Zeyn memanggil Raka sahabat dari Zoya agar dia mau makan karena Zeyn sudah membujuknya. namun dia tidak mau makan sama sekali.
Zeyn terpaksa meninggalkan mereka berdua dan menunggunya di luar.
"Kau terobsesi dengannya, tapi kau membiarkan istrimu berdua dengan seorang pria." Ucap Luca yang melihat Zeyn malah mengalah dan keluar dari ruangan Zoya.
"Dia tidak akan bisa macam-macam dengan istriku." Ucap Zeyn yakin dan entah percaya dengan Raka.
"Bisa saja dia diminta Zoya untuk membantunya lepas darimu." Luca semakin mengompori Zeyn.
"Dia tidak akn berani." Ucap Zeyn dan benar saja jika di dalam Zoya memohon kepada Raka untuk membantunya lepas dari Zeyn.
"Bukan aku tidak mau membantumu, tapi jika kau di luar sendirian maka kau akan semakin dalam bahaya." Ucap Raka.
"Hidupku dalam bahaya krena mengenal dan menikah dengannya, nasibku benar-benar tidak beruntung." Ucap Zoya yang menangis, entah sudah berapa kali dia menangis karena sangat ingin lepas dari Zeyn.
"Kau tidak bisa lepas darinya, itu akan semakin bahaya, bersamanya sudah tepat bagimu, Zoya." Raka meyakinkan Zoya agar tidak bersikeras untuk pergi dari Zeyn.
"Kenapa kau sekarang membela Zeyn, apa yang dia lakukan padamu? Dia mengancammu?" Zoya malah heran sendiri karena Raka membela Zeyn dibandingkan dengannya.
"Karena aku tau jika dia terbaik untukmu, hanya saja memang kehidupanmu akan sedikit keras, aku yakin kau bisa melewatinya, kau adalah wanita hebat."
"Sehebat-hebatnya wanita tidak akan ada yang mau kehidupannya selalu dalam bahaya, Raka." Ucap Zoya yang benar-benar kesal.
Raka akhirnya hanya diam saja, dia sejujurnya bingung harus meyakinkan Zoya seperti apa lagi jika Zoya sendiri bahkan tidak tau bagaimana kejadian aslinya.
Dia tau jika Zoya akan aman bersama Zeyn karena dirinya sudah tau semuanya tentang Zeyn yang ternyata menikahinya krena wajah Zoya mirip dnegan mendiang kekasihnya, hidupnya akan bahaya jika sama musuh Zeyn tau jika Zeyn sudah menikah namun dengan wajah yang mirip dengan Zoe.
Untuk itu Raka khawatir dengan Zoya jika diluaran sana tanpa pengawasan Zeyn atau anak buahnya.
Cukup lama akhirnya Raka sendiri pamit dari sana karena dia juga akan ada kelas hari ini.
Setelah Raka keluar, barulah Zeyn masuk ke dalam.
Zoya benar-benar tidak menghiraukan Zeyn karena merasa kesal dengannya dan tidak mau melepaskannya.
"Aku membawakanmu kue." Ucap Zeyn memberikan bungkusan paperbag kepada istrinya agar dia bisa memakn cemilan dan tidak bosan.
"Aku ingin pulang!" Ucap Zoya yang tidak menghiraukan Zeyn saat memberikannya kue.
"Baiklah, Aku akan membicarakan ini kepada dokter dulu." Ucap Zeyn pada akhirnya menuruti perkataan Zoya, hanya saja dia ingin meminta izin dulu kepda dokter dan memastikan jika Zoya baik-baik saja dan boleh pulang.
Zoya menghela nafas panjangnya, dia terdiam dan memikirkan bagaimana cara untuk lepas dari Zeyn.
"Percuma saja aku mengatakan ini kepada Raka, itu berarti aku harus mencari tau sendiri bagaimana cara lepas darinya." Gumam Zoya.
Dia akhirnya terdiam ketika melihat Zeyn kembali masuk ke dalam ruangannya.
"Kau di perbolehkan untuk pulang, tapi kau tidak boleh melakukan aktifitas apapun, aku akan menghubungi pihak kampus untuk—
"Tidak! Jangan lakukan apapun, aku sudah baik-baik saja dan lebih baik kau jangan terlalu menunjukkan dirimu jika kau memiliki hubungan denganku." Ucap Zoya menolak apapun yang akan dilakukan oleh Zeyn.
