Sore hari Zoya baru terbangun, dia terkejut karena dia sepertinya tidur terlalu lama, mungkin ini karena ini pengaruh obat yang diberikan kepada rumah sakit untuknya.
Dia semakin terkejut ketika entah sudah sejak kapan Zeyn ada di sana dan kini menghampirinya dengan membawakan dia minuman.
"Minumlah dulu." Ucap Zeyn namun akhirnya di terima oleh Zoya.
"Kau menginginkan sesuatu, Sayang?" Tanyanya.
"Tidak! Aku ingin mandi." Jawabnya lalu turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.
Zeyn sendiri membiarkannya saja dan menunggunya di kamar,
Tak lama Zoya keluar dari sana dalam keadaan sudah fress namun dia sedikit meringis karena memar yang ada di bahu dan kepalanya.
"Ada apa?" Zeyn yang mendengar ringisan Zoya jelas saja menghawatirkannya.
"Tidak apa."
"Bisakah kita memulai hubungan kita dari awal, Zoya? Kau bisa mencoba menerimaku dan membuka hatimu untukku." Ucap Zeyn memulai pembicaraan karena tau jika Zoya sepertinya masih marah dengannya karena dia tidak mau melepaskannya.
"Bagaimana bisa aku memulai hubungan dengan pria monster sepertimu! Aku tidak menginginkan memiliki suami sepertimu, aku ingin kehidupan lamaku." Ucap Zoya yang masih bersikeras ingin berpisah dengan Zeyn.
"Jikapun aku melepasmu, akan banyak orang yang mengincarmu jika tau kita pernah menikah, dan tau jika aku mencintaimu. Dunia luar sangat kejam, jadi kau aman di sini bersamaku." Ucap Zeyn yang membuat Zoya semakin merasa nasibnya sungguh sial.
"Aku tidak bisa melepaskanmu karen aku sangat mencintaimu, aku harap kau mengerti."
"Aku berjanji akan menuruti semua keinginanmu, asal tidak untuk melepaskanmu. Aku akan bersabar untuk mendapatkan perhatian dan cintamu kepadaku, aku tidak akan pernah memaksamu agar kau merasa nyaman denganku. Untuk itu tolong jangan tinggalkan aku. Aku akan hancur jika kau meninggalkanku." Lanjutnya lalu akhirnya pergi dari sana dan masuk ke dalam kamar mandi.
Zoya hanya diam saja mendengar permohonan Zeyn kepadanya.
Entah apa yang spesial darinya sehingga Zeyn bisa menggilainya seperti ini bahkan sampai memihon kepadanya agar tidak meninggalkannya.
Padahal dia benar-benar hanya gadis biasa daknbahkan banyak perempuan yang jauh lebih cantik lagi darinya.
Dia benar-benar masih tidak mengerti dengan Zeyn yang begitu terlalu mencintainya.
Zoya akhirnya menghela nafas panjangnya dan tidak mau memikirkannya, dia merasa lelah jika harus memikirkan Zeyn yang memang sepertinya tidak mau melepaskannya.
Zoya memilih untuk pergi ke balkon kamarnya terlebih dahulu untuk mencari angin sebelum dia nantinya akan ke bawah untuk makan malam.
Zeyn sendiri yang baru keluar dari kamar mandi sempat mencari Zoya namun ternyata dia ada di balkon kamarnya, dia membiarknnya saja dan memilih untuk mengganti celana santainya.
"Aargh! Sial!" Zeyn mengumpat karena bahunya terkena sesuatu tadi apalagi Zeyn tadi terlalu banyak bergerak sehingga ada darah yang keluar dari sana.
Dia akhirnya membuka perbannya dan berencana akan mengganti perbannya dengan yang baru.
Zoya yang masuk ke dalam kamar sempat terkejut melihat bahu Zeyn yang berdarah dan sedang di bersihkan olehnya.
Dia hanya diam saja dan memilih untuk masuk ke dalam walk in closet untuk mengambil jaket karena dia sedikit kedinginan.
Saat keluar, dia melihat Zeyn yang terlihat kesusahan untuk membalut lukanya kembali dengan perban, dia bahkan juga meringis yang mungkin karena kesusahan saat membalutnya.
