Bab 18

1061 Kata
"Zeyn!" Zoya semakin panik ketika Zeyn mengambil pistolnya dan bahkan mengeluarkan kepalanya untuk membidik orang yang mengikutinya. Zoya menutup telinganya karena terdengar suara tembakan yang keras bersautan, apalagi Zeyn kini tidak fokus dengan mobilnya. Zoya benar-benar ketakutan karena mengalami hal seperti ini untuk pertama kalinya di semasa hidupnya. Dia selalu jauh dari kekerasan selama ini. Untuk itu bahkan tubuhnya bergetar melakui semua ini sekarang. "Zeyn!" Zoya selalu berteriak karena benar-benar takut. Zeyn sendiri yang melihatnya benar-benar marah karena ada yang menganggunya saat bersama Zoya dan membuat dia ketakutan seperti ini. Zeyn sudah menekan tombol darurat yang ada di mobilnya, itu akan langsung terhubung dengan para anak buahnya dan akan menyusulnya namun dia belum kelihatan. "Tolong hentikan, aku benar-benar takut." Zoya menangis dan benar-benar tidak mau dalam situasi seperti ini. Zeyn mengepalkan tangannya dan akhirnya mengambil pistol peledaknya. Zeyn kembali mengeluarkan kepalanya dan membidik dua mobil yang mengikutinya dan Boom!! Suara ledakan semakin kencang dan bahkan mobil Zeyn hampir ikut terpental, dia memegangi tangan Zoya yang tetap saja mobilnya menabrak sesuatu dan akhirnya membuat kepalanya berbentur dasbor mobilnya. Begitu pun dengan Zeyn, bahkan lebih parah dia karena beberapa tangannya terkena pecahan kaca namun dia tidak menghiraukannya dan memilih keluar dan ingin membangungkan Zoya. "Zoya." Zeyn benar-benar panik dan khawatir. Dia mengeluarkan Zoya dari dalam mobil dan beruntungnya bertepatan dengan anak buahnya yang sudah datang bersama Luca. "Ke rumah sakit, cepat!" Teriak Zeyn yang merasakan jantungnya berdetak dengan cepat, dia benar-benar takut jika akan kehilangan wanitanya untuk yang kedua kalinya. "Kau tidak boleh meninggalkanku," Zeyn benar-benar frustasi, semua yang ada di mobil bahkan terkena amukan oleh Zeyn dan mereka hanya bisa diam saja dan menerimanya. Setelah sampai ke rumah sakit, Zoya langsung mendapatkan pertolongan. Zeyn benar-benar khawatir dan bahkan mengepalkan tangannya. "Cari tau siapa dalangnya. Aku ingin dia ada markas seceptnya." Ucap Zeyn kepada Luca yang di mengerti olehnya. "Dia hanya shock! Aku yakin jika Zoya baik-baik saja." Ucap Luca menenangkan sahabatnya karena tau jika memang Zeyn benar-benar khawatir dengan Zoya. Tak lama dokter keluar yang membuat Zeyn langsung menghampirinya. "Istri anda baik-baik saja, Tuan. Dia hanya shock. Tidak ada luka serius. Hanya memang ada beberapa luka memar di bagian tubuhnya." Ucap dokter yang membuat Zeyn benar-benar lega. "Tuan, sebaiknya anda juga di rawat karena tangan dan bahu anda mengeluarkan darah." Ucap dokter yang melihat baju Zeyn dan banyak noda merah. "Aku ingin menemui istriku." Ucap Zeyn yang akhirnya dokter tidak berbicara lagi. Zeyn masuk ke dalam dan terlihat Zoya yang masih tertidur, Dia memegang tangan Zoya dan mencium keningnya yang membuat Zoya akhirnya terganggu. Zoya membuka matanya dengan pelan dan terkejut melihat Zeyn di depannya. Dia bahkan langaung terduduk krena mengingat bagaimana kejadian tadi. "Kau aman sekarang, maafkan aku." Ucap Zeyn yang membuat Zoya mendorongnya. "Aku tidak bisa hidup denganmu, aku takut dengan sutuasi seperti tadi, aku tidak bisa menginbangi kehidupanmu. Aku benar-benar tidak bisa." Ucap Zoya menangis "Tolong lepasakan aku, aku ingin kehidupan normalku, aku baik-baik saja saat tidak mengenalmu, kehidupanmu terlalu keras untukku." Dia bahkan memohon kepada Zeyn untuk di lepaskan karena dia benar-benar trauma dengan kejadian tadi. "Kau sudah menjadi istriku, Sayang." Ucap Zeyn yang menatap Zoya dengan sendu, Nyatanya