Zeyn akhirnya menghela nafas panjangnya dan hanya mengangguk.
Dia akan membuat Zoya perlahan merasa nyaman dengannya dan akan selalu mengalah asal bukan mengalah untuk melepaskannya.
"Kau mau apa?" Tanya Zoya karena Zeyn mendekat.
"Menggendongmu dan memakai kursi roda. jangan berjalan. Dan akan membuatmu lelah." Ucap Zeyn.
"Tidak perlu di gendong, aku bisa sendiri. Aku tidak lumpuh." Tolaknya dan memilih untuk turun dengan perlahan dan duduk di kursi roda.
Hari ini juga Zoya benar-benar pulang, dia hanya diam saja sepanjang perjalanannya meskipun alat pembatas di mobil tertutup.
"Kau ingin membeli sesuatu sebelum pulang?" Tanya Zeyn.
"Tidak!" Jawabnya dengan singkat.
Zeyn akhirnya tidak menanggapi lagi sehingga mereka benar-benar hanya terdiam di dalam mobil.
Namun saat hendak sampai, ponsel Zeyn berbunyi dan langaung di angkat olehnya.
"Ke sini saja dan tunggu aku di ruanganku." Ucap Zeyn tanpa mengatakan apapun lagi dan langsung mematikan sambungan telefonnya.
Saat sampai, Zoya lagi-lagi tidak mau di gendong oleh Zeyn dan memilih untuk keluar sendiri dari mobil.
Namuj dia tidak menolah saat Zeyn mendorong kursi rodanya hingga ke kamar.
"Aku ada urusan sebentar, jika memerlukan apapun. Hubungi aku atau pelayan di mansion." Ucap Zeyn saat sampai di kamarnya.
Zoya hanya diam saja namun lalu membuang mukanya saat Zeyn mendekat dan ingin menciumnya.
Meskipun hanya pipi, namun entah kenapa dia masih malas dengannya.
Meskipun Zoya menghindar, Zeyn tetap mencium pipinya bahkan juga mencium keningnya.
Dia tidak peduli saat wajah Zoya kesal dengannya. Berbeda dengan Zeyn yang tersenyum miring kepadanya.
Zeyn akhirnya meninggalkan Zoya dan masuk ke dalam ruangan kerjanya di mana di sana ternyata sudah ada Luca dan Ronald.
"Ini sedikit aneh, orang yang mengikutimu bukanlah kelompok mafia dari negara ini. Bahkan kita tidak mengenalnya dan tidak pernah memiliki masalah dengannya." Ucap Luca yang membuat Zeyn mengerutkan dahinya.
"Siapa?" Tanyanya penasaran.
"Kami belum tau pasti namanya," ucap Luca.
"Kalau begitu cari tau! Aku akan menghancurkannya karena mereka sudah berani menyerangku saat bersama Zoya." Ucap Zeyn tidak peduli siapapun.
Luca dan Ronald jelas saja mengerti dan sebelum Zeyn mengatakan itu pun dia sudah meminta anak buahnya mencari tau.
"Mungkin saja dia bekerja sama dengan Oscar! Itu yang kami curigai." Ucap Ronald memberitahu.
Mereka sangat tau jika Oscar juga membenci Zeyn sedari dulu, untuk itu mungkin dia mencari bantuan kelompok mafia lain untuk menghancurkan Zeyn dengan menganggu mereka.
Mereka bukan hanya mengobrol soal yang menyerangnya kemaren, tapi mereka juga mengobrol soal pekerjaan dan beberapa bisnis Zeyn di dunia gelapnya.
Zeyn baru kembali ke kamarnya saat siang hari, dia senang karena pelayan mengatakan jika Zoya mau makan siang dan kini sedang beristirahat.
Zeyn tersenyum dan mendekati Zoya.
"Aku yakin kau akan jatuh cinta denganku, Azoya!" Ucap Zeyn lalu menciuk lebih lama kening Zoya.
Setelahnya barulah dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya.
Dia melihat tubuhnya di cermin di mana di d**a-nya masih ada nama Zoe di sana, entah Zoya menyadarinya atau tidak, namun sepertinya dia harus menggantinya secepatnya dengan nama Zoya.
"Aku mencintaimu, Zoe! Jika aku menggantinya bukan berarti aku melupakanmu, kau selalu bersamaku di dalam diri Zoya meskipun dia tidak sama denganmu,"