"Bisakah kau membantuku, Sayang." Ucap Zeyn yang melihat Zoya sudah keluar dari kamar ganti dan sedang melirik-melirik ke arahnya. Sejujurnya dia merasa lucu dan tau jika Zoya sedari tadi menoleh ke arahnya hanya saja dia pura-pura tidak tau
"Ku pikir kau bisa sendiri." Ucap Zoya.
"Aku tidak bisa."
"Bukankah kau bisa segalanya, bahkan kau bisa memaksa seorang wanita yang baru kau kenal langsung menikah denganmu." Ucap Zoya yang menyindir Zeyn yang membuat dia menghela nafas panjangnya dan akhirnya tidak memaksanya lagi.
Entah kenapa Zoya sendiri tidak tega dan akhirnya menghampirinya dan mengambil perban di tangannya.
"Seharusnya kau berada di rumah sakit saja, tidak merepotkan seperti ini." Ucao Zoya yamg lebih tepatnya mengomel.
Zeyn hanya tersenyum tipis mendengar omelan Zoya karena dia sendiri lebih sennag mendengar omelannya dari pada dia hanya diam saja.
"Jangan percaya diri, aku membantumu krena kemanusiaan," ucap Zoya karena Zeyn sedari tadi melihat ke arahnya dengan senyumannya.
Tidak peduli apa alasannya, namun dia cukup senang karena Zoya peduli dengannya.
"Bisa kau melihat mataku juga? Sepertinya ada sesuatu di sana." Ucap Zeyn yang berlagak seperti orang kemasukan sesuatu.
"Benar-benar merepotkan." Gerutunya namun dia tetap melihat mata Zeyn yang tidak ada apapun di sana.
Zeyn tersenyum karena wajah mereka sangat dekat dan jika saja dia tidak sedang terikat janji dengan Zoya, mungkin dia sudah melahap bibir mungil yang sudah terpampang di depannya.
Melihat Zeyn tersenyum terlbih tidak ada apapun di matanya. Dia mengira jika Zeyn membohonginya.
"Dasar pembohong!" Ucap Zoya namun Zeyn malah memeluk pinggangnya sehingga Zoya terjatuh di atas tubuhnya dan duduk di atas pangkuannya.
"Lepaskan aku!" Zoya jelas saja memberontak dan ingin terlepas dari Zeyn
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Sayang." Zeyn tersenyum namun berubah menjadi meringis karena Zoya mencoba melepaskannya dengan mendorong da danya dan tidak sengaja mengenai salah satu lukanya.
"A-aku tidak sengaja, kau tidak mau melepaskanku," ucap Zoya yang akhirnya Zeyn melepaskannya.
"Aku hanya memelukmu, aku tidak akan mengingkari janjiku." Ucap Zeyn yang mengatur nafasnya karena teenyata lukanya kali ini sedikit sakit dari biasanya dia pernah terkena tembakan beberapa kali sekalipun.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja." Ucap Zoya pada akhirnya yang membuat Zeyn membuka matanya dan tersenyum.
"Tidak apa, ayo kita makan." Ucap Zeyn membuang nafas panjangnya dan akhirnya berdiri dan memegang tangan Zoya untuk mengajaknya ke bawah.
Zoya hanya diam saja, dia hanya mengikuti Zeyn yang terus menggandengnya.
Saat di meja makan pun Zoya tidak membuka pembicaraan sama sekali.
Setelah pelayan menyiapkan makanan, mansion benar-benar sepi dan hanya ada mereka berdua.
Setelah makan malam, Zeyn sudah menanyakan kepada Zoya sebelum dia nantinya akan pergi ke ruangan kerjanya namun Zoya menolak apapun.
"Tidak! Jika kau ingin menanyakan apa yang aku inginkan, kau pasti tau apa yang aku inginkan." Ucap Zoya.
Zeyn hanya diam saja namun tidak menjawabnya dan memilih untuk pergi dari sana meninggalkan Zoya.
Zoya sendiri juga tidak menghiraukan Zeyn dan masuk ke dalam kamarnya.
Zeyn bukan hanya menyelesaikan pekerjaan kntornya, tapi dia juga menghubungi Luca dan Ronald yang mungkin ada informasi lain tentang siapa yang menyerangnya saat itu.
Namun sialnya mereka juga belum bisa mencari tau karena semua orang yang saat itu terlibat sudah mati akibat Zeyn meledakkan semua mobilnya.