dia malah tidak tega dengan Zoya yang seperti ini namun dia juga tidak bisa melepaskan Zoya begitu saja. "Aku tidak pernah mau menjadi istrimu, kau memaksaku. Kau adalah pria b******k! Aku benar-benar membencimu. Lepaskan aku dari kehidupanmu." Ucap Zoya yang memukuli tubuh Zeyn namun dia menghentikannya krena melihat Zeyn meringis dan lebih banyak darah segar yang mengalir di sana. "Dengar, Zoya! Aku berjanji tidak akan ada yang bisa menyentuhmu, aku akan menjagamu bahkan dnegan nyawaku, aku akan melindungimu." "Kau bukan tuhan yang bisa selalu menjagaku, aku tidak mau hidup dengan ketakutan dan kekerasan seperti ini. Lepaskan aku, aku mohon. Zeyn." Ucap Zoya benar-benar memohon dan menangis di depan Zeyn. Zeyn semakin mengepalkan tangannya. "Aku tidak bisa melepaskanmu, Zoya! Aku tidak akan bisa melepaskanmu apapun yang terjadi. Kau milikku dan akan selamanya menjadi milikku," "Aku sudah mengatakan sebelumnya jika kau hanya bisa lepas jika aku mati." "Kau harus bisa mengimbangi kehidupanku, aku tau jika ini sangat shock bagimu karena kau belum terbiasa dengan semua ini, tapi seiring berjalannya waktu, bahkan kau akan menerimaku sebagai suamimu." Lanjutnya lalu akhirnya berbalik dan pergi dari sana. Zoya semakin menangis karena dia sepertinya selamanya akan terjebak dengan pria seperti Zeyn. Sedangkan Zeyn semakin meringis karena lengan dan bahunya yang terluka dan belum di obati. "Tolong panggilkan dokter untuk mengobati lukaku di dalam." Ucap Zeyn kepada salah satu anak buahnya dan di mengerti olehnya Zeyn masuk lagi ke dalam ruangan Zoya dan melihat jika dia sudah berhenti menangis namun berbaring. Melihat Zeyn masuk, Zoya membelakanginya dan di biarkan olehnya. Zeyn memilih untuk duduk di sofa dan menunggu dokter datang mengobatinya. "Permisi, Tuan." Ucap seorang perswat yang masuk dan meletakkan obat-obatan yang akan di perlukan. "Pergi dan panggilkan dokter pria." Ucap Zeyn yang tidak mau di obati oleh perempuan. Perawat itu pun tidak bernai membantah dan langsung pergi dari sana. Meskipun Zoya tidak melihatnya, namun dia mendengar apa yang terjadi di ruangannya. Tak lama dokter masuk ke dalam dan Zeyn langsung membuka bajunya. "Tuan, ini tidak bisa, anda harus di bawa ke ruang rawat." Dokter bahkan terkejut krena ternyata lumayan banyak serihan kaca yang mengenai tubuh Zeyn. "Jangan banyak bicara dan bawa saja alatmu ke sini, aku tidak akan meninggalkan istriku." Ucap Zeyn yang akhirnya dokter hanya bisa mengangguk. Dia akhirnya mengambili serpihan kaca itu dan membuat Zeyn cukup meringis karena dokter mengambilnya serta mengobok-obok lukanya karena serpihan kacanya ada yang sudah masuk ke dalam tubuhnya. Zoya yang penasaran akhirnya membalikkan tubuhnya. Dia sejujurnya terkejut krena melihat luka Zeyn. Dia tadi memukulinya dan jelas saja dia pasti kesakitan karenanya. Cukup lama dokter melakukan perawatan kepda Zeyn dan bahkan menjahit lukanya tanpa bius apapun. "Sudah selesai, Tuan. Sebaiknya anda istirahat, karena darah anda keluar lumayan banyak." Ucap dokter yang di angguki daja oleh Zeyn. Dia memejamkan matanya sebentar dan menahan nafasnya karena rasanya cukup sakit namun dia sudah terbiasa dengan pengobatan seperti ini. Zoya sendiri entah kenapa sedari tadi melihat ke arah Zeyn yang terlihat memejamkan matanya. Namun matanya tiba-tiba terfokus dengan tato di lengan Zeyn dan terkejut jika gambar tatonya adalah gambar dirinya. Entah sejak kapan tato itu ada di sana, namun dia baru menyadarinya. Zoya merasakan jika Zeyn sepertinya memang sangat terobsesi dengannya dan itu akan sukit jika bukan dirinya yang pergi meninggalkannya dengan terpaksa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN