#Beautiful Mistake

1131 Kata
Aku dan Pak Jackson sudah memulai penelitian mutiara yang berlangsung di laboratorium penelitian biota laut di temani beberapa ahli yang kini tengah bersama-sama melakukan pengamatan dan studi observasi mutiara yang di teliti langsung dari dalam tiramnya. Pak Jackson mengerjakan beberapa orang ahli Laboratorium untuk menilai keasliannya secara science, karena aku yang tak mengerti soal alat ukurnya dan cara kerjanya. Dan jadilah aku hanya meneliti dengan menggunakan enam factor acuan untuk menentukan kualitas, nilai, dan keindahan dari mutiara yang sudah ada di depanku saat ini. “pertama kita akan melihat Narce, kamu catat semua sesuai dengan indicator yang ada di data, sementara saya yang akan memperhatikannya secara langsung” Ucap Pak Jackson, “baik Pak” Jawabku, Narce sendiri adalah substansi atau zat alami yang di keluarkan oleh moluska untuk melindungi daging sensitive dai iritasi fragmen, cangkang/shel, parasite, atau manik-manik yang di tanamkan. Narce ini adalah bahan warna-warni yang sama indahnya, yang melapisi permukaan bagian dalam dari cangkang moluska atau si ibu mutiara (mothe of pearls). Dan yang akan menjadi indicator penilaiannya adalah ketebalan dari nacre sendiri, yang akan menentukan kualitas mutiara yang kuteliti bersama Pak Jackson saat ini. Pak Jackson kemudian menyuruhku mencentang beberapa indicator, ia tersenyum dengan sangat tampan saat mutiara di hadapannya itu rupanya telah lolos uji kualitas nacre yang bagus. ‘aku tak pernah tahu kalau pria yang sedang berambisi pada apa yang di sukainya seperti Pak Jacskon saat ini, akan terlihat sangat sexy sekali’ Pujiku dalam hati, aku jadi ikut tersenyum melihatnya yang tampak sangat bahagia saat ini. “okey… kita lanjut ke bagian indikator luster atau kilauan mutiara” “bukannya udah jelas ya Pak, itu kualitas yang baik” “ehm… kalo di liat si memang kilauan mutiaranya tajam dan lumayan cerah, ini jelas mutiara berkualitas. Di centang aja semua” Perintahnya. Dalam opsi yang ada di data yang kupagang, jika itu adalah mutiara dengan kualitas rendah, maka akan berwarna terlalu putih, kusam, atau sampai berkapur. Dan dari refleksi yang kulihat saat ini, jelas di permukaan mutiara yang ku teliti cahaya yang di pantulkannya sangat bersinar cerah dari permukaan atau di bawah permukaannya itu. Setelah itu aku meneliti permukaan dan bentuknya, ternyata itu adalah jenis baroque, atau jenis mutiara yang tidak simetris, dapat berkilau dan cukup menarik, namun harganya akan di pastikan lebih rendah dari pada mutiara yang berbentuk bulat. Kulihat Pak Jackson sekarang jadi sedikit kebingungan, padahal ia sangat menginginkan mutiara dengan bulatan sempurna. dan lagi ukurannya yang jauh lebih kecil dari perkiraan, beratnya hanya 2 gram saja dan ukurannya juga tak sampai 9 mm, itu hanya sekitar 6,5 mm sampai 7 mm saja. “sepertinya pencarianku masih harus berlanjut… ini tak sesuai dengan harapanku” Ucap pak Jackson sambil memperhatikan mutiara itu dengan dengan tangannya yang berbalut sarung tangan itu. “Pak… apa berarti kita akan cari mutiara lagi?” Tanyaku penasaran, “ini-“ BRRAAAKKKK PRAANGGGGG!!!!! “Aaaaaa!!!!!!” Aku sampai menjerit dan melompat ke arah Pak Jackson karena dibuat kaget oleh suara yang cukup keras entah dari benda apa yang sepertinya jatuh dengan keras dan sampai pecah. Tanpa sadar kini aku sedang memejamkan kedua mataku dan menutup telingaku dengan kedua telingaku, bersembunyi dalam pelukan Pak Jackson. “itu apaa? Aku takut Pakk…” Kataku dengan sedikit gemetar. “sepertinya ada kecelakaan lab… tenanglah…” Ucap Pak Jackson dengan tangan yang kini tengah mengusap-usap kepala juga punggungku. Aku merasa sedikit lebih baik karenanya. “aah… bikin kaget, jantungku rasanya mau copot barusan itu” “udah gak papa… semua baik-baik aja kok” Lengan Pak Jackson mendekapku kini, aku nyaman dan tenang di buatnya sampai ku sandarkan kepalaku ini di dadanya. “gak papa gak papa… semua baik-baik aja…” Tap tap tap Kurasakan kedua tangannya men-taptap punggungku pelan dan lembut. namun dalam kondisi yang cukup menegangkan ini, entah kenapa tiba-tiba saja aku merasa ada yang membuatku mengganjal, maksudku sepertinya ada yang terlupakan tapi apa ya… Tap tap tap Pak Jackson masih melakukan tap tap di punggungku dan kurasakan ia juga mengelusi rambutku lembut kini. ‘oh tunggu… kalo tangannya lagi ngusapin aku lembut dan taptap-in aku sekarang ini… terus mutiaranya?’ Tanyaku dalam hati mulai sadar mutiara itulah yang kini tengah terlupakan. “Pak…” Aku mendongak menatap padanya. “ehm?” “mutiaranya …. mana?” Seperti sebuah seketsa komedi, Pak Jackson langsung menatap bulat-bulat kedua tangannya, baru menyadari kalau mutiaranya kini sudah menghilang dari tangannya itu. “ooh… di mana itu… Arghhh!!!! gimana ini??!!!” Pak Jackson dan aku mulai panic mencari-cari mutiara kecil itu di lantai, yang ku tebak Pak Jackson pasti tadi tak sengaja menjatuhkannya dan langsung saja memelukku yang ketakutan karena suara keras itu. aku jadi merasa bersalah padanya, gara-gara aku Pak Jackson jadi menghilangkan mutiara penelitiannya. “Pak… Maafin aku, gara-gara aku-“ “sekarang bukan waktu yang tepat buat minta maaf, cukup buka matamu lebar-lebar dan cepat temukan mutiara itu!” Balasnya tanpa menatapku, karena kini matanya tengah awas memandangi sekitar berusaha menemukan mutiara itu. “baik Pak” Jawabku, aku kemudian membelalakan mataku lebar-lebar, untuk mencari mutiara yang di hilangkannya karena diriku ini. Baik aku maupun Pak Jackson sekarang ini jadi tak bisa diam, kami di kuasai kepanikan karena hilangnya mutiara kecil yang akan menentukan nasib penelitian hari ini. Kemudian aku mengeluarkan handphoneku dan menyalakan flash-nya, lalu aku berjongkok untuk mencarinya di sudut-sudut di bawah meja penelitian, ku pikir siapa tahu mutiara itu terjatuh sampai terlempar dan kini sedang bersembunyi di bawah sana. “dimana mutiara itu jatuhnya yaa…seharusnya sih gak jauh dari…” Trakkkk Suara yang tak asing di telingaku itu tiba-tiba saja kudengar dan rasanya benar-benar seperti de javu, aku merasa seperti tengah menginjak sesuatu yang kini sudah…ehemmm gulp …. “ooohhh… Irene, jangan bilang kalo kamu ulangin hal yang sama… kaya apa yang terjadi sama anting mutiara pemberian dari Roy” Gumamku, dan dengan perasaan yang sangat takut ku angkat sedikit demi sedikit kakiku yang jadi bergetar kini. “Oh My Shitttt….” Umpatku, saat ku temukan remukan benda putih yang sangat berkilauan di bawah sepatuku. Dan di ujung sana, yang jaraknya cukup jauh dariku. Pak Jackson, rupanya ia juga sudah melihat apa yang baru saja ku injak itu. ia langsung membulatkan matanya, dengan kedua tangannya yang kini tengah meremas kepalanya frustasi, menatap ke arahku tak percaya atas apa yang baru saja terjadi. “OMG! MY PEARLL l!!!! NOOO!!” Teriak Pak Jackson sambil langsung berlari menghampiriku. Lalu tangannya kasar mendorongku, sampai aku terjerembab dan kini sudah terduduk di lantai. Pak Jackson lalu terduduk pasrah dan putus asa memandangi mutiaranya yang malang, yang sudah ku buat remuk itu. “aaahhhhh… IRENEE!!!!!!” Namaku di teriakannya dengan suaranya yang benar-benar terdengar begitu menggelegar. sampai aku menutup mata dan telingaku karena takut akan di makan Pak Jackson yang sudah ku buat marah sampai siap akan mengamuk itu. “Maaf Pak, gak sengaja… seriuss!! Maafin Irene” Kataku sambil duduk tegak, dengan menggosok-gosokan kedua tanganku untuk memohon ampunannya. “hhh… hhhh…hhhh….” Napasnya saja kini terdengar seperti napas naga yang siap memburuku dan melahapku. ‘Mati aku!’ Kutukku dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN