesalku ingin menangis sampai meraung-raung saja rasanya. Tak tahan, aku sampai terduduk dan menendang-nendangkan kakiku frustasi. ……. Author Pov Sementara Irene yang kini sedang putus asa dan kebingungan sendiri di ruang lab, karena di tuntut untuk mengganti mutiara yang tak sengaja di injaknya itu. Yang tak Irene ketahui adalah bahwa sedari tadi dari ada sepasang mata yang tengah betah memandanginya dari kejauhan. Setelah pergi dari hadapannya, Jackson merasa tak bisa menginggalkan Irene sendiri begitu saja. Bahkan saat ini ia berpikir kalau seharusnya ia tak terlalu keras padanya tadi, karena jelas-jelas dari tangannyalah mutiara itu menghilang. “kenapa aku harus bentak dia sampe ketakutan kaya gitu tadi.. hufttt” Sesal Jackson dengan masih terus memandangi mahasiswanya itu. “itu terinjak, bukan sengaja di injak juga sebenernya… ah kenapa aku marah sampe segitunya coba…” Jackson tak tega melihat Irene yang tampak frustasi. ia sedang duduk di lantai dengan wajahnya yang hampir saja menangis. Irene tertunduk kemudian mendongak ke atas beberapa kali, Jackson tahu bahwa saat ini ia tengah mencoba untuk menahan air matanya agar tak ditumpahkannya. “samperin jangan ya” “tapi-“ Baru saja Jackson berniat ingin menghampiri Irene, tapi sayangnya di satu detik kemudian itu harus di urungkannya, karena wanita bertubuh mungil yang tengah mengenakan Jeans dan kaus putih dengan rambut ponytail nya itu kini sudah bangkit berdiri dan dengan cepat ia berlari menuju pintu keluar gedung laboratorium. “mau kemana dia buru-buru gitu?” “ooohh… dia- dia kenapa naik bis? Dia seharusnya balik bareng aku…waahh dia- dia…” Jackson hanya bisa diam mematung melihat Irene yang dengan cepat menaiki bis menuju ke kota yang membawanya pulang. Ia kini menganga tak percaya baru saja di tinggalkan oleh mahasiswanya yang telah pergi lebih dulu itu. “hhh… sekarang gimana… mutiara ilang, dia juga pergi...huhhh” Gerutu Jackson tak jelas dirinya mau apa sekarang. “padahal dari tadi nunggu buat nganterin dia pulang, tapi malah di tinggal gini…” Ucap Jackson, tapi kemudian matanya di sipitkannya, saat ia menemukan benda berwaran coklat yang mencuri perhatiannya dari tempat Irene terduduk sedari tadi itu. “itu… itu kaya dompet? oh my God… dia-“ Jackson kemudian berlari untuk mengambil dompet yang menurut tebakannya itu adalah milik Irene. “ini… ahhh, bener. Ini punya Irene” Ucapnya saat di bukanya isi dompet itu dan di temukannya kartu identitas Irene, kartu mahasiswa, kartu pembayaran, dan beberapa lembar uang di dalamnya. “dia ini bener-bener ceroboh banget” Ia kemudian cepat menaiki mobilnya dan berniat untuk mengejar bis yang tadi di naiki Irene. Dengan kecepatan yang cukup tingi kini Jackson melaju dengan mobilnya itu. ia menebak pasti Irene akan sangat panic saat tahu dompetnya tak ada di dalam tasnya. Dua jam Jackson mengemudi dengan perasaan khawatirnya pada Irene. dan sampailah ia kini di pemberhentian Bis di kotanya pulang. “kayanya aku sampe lebih dulu dari bis itu” Dengan gelisah Jackson menunggu, dan tak lama Bis berwarna merah yang di naiki Irene berhenti. Dari kaca jendela bis dapat dilihat oleh Jackson, wajah ketakutan dan panic Irene saat ini. “hhh… udah aku duga bakal gini jadinya” Pintu bi situ kemudian terbuka, Irene sepertinya baru saja di marahi oleh sang supir dan orang yang bertanggung jawab untuk bis itu karena tak bisa membayar ongkos biaya perjalanannya, begitu pikir Jackson. Jackson kemudian naik ke dalam bis itu. “Maaf pak, sekali lagi Maaf” Irene membungkuk-bungkukan tubuhnya berulang kali pada supir bis itu sambil mememinta maaf. “ini ongkosnya” Jackson memberikan beberapa lembar uang kepada supir yang terlihat sangat ketus di kursi kemudia Bi situ. “ehm?” Supir itu terlihat sedikit kaget saat tiba-tiba melihat Jackson yang jadi membayar ongkos bis Irene. “loh, Pak Jackson? Kenapa- ini- …oh?” Irene sangat terkejut melihat dosennya yang tiba-tiba muncul dan membayarkan ongkos bisnya itu. “ayo turun” Ucap Jackson, namun Irene malah mematung masih tak mengerti keadaannya. “ayooo, mau ikut pergi lagi sama bisnya?” Irene menjawab dengan menggelengkan kepalanya, karena gereget Jackson langsung saja menarik tangan Irene dan membawanya turun dari bis itu. “hhh… dasar ceroboh, trouble maker!” Mendengar dirinya di katai seperti itu Irene hanya diam, ia menunduk menerima saja apa yang di ucapkan dosennya itu. “maaf Pak, jadi negerpotin, padahal tadi udah bikin kacau di lab” Suara Irene sedikit bergetar saat berucap dan meminta maaf pada Jackson. “hhh… ceroboh itu jangan di pelihara, gak guna, cuma bikin susah aja” “maaf Pak” Irene membungkuk dan berkata maaf kembali. “ini” Jackson kemudian menyerahkan dompet Irene yang di tinggalkannya tadi di lab. “oohh.. ini kenapa- bisa- aaahh makasih Pak” Irene sampai meneteskan air matanya, ia sedari tadi uring-uringan karena telah kehilangan benda itu, tapi kini akhirnya ia bisa merasa lega karena berhasil menemukan kembali dompet yang di pikirnya sudah menghilang dan tak akan bisa di temukannya lagi. “jangan di ilangin lagi” Ucap Jackson. “Pak, soal mutiaranya… aku-“ “pulang, istirahat dulu sana… kita bahas itu nanti kalo saya udah gak terlalu marah sama kamu” Ucap Jackson. Mendengar itu Irene jadi tertunduk lagi. “aku pamit pulang Pak” Irene berpamitan, ia menyempatkan membungkukkan tubuhnya lalu berjalan berbalik dengan kepala yang terus tertunduk dan seperti tak berniat di tegakkannya kembali. “awaasss!!!” Dukkk Punggung tangan Jackson jadi terbentur tiang halte bis, karena berusaha melindungi Irene agar tidak terbentur benda keras yang berdiri tegak, besar dan jelas ada di hapadannya itu. tapi herannya Jackson pada mahasiswanya itu, Ia malah tak bisa melihatnya sampai akan di tabraknya begitu saja. “kamu ini! kalo aja tangan saya gak cepet lindungin kepala kamu itu, bisa-bisa kamu kena geger otak terus-terusan kebentur kaya gitu!!!” Lagi, Irene harus terkena semprot dari Jackson yang baru saja menyelamatkan kepalanya yang hampir terbentur tiang halte Bis yang tak di lihatnya karena sibuk menunduk. Irene kini menatap dosennya itu dengan mata yang berkaca-kaca, sudah sangat basah dan siap menumpakan semua air yang ada di mata bulatnya itu. “aaaahhhhh… Pak Jackson galakkk!!!!” Tangis Irene akhirnya pecah dan suaranya itu terdengar sangat keras. sampai semua orang memandangi dirinya dan menatap tajam Jackson yang mengira dialah penyebab Irene sampai menangis meraung-raung seperti itu. “ssuuuttt… kenapa kamu nangis gini, itu di liatin orang..” “aaaahhhh… aaaahhh… abis Pak Jackson galak banget, dari tadi bentakin aku mulu…. Aaaahh ahhhh!!!” “oooh.. maaf maaf, maafin sayaa.. suttt jangan nangis lagii suttt cup cup cup” Jackson kemudian memeluk Irene lalu menepuki punggungnya. berusaha menghentikan tangisannya itu. ….. ~~ Backsound I Knew You Were Trouble ... Once upon a time A few mistakes ago I was in your sights You got me alone You found me You found me You found me I guess you didn't care And I guess I liked that And when I fell hard You took a step back Without me Without me Without me And he's long gone When he's next to me And I realize The blame is on me 'Cause I knew you were trouble when you walked in So shame on me now Flew me to places I'd never been 'Til you put me down, oh I knew you were trouble when you walked in So, shame on me now Flew me to places I'd never been Now I'm lyin' on the cold hard ground Oh, oh Trouble, trouble, trouble Oh, oh Trouble, trouble, trouble No apologies He'll never see you cry Pretends he doesn't know That he's the reason why You're drowning You're drowning You're drowning And I heard you moved on From whispers on the street A new notch in your belt Is all I'll ever be And now I see Now I see Now I see He was long gone When he met me And I realize The joke is on me, hey I knew you were trouble when you walked in (oh) So shame on me now Flew me to places I'd never been 'Til you put me down, oh I knew you were trouble when you walked in So shame on me now Flew me to places I'd never been, yeah Now I'm lyin' on the cold hard ground Oh, oh (yeah) Trouble, trouble, trouble Oh, oh Trouble, trouble, trouble And the saddest fear Comes creepin' in That you never loved me Or her Or anyone Or anything Yeah I knew you were trouble when you walked in So shame on me now Flew me to places I'd never been (never been) 'Til you put me down, oh I knew you were trouble when you walked in (knew it right there) So shame on me now (knew it right there) Flew me to places I'd never been (Ooh) now I'm lyin' on the cold hard ground Oh, oh Trouble, trouble, trouble (oh) Oh, oh Trouble, trouble, trouble I knew you were trouble when you walked in Trouble, trouble, trouble I knew you were trouble when you walked in Trouble, trouble, trouble
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN